Efektivitas Make a Match dalam Pembelajaran Sejarah

Oleh: Dahlia, S.Pd. SD
Guru SD Negeri 02 Gondang, Kec. Taman, Kab. Pemalang

PEMBELAJARAN sejarah merupakan interaksi yang ada dalam proses belajar tentang keadaan masa lalu, untuk kepentingan masa yang akan datang. Sejarah merupakan materi pelajaran yang menanamkan pengetahuan dan nilai-nilai mengenai proses perubahan dan perkembangan masyarakat yang ada di Indonesia maupun dunia, dari masa lampau hingga sekarang. Pembelajaran sejarah merupakan proses pembelajaran tentang kehidupan yang ada di masa lalu. Menurut Widja (Sutrisno, 2011:50), pembelajaran sejarah adalah perpaduan antara aktivitas belajar dan mengajar yang di dalamnya mempelajari tentang peristiwa masa lampau yang erat kaitannya dengan masa kini. Secara sederhana, pembelajaran sejarah dapat disimpulkan sebagai proses belajar yang ada dalam sebuah lingkungan yang mempelajari kejadian-kejadian masa lampau, yang dipelajari di masa kini sebagai pedoman untuk melangkah ke depan.

Selamat Idulfitri 2024

Pada jenjang pendidikan dasar, pembelajaran sejarah yang merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Sosial, yang pada proses belajarnya kurang menggugah minat siswa dalam mempelajari materi di dalamnya. Hal ini dimungkinkan karena sejarah mempelajari peristiwa di masa lampau, jauh sebelum mereka lahir. Selain itu, siswa diharuskan mengingat dan menghafal nama tokoh dan waktu-waktu peristiwa dalam sejarah. Hal ini mendorong guru kelas V SD Negeri 02 Gondang, Taman, Pemalang, harus memilih model pembelajaran yang sesuai untuk mengurangi kejenuhan siswa dan make a match dipilih sebagai alternatif.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Model pembelajaran kooperatif tipe make a match bertujuan untuk memperluas wawasan serta kecermatan siswa dalam menyelami suatu konsep. Sebelum permainan dimulai, guru menyampaikan tujuan pembelajaran, motivasi belajar, pokok bahasan, mengorganisasikan siswa, menyampaikan langkah-langkah permainan, membimbing siswa, dan mengevaluasi hasil serta memberikan penghargaan. Adapun langkah-langkah pembelajaran dalam bentuk permainan make a match adalah sebagai berikut; guru membagi siswa menjadi tiga kelompok yang terdiri dari kelompok pemegang kartu pertanyaan, kelompok pemegang kartu jawaban, dan kelompok penilai, lalu guru mengajak siswa ke tempat permainan di luar kelas untuk diberi penjelasan aturan permainan. Guru membagikan kartu soal dan kartu jawaban kepada masing-masing kelompok secara acak, sementara kelompok penilai memegang stopwatch. Untuk menandai permainan dimulai, guru meniup peluit. Sebelum permainan dimulai, guru memberikan penjelasan peraturan permainan, yaitu batas waktu permainan adalah 5 menit. Siswa yang menemukan pasangannya setelah 5 menit akan diberi hukuman. Hukuman disepakati oleh seluruh siswa. Selanjutnya kelompok pemegang kartu pertanyaan dan kartu jawaban mencari pasangan masing-masing. Jika telah menemukan pasangannya, siswa memisahkan diri. Setelah waktu yang ditentukan telah berakhir, guru mengumpulkan siswa dengan membentuk lingkaran, kemudian kelompok penilai menanyakan pasangan siswa secara urut. Di akhir permainan, guru dan siswa menyimpulkan tentang kegiatan yang telah dilakukan.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Efektivitas model pembelajaran make a match dapat dilihat dari kelebihannya, yaitu siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Teknik ini bisa digunakan dalam semua muatan pelajaran dan bisa digunakan untuk semua usia. Suasana kegembiraan akan tumbuh dalam proses pembelajaran, kerja sama siswa akan terwujud dengan dinamis, dan munculnya dinamika gotong royong seluruh siswa yang merata.

Ada beberapa kelemahan dalam penerapan make a match. Namun, sejauh ini guru bisa meminimalkan kelemahan dengan mengoptimalkan kelebihan yang dimiliki. Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe make a match efektif digunakan pada semua muatan pelajaran, terutama muatan pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, khususnya materi sejarah. (*)