PBSI Universitas Muria Kudus Pentaskan Naskah Adaptasi Novel Cantik itu Luka

TEATER: Salah satu adegan dalam pertunjukan teater naskah adaptasi novel Cantik itu Luka yang digelar mahasiswa PBSI UMK, bertempat di Gedung Auditorium UMK, beberapa waktu lalu. (DOK. PRIBADI / JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muria Kudus (UMK) menampilkan pentas teater Cantik itu Luka. Pertunjukan tersebut digelar dalam rangka menuntaskan tugas mata kuliah pertunjukan seni, sekaligus Dies Natalis UMK ke-42.

Pentas ini, juga tergabung dalam serangkaian acara parade pentas teater PBSI UMK angkatan 2020. Dengan sengaja memilih novel tersebut, lantaran belum ada yang mengalihmediakan sebagai naskah teater atau film.

Selamat Idulfitri 2024

Sutradara Naskah Cantik itu Luka, Muhammad Zaeni atau yang kerap disapa Jessy Segitiga mengungkapkan, keinginannya mendekatkan mahasiswa PBSI. Dengan karya sastra yang satu rumpun dengan program studinya.

Baca juga:  Tingkatkan Solidaritas Sosial dengan Bersinar

“Kami hanya ingin mendekatkan mahasiswa pada teks-teks sastra. Karena mereka masih awam dalam dunia teater. Menurut saya, ini merupakan hal yang mendasar,” ucapnya.

Menurut pria yang juga sebagai Koordinator KBPW ini, novel tersebut cukup berat untuk diangkat menjadi naskah teater. Maka dari itu, Jessy hanya mengambil bagian awal novel dan memadukannya dengan kreasi-kreasi baru yang disesuaikan konteks masa kini.

“Banyak hal tabu di dalam novel ini, seperti pemerkosaan, pelecehan dan kekerasan. Jika saya masukkan semua tentunya tidak sesuai dan sangat panjang durasinya. Jadi, saya munculkan adegan-adegan kreativitas, asalkan esensinya dapat,” tuturnya.

Baca juga:  Distapang Kota Semarang Jamin Stok Bapok Aman hingga Lebaran

Meski demikian, dinilai penggarapan novel Cantik itu Luka cukup berhasil ditangkap oleh penonton. Melalui pentas ini, dirinya ingin menekankan bahwa sastra dapat menjadi jalan tengah yang bisa diterapkan dalam berbagai disiplin seni.

“Ini memang tabu, tetapi patut untuk diterapkan. Sastra bisa menjadi jalan tengah dari yang semula tabu menjadi tidak tabu

Pentas yang berlangsung hampir dua jam ini, diharapkan tidak hanya berhenti pada saat pertunjukan saja. Melainkan, juga melibatkan penonton agar ikut memberikan feedback ataupun kurasi. Sehingga, pertunjukkan seni bisa dihidupkan kembali.

Baca juga:  Stok Daging di Bantul Ditangani Komunitas

“Kami berharap, penonton nantinya juga akan membuat kreasi. Sehingga, pertunjukan tidak hanya selesai pada malam itu saja,” pungkasnya. (sam/fat)