DLH : Potensi Limbah B3 di Jateng Harus Dikelola

PAPARAN: Kepala Seksi Pencemaran dan Pengendalian Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah Marnang Haryoto, Direktur Eksekutif WALHI Jateng Fahmi Bastian, General Manager PPLI Yurnalisdel dan Marketing Division Head KIW Agus Santosa, saat diskusi di di Kawasan Industri Wijayakusuma, Semarang, Kamis (30/6). (DICKRI TIFANI BADI/ JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), mengungkapkan sebanyak tujuh kawasan industri yang ada di Jateng memiliki limbah bahan berbahaya beracun (B3) cukup besar setiap tahunnya dari beberapa sektor.

Di antaranya sektor manufaktur memiliki 616 ribu ton per tahun, agroindustri sebanyak 55 ribu ton, pertambangan energy 959 ribu ton, limbah jasa 354 ribu ton, limbah jasa per tahun sebanyak 354 ribu ton, serta limbah fasyankes sebanyak 1.000 ton. Artinya dari beberapa sektor, pengolahan limbah di Jateng cukup besar.

Selamat Idulfitri 2024

Hal itu diungkapkan oleh  Kepala Seksi Pencemaran dan Pengendalian Dinas Lingkungan Provinsi Jateng, Marnang Haryanto di acara ngobrol peduli lingkungan (Ngopling) yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Peduli Lingkungan Indonesia (AJPLI), di Kawasan Industri Wijayakusuma, Semarang, Kamis (30/6).

Selain sektor limbah B3 itu, jelas dia, dari segi jumlah usaha kegiatan sektor manufaktur sebanyak 254 usaha, agroindustri memiliki 156 usaha, lalu pertambangan energi yakni 56 usaha, prasarana sebanyak 504 usaha. Sementara sektor lainnya, seperti jasa sebanyak 71 usaha, serta fasyankes yaitu memiliki 77 usaha. Keseluruhan dari itu berjumlah sekitar 1.118 usaha.

Baca juga:  BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem di Semarang, BNPB Lakukan Rekayasa Cuaca

Sehingga, Marnang menyebut potensi limbah B3 dari beberapa sektor yang ada di Jateng itu harus dikelola limbahnya. “Itulah potensi yang harus dikelola limbah B3 nya,” ucapnya kepada awak media.

Karena itu, pihaknya mencatat, hingga sekarang ada 5 perusahaan pengolahan limbah B3 di Jateng. Tak hanya itu,  kian kesini makin banyak perusahaan masuk ke wilayah Jateng, yaitu seperti Brebes,  Jepara, Boyolali, dan daerah lainnya.

Sementara itu, kasus pandemi Covid-19 yang sedang menurun membuat perusahaan yang dulu berhenti saat ini beroperasi kembali. Hal ini akan menambah jumlah limbah.

DLH juga menyoroti pada tahun ini, yakni ada sekitar 63 perusahaan diawasi dan 4 perusahaan sedang ditindaklanjuti pemberian sanksi administrasi mengenai pengelolaan limbahnya.

Berangkat dari permasalahan itu, Perusahaan pengolah limbah, PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) akan memanfaatkan peluang untuk membuka bisnis di Jateng memalui pembukaan kantor representatif di KIW Semarang.

Baca juga:  DPU Kota Semarang Gencarkan Penambalan di Sejumlah Titik Jalan

Pasalnya, perusahaan tersebut menilai potensi pengolahan limbah di Jateng, terutama di Kota Semarang terlihat cukup besar.

“Kami masuk ke sini itu untuk peningkatkan market share di Jawa Tengah. Dengan adanya kantor perwakilan di Semarang ini diharapkan bisa double peningkatannya,” jelas General Manager PPLI, Yurnalisdel.

Namun demikian, kata dia, pengolahan limbah B3 sebayak 30 perusahaan di Jateng  ditangani oleh PPLI. Menurutnya, dari jumlah perusahaan itu pengolahannya dilakukan di Cileungsi.

“Selama ini limbah dari sini kita bawa ke Cileungsi, kedepan bisa juga kita olah di Lamongan,” ungkapnya.

Informasi yang dihimpun Joglo Jateng, limbah itu dihasilkan dari berbagai kegiatan, antara lain rumah tangga atau perorangan dan industri.  Tetapi limbah industri jarang menghasilkan sisa kegiatannya berupa B3.

Di sisi lain, berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor 6 Tahun 2021 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, pengategorian limbah B3 dilihat dari sifat, konsentrasi kandungan bahan, serta jumlahnya.

Baca juga:  Antisipasi Kekerasan Seksual, Upgris Buka Seleksi Satgas PPKS

Yurnalisdel mengatakan, dalam penanganan limbah industri yang masuk tergolong kategori B3 masih memerlukan pemahaman bersama dari berbagai pihak.

“Penanganan ini memang memerlukan pemahaman yang sama antara penghasil limbah, pelaku industri, dan regulator. Dari sisi industri, perusahaan pengolah limbah harus memiliki komitmen yang kuat dalam melakukan pengolahan secara benar dan tidak mencemari lingkungan,” jelasnya.

Untuk itu, ia mendorong kepada pemerintah agar memperketat  pengawasan  dan enforcement kepada industri pengolah limbah.  “Tujuannya agar industri benar-benar mengelola limbahnya secara baik,” ucapnya.

Sebagai informasi, PPLI merupakan perusahaan pengolahan limbah B3 telah berdiri sejak 28 tahun lalu, di Indonesia. Sementara sebanyak 95 persen itu sahamnya dipegang oleh Dowa Eco System Co.Ltd asal Jepang. Adanya itu memberikan pelayanan satu atap mulai dari pengangkutan, pengolahan, dan penimbunan. (dik/gih)