Mengoptimalkan Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Melalui Peer Guidance (Pembimbing Sebaya)

Oleh: Dra. Sri Sudarmiyati, M.Pd
Guru Bimbingan dan Konseling, SMA Negeri 12 Semarang

PESERTA didik SMA berada pada usia remaja. Pada usia ini, mereka rentan menghadapi masalah. Problem atau masalah yang dihadapai peserta didik di usia remaja komplek sekali. Dari masalah pribadi, sosial, belajar sampai masalah pilihan karier. Disaat remaja menghadapi masalah, biasanya mereka sulit untuk terbuka atau bercerita dengan guru maupun orang tua. Tetapi mereka cenderung memilih bercerita dan terbuka dengan teman sebayanya. Meraka merasa nyaman dan lebih bebas untuk curhat maupun sharing. Bercerita dengan teman sebaya dianggap memiliki atau bisa memberikan saran yang menurut mereka sangat baik untuk diikuti dan teman sebaya dianggap lebih banyak mengerti.

Selamat Idulfitri 2024

Metode Peer Guidance (pembimbing sebaya) ini sangat tepat dan efektif sekali dilaksanakan. Peer Guidance (pembimbing sebaya) adalah layanan yang dilakukan oleh peserta didik terhadap peserta didik lainnya. Tentu bermaanfaat bagi peserta didik yang sedang menghadapi masalah karena dapat terbantu sesama teman sebaya mereka dan bermanfaat untuk peserta didik yang menjadi anggota Peer Guidance. Selain dapat membantu teman yang bermasalah juga dapat mengembangkan  potensi peserta didik secara optimal.

Seperti yang dijelaskan dalam Model Layanan Bimbingan dan Konseling Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (2021), bimbingan teman sebaya adalah pelayanan bimbingan dan konseling yang diberikan oleh peserta didik tertentu terhadap peserta didik lainnya dalam merealisasikan tugas-tugas perkembangan serta mengentaskan masalah-masalah yang dihadapi baik bidang pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Dijelaskan juga dalam Model Layanan Bimbingan dan Konseling Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (2021), tujuan dari bimbingan teman sebaya adalah mengembangkan potensi peserta didik secara optimal, mengembangkan hubungan sosial, keakraban, kepedulian, dan kebersamaan teman sebaya, memotivasi peserta didik dalam mengentaskan permasalahan yang dihadapi,dan mengoptimalkan pelayanan bimbingan konseling di sekolah.

Penulis sebagai Guru BK di SMA Negeri 12 Semarang menerapkan metode layanan Peer Guidance (pembimbing sebaya). Guru BK mementori dan melatih peserta didik yang menjadi anggota Peer Guidance (pembimbing sebaya) dengan membekali teknik-teknik/ketrampilan dasar Peer Guidance (pembimbing sebaya) supaya di didalam membantu teman sebagai pembimbing sebaya, paham apa yang harus dilakukan dan terarah.

Teknik-teknik/ketrampilan dasar Peer Guidance yaitu seperti. Attending adalah ketrampilan anggota Peer Guidance dapat menerima teman yang bermasalah dengan sepenuh hati dan teman yang bermasalah merasa nyaman. Berempati, adalah ketrampilan untuk memahami pribadi orang lain sebaik dia memahami dirinya sendiri, baik kondisi perasaan maupun pikiran orang lain. Ketrampilan bertanya, ketrampilan ini dapat membantu teman untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup. Perilaku Genuin, tingkah laku yang menyiratkan kesejatian atau keaslian (genuin), terbuka, tulus, menerima teman. Konfrontasi adalah ketrampilan untuk mengemukakan kembali dua pesan atau lebih yang saling bertentangan yang disampaikan teman. Ketrampilan merangkum dimana dapat mengungkapkan kembali pokok-pokok pikiran dan perasaan yang diungkapkan teman dan ketrampilan pemecahan masalah.

Dengan ketrampilan tersebut, Peer Guidance dapat menerima teman-teman satu kelas maupun lain kelas untuk dibantu dalam memecahkan masalah mereka, tentu saja sesuai kemampuan. Apabila masalah teman terlalu berat dan mereka perlu pendampingan dari guru bimbingan dan konseling, maka tugas Peer Guidance (pembimbing sebaya) dapat menyampaikan ke guru bimbingan konseling untuk ditindaklanjuti. Pada saat anggota Peer Guidance mendapat klien harus selalu komunikasi dengan guru pembimbing agar selalu terpantau dan dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada teman-teman sebayanya.

Seperti yang dijelaskan oleh Sunaryo, dkk (2007), bahwa peserta didik yang menjadi pembimbing sebaya berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu peserta didik lain dalam memecahkan masalah yang dihadapi, baik akademik maupun non akademik. Selain itu, pembimbing sebaya juga berperan sebagai mediator yang membantu guru Bimbingan dan Konseling dengan cara memberikan informasi tentang kondisi atau permasalahan peserta didik yang perlu mendapat layanan bantuan bimbingan

Peserta didik yang menjadi anggota Peer Guidance (pembimbing sebaya) adalah peserta didik yang betul-betul dapat konsisten,mempunyai pribadi yang tulus iklas dan peduli membantu teman,dapat menjadi sahabat dan pendengar yang baik.Oleh karena itu perlu adanya perekrutan peserta didik yang betul-betul sukarela tanpa paksaan bersedia menjadi anggota Peer Guidance (pembimbing sebaya). Pembimbing sebaya ini terlaksana juga karena adanya keyakinan bahwa peserta didik sebagai remaja memiliki hak untuk berpartisipasi dalam mengembangkan program untuk melayanai peserta didik yang lain.

Peer Guidance (pembimbing sebaya) di SMA Negeri 12 Semarang sangat membantu pelaksanaan program Bimbingan Konseling di sekolah karena dapat memberikan warna pada perkembangan  individu, juga dapat meningkatkan rasa percaya diri bagi peserta didik,baik yang mempunyai masalah/yang dibantu maupun peserta didik yang menjadi Peer Guidance (pembimbing sebaya).Hal ini sesuai yang disampaikan Sunarti (2010),dengan menciptakan kemitraan yang efektif antara guru Bimbingan dan Konseling dengan Pembimbing Sebaya merupakan sesuatu yang kritis bagi kesuksesan program Bimbingan dan Konseling di sekolah. (*)