Metode Tikrar Tingkatkan Hafalan Ayat-ayat Al-Qur’an

Oleh: Musyaropah, S.Pd.I
Guru SD Negeri 04 Klareyan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang

GURU merupakan komponen penting yang menentukan kualitas pendidikan. Untuk itu, perlu mendapat perhatian yang lebih serius demi tercapainya tujuan sekolah yang diharapkan. Menurut Ngalim Purwanto (2000: 138), guru adalah semua orang yang pernah memberikan suatu ilmu atau kepandaian tertentu kepada seseorang atau kelompok orang. Maka untuk menjadi seorang guru harus memiliki keahlian khusus, pengetahuan, kemampuan dan di tuntut untuk dapat melaksanakan peran-perannya secara profesional yang dalam tugasnya guru tidak hanya mengajar, melatih, tetapi juga mendidik.Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui bimbingan pengajaran dan latihan agar dapat memajukan kesempurnaan hidup selaras dengan dunianya.

Selamat Idulfitri 2024

Pada dasarnya suatu lembaga pendidikan akan mengalami suatu bentuk perubahan baik dalam tatanan administrasi pendidikan maupun dalam sumber daya manusia yang meningkat. Kesemuanya tidak lepas dari peran sekolah yang di dalamnya dipimpin oleh kepala sekolah, dan yang bertanggungjawab adalah guru Pendidikan Agama Islam (PAI), yang menjadi bagian dari suatu komponen sekolah sebagai satu kesatuan kelembagaan (Wahdjo Sumidjo, 2002: 84).

Namun, penulis melihat hal ini banyak siswa pada kelas lima yang kesulitan untuk menghafal ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan materi Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD Negeri 04 Klareyan Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang. Hal itu terlihat ketika penulis sekaligus selaku guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Kemudian menyuruh siswa untuk hafalan ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan materi PAI. Dari jumlah 25 siswa yang bisa menghafal hanya berjumlah 10 siswa dan yang lainya hanya bisa membaca tetapi sulit untuk menghafalnya.

Dari sinilah penulis tertarik untuk meningkatkan hafalan siswa melalui metode tikrar yaitu metode hafalan yang cara membacanya secara istiqomah mendengarkan rekaman, metode gerakan dan isyarat, metode membaca ayat-ayat yang akan dihafal, dengan merekam suara guru dan anak, metode memperdengarkan rekaman bacaan ayat Al-Quran dari guru dan anak. Kemudian guru bisa melihat dan menilai sejauh mana siswa sudah dinyatakan benar-benar hafal dan benar dalam melafalkannya.

Penulis menyadari bahwa metode tersebut juga sedikit sulit, namun tergantung bagaimana guru bisa mengarahkan agar siswa menjadi bersemangat untuk melakukannya. Bagaimana cara hafalan ayat-ayat yang berkaitan dengan materi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang lebih efektif. Dengan cara inilah penulis untuk memfasilitasi siswa dalam melakukan proses pembelajaran seperti halnya dalam menghafal ayat-ayat Al-Qur’an. Maka melalui metode tikrar inilah hafalan ayat yang berkaitan dengan materi Pendidikan Agama Islam (PAI). Ini menjadi mudah dilakukan oleh guru terhadap siswa. Sehingga hasilnya siswa kelas lima di SD Negeri 04 Klareyan Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang dari jumlah 25 siswa yang sulit menghafal ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan materi PAI menjadi lebih meningkat.

Dengan demikian metode tikrar ini sangatlah tepat. Karena siswa dalam proses belajar mengajar (KBM) menjadi lebih aktif dan kreatif. Karena guru Pendidikan Agama Islam (PAI) memahami bahwa belajar di usia dini itu sangat penting, maka sebelum hal ini menjadi terlambat, berbagai metode yang dapat membantu siswa dalam proses pembelajaran hingga menjadi memudahkan siswa bisa diterapkan.

Oleh karena itu, guru harus berupaya belajar terus agar menemukan metode pembelajaran yang tepat untuk diterapkan terhadap siswa. Sehingga siswa yang sebelumnya pada saat proses belajar mengajar hanya fokus pada guru saja. Maka dengan metode tikrar ini siswa lebih aktif dan kreatif saat proses belajar mengajar sedang berlangsung. (*)