Disdag Kota Semarang Tunggu Instruksi Pemprov Terkait Pembelian Minyak Goreng Curah Menggunakan Aplikasi PeduliLindungi

TUNJUKKAN: Pedagang Pasar Johar Iin Setyani (32) memegang minyak goreng yang stoknya terbatas di lapaknya, Rabu (29/6). (LU'LUIL MAKNUN /JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Terkait polemik pembelian minyak goreng curah menggunakan aplikasi PeduliLindungi, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Semarang masih menunggu surat edaran dan instruksi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah. Sampai saat ini (29/06) Disdag Kota Semarang masih belum menerima perintah tersebut.

Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan dan Stabilisasi Harga Disdag Kota Semarang, Sugeng Dilianto memaparkan, sistem penerapan transaksi jual-beli minyak goreng di pasar tradisional Kota Semarang masih menggunakan sistem menyertakan KTP seperti sebelumnya. Pihaknya juga belum melakukan sosialisasi terkait penerapan aplikasi PeduliLindungi.

Baca juga:  Kota Atlas Jadi Tuan Rumah Perayaan Harganas

“Tetap menunggu pelaksanaannya dari provinsi dulu. Belum bisa bilang minggu depan diterapkan. Kalau sudah aturan ya mau tidak mau, suka tidak suka diterapkan. Kita kan di birokrasi ikut petunjuk dari pimpinan,” paparnya.

Sugeng mengungkapkan, pihaknya memastikan bahwa stok dan distribusi minyak goreng curah aman di Kota Semarang. Ia mengatakan, tidak ada supplier yang terhambat di pasar maupun di supermarket. Dengan ini, masyarakat diimbau tidak perlu khawatir apabila stok dan distribusi minyak goreng di Semarang bakal terganggu.

“Kota Semarang ketersediaannya masih aman, tidak ada gejolak harga minyak goreng curah, harganya sudah menurun Rp 14.000 perkilo gram untuk pedagang serta Rp 15.000 untuk pembeli,” imbuhnya.

Baca juga:  Solusi untuk Vita: Disdikbud Jateng Carikan Sekolah dan Upayakan Beasiswa

Sementara itu, Iin Setyani (32) salah satu pedagang di Pasar Johar mengaku telah mengetahui adanya wacana pemberlakuan kebijakan menggunakan aplikasi PeduliLindungi. Dirinya, merasa keberatan dengan persyaratan harus scan PeduliLindungi untuk membeli minyak goreng curah.

“Malah ribet, bikin bingung. Yang jual kan juga sepuh-sepuh (sudah pada tua). Gak semua bisa pakai, kalau boleh jujur kasihan,” akunya. (luk/gih)