Tingkatkan Kemampuan Berfikir Kritis IPA melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Carousel Feedback

Oleh: Yuhani, S.Pd.SD
Guru SDN 01 Ketapang, Kec. Ulujami Pemalang

SALAH satu muatan pelajaran yang erat kaitannya dengan pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yaitu muatan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Berbagai teknologi yang dinikmati sekarang sebagian besar diciptakan melalui penerapan konsep dan prinsip IPA yang diwujudkan secara teknis dalam berbagai bentuk alat dan produk teknologi. IPA pada umumnya memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu pendidikan dan menjawab tantangan di era digitalisasi ini. Salah satu kunci kesuksesan dalam peningkatan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan dunia sehingga dapat memasuki era teknologi informasi adalah muatan pelajaran IPA.

Selamat Idulfitri 2024

Ilmu Pengetahuan (IPA) secara alamiah memiliki konsep pemikiran serta pemahaman yang terintegrasi dalam pengembangan kemampuan berpikir sistematis dan analitis. Oleh karena itu, pendidikan IPA harus ditanamkan secara kuat sejak mulai di Sekolah Dasar. Hal tersebut didukung oleh pendapat Sudana dkk., (2010) yaitu, IPA diperlukan di Sekolah Dasar karena dapat memberikan sumbangan untuk mencapai tujuan pendidikan di Sekolah Dasar, yakni antara lain: dapat mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk menjalani hidup dalam masyarakat. Menurut Jayanti (2017), pendidikan IPA sebagai salah satu aspek pendidikan memiliki peran penting dalampeningkatan mutu pendidikan, khususnya di dalam menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu manusia yang mampu berpikir kritis, kreatif, mampu dalam mengambil keputusan, dan mampu memecahkan masalah serta mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan untuk kesejahteraan umat manusia.

Selain itu, menurut Rahayuni (dalam Adiwiguna, 2019) menyatakan bahwa pembelajaran IPA memiliki karakteristik yang sangat kompleks karena memerlukan berpikir kritis dalam melakukan analisis terhadap sebuah permasalahan. Salah satu indikator untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengembangan kemampuan peserta didik dalam pembelajaran IPA adalah hasil belajar IPA. Hasil belajar IPA adalah segenap perubahan tingkah laku yang terjadi pada peserta didik sebagai hasil mengikuti proses pembelajaran IPA. Perubahan tersebut dapat berupa: penguasaan terhadap produk IPA, proses IPA, dan sikap ilmiah. Oleh sebab itu, peningkatan hasil belajar IPA secara berkesinambungan sudah menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan pihak-pihak terkait yang terlibat dalam bidang pendidikan.

Untuk mengetahui permasalahan rendahnya hasil belajar IPA, maka dilakukan observasi melalui wawancara dengan guru maupun dengan siswa di masing-masing sekolah. Berdasarkan observasi dan wawancara tersebut, terungkap beberapa permasalahan sebagai penyebab rendahnya hasil belajar IPA siswa, yaitu: siswa kurang antusias atau bersemangat dalam mengikuti pembelajaran, guru masih menggunakan model pembelajaran konvensional, siswa kurang dibiasakan bekerja secara berkelompok, motivasi belajar siswa masih rendah, dan siswa menganggap bahwa IPA merupakan muatan pelajaran yang membosankan atau pembelajaran yang hanya sekedar menghafal, dan pembelajaran yang tidak menantang. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa guru hanya memperkenalkan muatan pelajaran IPA sebatas dimensi produk saja. Selain itu, guru juga kurang memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber/media belajar sehingga proses pembelajaran hanya berlangsung di dalam kelas saja.

Terdapat berbagai macam model pembelajaran kooperatif dengan berbagai cara dan media yang relevan. Proses pembelajaran model carousel feedback setiap kelompok menyelesaikan pekerjaan mereka, kemudian berotasi ke kelompok lain untuk mengamati, mendiskusikan, mengkritisi, dan memberikan umpan balik atau tanggapan atas pekerjaan kelompok tersebut. Rotasi dilakukan setiap kelompok secara bergiliran sampai kembali ke tempat semula. Model pembelajaran kooperatif tipe carousel feedback mampu memfasilitasi proses scaffolding melalui tutor sebaya serta pemberian umpan balik yang melatih kemampuan berpikir siswa agar lebih bermakna melalui kegiatan diskusi dan berpikir kritis memiliki proses yang lebih tinggi, seperti: menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, menarik kesimpulan, dan refleksi yang memungkinkan individu untuk membuat penilaian yang masuk akal, baik di ruang kelas dan di kehidupan sehari-hari.

Pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe carousel feedback, secara otomatis akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran IPA. Jika kemampuan berpikir kritis siswa meningkat dalam pembelajaran maka akan berpengaruh positif terhadap hasil belajar IPA siswa. Oleh karena itu, aktivitas yang memacu keterampilan berpikir kritis maka pembelajaran di kelas dapat lebih ditingkatkan dengan pemberian tugas atau permasalahan yang relevan. Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang mengikuti pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe carousel feedback dengan siswa yang mengikuti pembelajaran model konvensional pada siswa sekolah dasar. (*)