Pembelajaran Tematik Asyik dengan Problem Solving

Oleh: Tri Utami, S.Pd
Guru SD Negeri Kuncir 1, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak

PEMBELAJARAN tematik merupakan model pembelajaran terpadu yang menggabungkan suatu konsep pada beberapa materi, pelajaran atau bidang studi menjadi satu tema pembahasan. Sehingga terjadi hubungan antara pengetahuan, keterampilan dan nilai yang memungkinkan siswa aktif menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik. Begitupun yang terjadi di kelas 5 sekolah dasar yang penulis ampu. Namun kondisi yang terjadi adalah rendahnya motivasi siswa selama pembelajaran berlangsung, masih banyak siswa yang kurang memperhatikan dan pembelajaran masih berpusat pada guru. Sehingga berpengaruh pada capaian pembelajaran yang diperoleh. Maka, guru harus segera memilih model pembelajaran yang mendorong siswa untuk aktif yakni model problem solving melalui pendekatan saintifik.

Selamat Idulfitri 2024

Model problem solving atau model pemecahan masalah merupakan suatu cara mengajar yang dapat merangsang seseorang untuk menganalisa dan melakukan sintesa dalam kesatuan struktur atau situasi dimana masalah itu ada atas inisiatif mereka sendiri. Di sini masalah diartikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin dan belum dikenal cara penyelesainnya. Maka problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian.

Berdasarkan pendapat ahli, dapat disimpulkan langkah yang harus diperhatikan oleh guru dalam memberikan pembelajaran problem solving yakni sebagai berikut: 1) Merumuskan masalah dengan fokus pada kemampuan mengetahui dan merumuskan suatu masalah. 2) Menelaah masalah dengan fokus pada kemampuan menganalisis dan merinci masalah yang diteliti dari berbagai sudut. 3) Menghimpun dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis dengan fokus pada memperagakan data dalam bentuk bagan, gambar, dan lain-lain sebagai bahan pembuktian hipotesis. 4) Pembuktian hipotesis dengan fokus pada kecakapan menelaah dan membahas data yang telah terkumpul. Serta 5) Menentukan pilihan dimana harus bisa menentukan pemecahan masalah dan keputusan dengan fokus pada kecakapan membuat alternatif pemecahan, memilih alternatif pemecahan dan keterampilan mengambil keputusan.

Adapun kelebihan model problem solving yaitu melatih siswa untuk mendesain penemuan, berpikir dan bertindak kreatif, memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis, mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan, menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan, merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat, bisa membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja. Sedangkan kekurangan model problem solving yaitu memerlukan banyak waktu, melibatkan banyak orang, bisa  mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru, serta bisa diterapkan secara langsung yaitu untuk memecahkan masalah.

Penerapan model problem solving dengan kemampuan saintifik sesuai standar dapat mendorong kemampuan siswa untuk menghasilkan karya kontekstual baik individu maupun kelompok, karena pada kurikulum 2013 menekankan pendekatan ilmiah atau saintifik tematik terpadu. Tematik dalam suatu muatan pelajaran akan mengupayakan agar guru mampu menerapkan pembelajaran berbasis penyingkapan atau penelitian yang dapat memecahkan sebuah masalah, mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan penilaian hasil pembelajaran, pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Sehingga siswa dapat dengan kompeten menerapkan pendekatan saintifik untuk menjawab persoalan dari suatu materi pembelajaran. Seperti yang terjadi pada pembelajaran tematik di Kelas 5 SD Negeri Kuncir 1 Kec. Wonosalam Kab. Demak, melalui penerapan model pembelajaran problem solving dengan pendekatan saintifik didapatkan fakta bahwa aktivitas guru dan siswa meningkat, siswa juga lebih senang dan asik dalam mengikuti pembelajaran serta mendorong siswa untuk aktif terlibat selama proses pembelajaran. Dengan meningkatnya hasil aktivitas guru dan siswa maka berpengaruh terhadap hasil belajar. Hal ini dapat dibuktikan dari perolehan nilai siswa yang mengalami peningkatan. (*)