Menentukan Ide Pokok Suatu Bacaan dengan Cooperative Script

Oleh: Sri Endaryatininbgsih, S.Pd.
Guru SDN 09 Wanarejan, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang

MATA pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran Bahasa dan Sastra yang menyatakan bahwa belajar bahasa Indonesia adalah belajar menggunakan bahasa yang baik dan benar. Selain itu, pembelajaran bahasa adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran keterampilan. Selain pembelajaran keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis), pembelajaran bahasa dan sastra juga menghargai sastra dan mampu mengapresiasikan suatu karya sastra. Pada intinya, pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia diarahkan kepada usaha pengembangan keterampilan berbahasa siswa (mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis) dan pengapresiasian karya sastra dan penciptaan karya sastra, secara umum. Dalam sebuah karya sastra, baik fiksi maupun nonfiksi berupa dongeng cerpen atau bacaan lain terkadang siswa mengalami kesulitan dalam menentukan ide pokok atau gagasan utamanya, apalagi jika siswa tersebut mendapat tugas secara individu. Oleh karena itu, pada pembelajaran menentukan ide sebuah bacaan, guru memilih model pembelajaran kooperatif sebagai solusi agar siswa mudah dalam menuntaskan materi tersebut. Pembelajaran kooperatif yang dipilih oleh guru adalah Cooperative Script.

Selamat Idulfitri 2024

Dansereau (Fuadah, 2010: 18) menyatakan “Pembelajaran Cooperative Script adalah suatu cara bekerjasama dalam membuat naskah tulisan tangan dengan berpasangan dan bergantian secara lisan dalam mengintisarikan materi-materi yang dipelajari. Sedangkan Slavin (Fuadah, 2010: 19) menyatakan bahwa Cooperative Script adalah model belajar di mana siswa bekerja berpasangan dan bergantian peran sebagai pembaca atau pendengar dalam mengintisarikan bagian-bagian yang dipelajari. Berdasarkan dua pendapat yang telah dipaparkan, Cooperative Script merupakan model belajar yang membutuhkan kerja sama antara dua orang, yang mana yang satu sebagai pembicara dan yang satunya sebagai pendengar.

Dalam pembelajaran menentukan ide pokok suatu bacaan, guru membuat langkah-langkah pembelajaran dengan model Coopertaive Script sebagai berikut: 1) guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok berpasangan yang terdiri dari dua orang, 2) guru membagikan teks bacaan kepada setiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan, 3) dengan bimbingan guru, siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa  yang berperan sebagai pendengar, 4) pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya,  sementara pendengar menyimak/mengoreksi/melengkapi ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya, 5) bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. kemudian lakukan seperti kegiatan tersebut, 6) dengan bantuan guru, siswa merumuskan  simpulan ditulis sebagai catatan.

Pada penerapannya, siswa bersama dengan pasangannya memecahkan masalah secara bersama-sama. Siswa dituntut untuk beraktivitas sendiri, siswa menemukan sendiri suatu konsep atau mampu memecahkan masalah sendiri. Berdasarkan pengertian tersebut, dalam pembelajaran Cooperative Script terjadi suatu kesepakatan untuk berkolaborasi memecahkan suatu masalah dengan mandiri.

Cooperative Script baik digunakan dalam pembelajaran untuk menumbuhkan ide-ide atau gagasan baru, daya berfikir kritis serta mengembangkan jiwa keberanian dalam menyampaikan hal-hal baru yang diyakininya benar karena model ini memiliki kelebihan: melatih pendengaran, ketelitian/kecermatan, setiap siswa memiliki peran, dan siswa berlatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan. Namun demikian, cooperative script juga memiliki kelemahan di dalam pelaksanaannya, antara lain: hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu, dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang tersebut). Akan tetapi, untuk memaksimalkan kelebihan model ini, guru benar-benar memilih secara selektif pada muatan pelajaran apa model ini digunakan. (*)