Keefektifan Pembelajaran Soal Cerita melalui Problem Posing

Oleh: Kunaeni, S.Pd.
SDN 01 Pegundan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang

PEMBELAJARAN pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan peserta didik ke dalam proses belajar, sehingga dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang di harapkan. Pembelajaran soal cerita merupakan bagian dari pokok pembahasan matematika pada pendidikan dasar.  Dalam konteks matematika, soal cerita adalah soal yang diuraikan dengan serangkaian kalimat dalam bentuk cerita berdasarkan pengalaman sehari-sehari yang berkaitan dengan konsep-konsep matematika. Untuk menyelesaikan soal matematika tentu membutuhkan daya nalar yang kritis, kreatif dan tinggi karena  dalam soal cerita tersebut selalu berkaitan dengan ide-ide konsep yang abstrak.

Selamat Idulfitri 2024

Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita di kelas 5, SD Negeri 01 Pegundan. Salah satunya adalah  karena kurang efektifnya metode pembelajaran yang digunakan oleh guru. Proses pembelajaran selama ini pada umumnya berpusat pada guru sehinggga terkesan guru adalah satu-satunya sumber pengetahuan utama yang serba tahu, peserta didik cukup menerima penjelasan yang disampaikan oleh guru dengan metode ceramah. Anak cenderung kurang aktif dalam proses kegiatan pembelajaran. Untuk itu diperlukan suatu metode yang mampu menciptakan iklim pembelajaran yang lebih bermakna khususnya pada materi  soal cerita ini.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran soal cerita adalah metode pembelajaran Problem Posing. Metode ini dikembangkan oleh Lyn D English. Problem Posing terdiri dari 2 kata, yaitu “Problem” artinya masalah dan “Posing” artinya mengajukan atau membuat , berarti Problem Posing adalah mengajukan atau membuat masalah atau soal.

Adapun langkah-langkah pembelajaran Problem Posing adalah: a). guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dalam pembelajaran, b). siswa dibagi dalam beberapa kelompok, c). setiap kelompok merangkum materi yang berbeda yang masih dalam satu konsep pembelajaran, d). hasil rangkuman di tulis dilembar kerja siswa dalam bentuk peta konsep, e). masing-masing kelompok membuat pertanyaan dari hasil rangkaian f). setiap kelompok mendiskusikan dan memecahkan pertanyaan yang dibuat setiap anggota kelompoknya, g). setiap kelompok menulis dua pertanyaan pada lembar kerja, h). setiap kelompok mempresentasikan rangkuman jawaban pertanyaan yang sulit dan membacakan pertanyaan yang belum terjawab, i)kelompok lain sebagai audien memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang belum terjawab, j). selama diskusi kelompok guru bertindak sebagai moderator, fasilitator, pengarah dan pembimbing terhadap berlangsungnya pembelajaran, k). guru memberikan jawaban terhadap soal yang belum terselesaikan dan membantu siswa dalam menarik  kesimpulan mulai dari yang sederhana sampai ke hal-hal yang kompleks.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Pembelajaran dengan metode Problem Posing tidak dapat di lepaskan dari kegiatan memecahkan masalah atau soal, karena memecahkan masalah adalah salah satu unsur utama dalam pembelajaran matematika.  Dalam Problem Posing siswa diberi kegiatan  untuk membuat atau membentuk soal kemudian menyelesaikan  soal tersebut sesuai dengan konsep atau materi yang telah dipelajari.

Metode pembelajaran Problem Posing memiliki beberapa kelebihan yaitu: 1)membantu siswa dalam mengembangkan keyakinan dan kesukaanya terhadap matematika, b). sarana komunikasi  siswa baik secara reseptif maupun ekspresif, c). merangsang peningkatan kemampuan penalaran kemampuan matematik siswa, d).mengarahkan siswa pada sikap kritis dan kreatif,e). mempertajam pemahaman soal, f). meningkatkan kemampuan penalaran matematika,sebab pada pembelajaran tercipta suasana pembelajaran yang lebih kondusif, aktifitas dan kerjasama yang semakin meningkat, g). meningkatkan minat dan motivasi siswa  dalam belajar matematika serta lebih mudah  memahami  soal karena soal tersebut di buat sendiri. (*)