Pembelajaran Menceritakan Kembali Teks Cerita Fabel Lebih Eefektif Dengan Menggunakan Model Role Playing dan Examples – Non Examples

Oleh: Erna Purwanti, S.Pd
Guru Bahasa Indonesia, SMP Negeri 7 Pemalang

KURIKULUM dalam dunia pendidikan memiliki peranan yang sangat strategis dan menentukan dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan. Kurikulum juga mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan yang berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah. Kurikulum menuntut penguasaan kemampuan dalam berbahasa melalui pembelajaran yang bertahap dari tahap memahami sampai mencipta. Kemampuan berbahasa dalam kurikulum 2013 revisi dimulai dengan pengetahuan tentang teks, jenis, struktur, kaidah, konteks hingga keterampilan menyajikan suatu teks secara lisan maupun tulis.

Selamat Idulfitri 2024

Mata pelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 revisi, kompetensi dasar menyimak, berbicara, membaca dan menulis terintegrasi dengan kompetensi dasar yang terorganisasikan dalam pendekatan pembelajaran siswa aktif. Keterampilan menceritakan kembali isi cerita fabel menjadi salah satu kompetensi dasar dalam pendekatan pembelajaran siswa aktif. Keterampilan menceritakan kembali sangat penting dalam membangun keaktifan dan kepahaman terhadap sesuatu yang telah dibaca maupun didengar. Terampil bercerita membutuhkan kebiasaan yang dapat mendorong seseorang untuk lebih siap baik mental maupun fisik. Bercerita dengan berkomunikasi baik dapat meningkatkan rasa percaya diri, emosional, kebiasaan, dan kemauan dalam mencapai sesuatu. Kemauan erat kaitannya dengan tindakan yang merupakan  usaha seseorang untuk mencapai tujuan tertentu, terutama dalam proses pembelajaran yaitu pembelajaran menceritakan kembali isi cerita fabel.

Teks cerita fabel adalah teks yang ada dalam pembelajaran bahasa Indonesia kelas VII jenjang SMP/MTs Kurikulum 2013 revisi. Teks cerita fabel merupakan sebuah teks yang mengajarkan banyak hal kepada pembacanya diantaranya nilai moral dan sifat yang merupakan pencerminan akhlak atau budi pekerti. Teks cerita fabel berisi cerita hasil adaptasi dari dunia nyata diperankan oleh tokoh binatang yang sarat dengan nilai-nilai moral. Cerita fabel mengandung pesan moral yang bertujuan memperlihatkan kebenaran moral dengan bantuan cerita yang diperankan oleh binatang. Kemampuan praktik menceritakan kembali isi cerita fabel secara lisan yang rendah juga dikarenakan kompetensi dasar menceritakan kembali isi cerita fabel belum diajarkan secara menyeluruh dan mendalam.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Peserta didik yang hanya diajarkan mengenai teori cara bercerita, kemungkinan akan kesulitan ketika diminta guru untuk praktik menceritakan kembali sebuah cerita. Kemungkinan peserta didik akan merasa bingung dalam mengutarakan isi sebuah cerita. Dalam hal tersebut peserta didik masih sulit dalam memahami dan berkonsentrasi pada pokok isi cerita. Selain itu, pembelajaran menceritakan kembali isi cerita fabel kurang menarik perhatian peserta didik dan belum efektif. Guru belum mengoptimalkan penggunaan model pembelajaran yang dapat membangkitkan semangat peserta didik dalam menceritakan kembali isi cerita fabel. Guru belum mencoba model baru dan belum menerapkan model yang tepat dalam pembelajaran menceritakan kembali isi cerita fabel.

Ada beberapa model yang bisa digunakan guru untuk melatih peserta didik agar terampil berbicara dalam menceritakan kembali isi cerita fable. Diantaranya yaitu dengan menerapkan model role playing dan examples non-exemples. Pembelajaran berbasis role playing merupakan pembelajaran bermain peran atau pemeranan dari sebuah tokoh cerita yang telah dibaca atau didengar. Dalam rangkaian belajar, masing-masing anggota kelompok berkesempatan untuk melakonkan skenario sebuah cerita dan dipentaskan di depan kelompok lain. Pembelajaran examples non-exemples merupakan pembelajaran yang didasarkan atas contoh. Contoh dapat diambil dari kasus/gambar yang relevan dengan kompetensi dasar. Tujuannya memberi kesempatan kepada kelompok untuk menganalisis contoh gambar kemudian membagikan hasil dan informasi yang diperoleh dengan bercerita kembali.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Model role playing dan examples non-examples merupakan bentuk pembelajaran kooperatif. Keduanya menghendaki pembelajaran dalam kelompok- kelompok untuk belajar bersama, melengkapi antar peserta didik. Selain menggunakan model yang tepat dalam pembelajaran menceritakan kembali isi cerita fabel untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam bercerita juga memerlukan media pembelajaran yang tepat dan menarik. Hartono (2015:10) menjelaskan bahwa, salah satu kompetensi dasar pendukung yang harus dimiliki guru adalah guru mampu memilih dan menggunakan media sebagai sumber belajar. Media yang dapat membangkitkan semangat belajar peserta didik dalam pembelajaran di sekolah. Penggunaan media yang tepat akan membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan serta isi pelajaran pada saat itu.

Media yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menceritakan kembali isi cerita fabel adalah media buku Ceribel (cerita fabel) dan boneka tangan. Buku Ceribel menjadi salah satu media pembelajaran dalam memahami isi cerita. Sebuah buku sederhana yang mudah dicerna dan dipahami baik pokok cerita maupun isi cerita. Selain itu, media boneka tangan juga menjadi salah satu media pembelajaran yang menarik dalam menyajikan isi cerita yang telah dipahami. Dengan begitu peranan media buku Ceribel dan boneka tangan sebagai media pembelajaran akan mampu menciptakan minat belajar siswa. Untuk itu, dalam meningkatkan keterampilan menceritakan kembali isi cerita fabel perlu diterapkannya model-model pembelajaran dan media yang membangun peserta didik untuk lebih aktif, sehingga dalam proses pembelajaran akan menjadi lebih menarik dan efektif.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Tujuan bermain peran adalah strategi pembelajaran agar siswa dengan kebebasan sendiri dapat menggambarkan suatu kejadian. Melalui role play, siswa dapat menstimulasi kemampuan untuk memahami perasaannya sendiri dan perasaan orang lain. Kegiatan role play dapat menumbuhkan kreativitas, dan meningkatkan aktivitas keterampilan berbicara siswa (Sumantri 2015:95). tujuan bermain peran, sesuai dengan jenis belajar adalah (1) belajar dengan berbuat, siswa melakukan peranan tertentu sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya; (2) belajar melalui peniruan (imitasi), para siswa pengamat drama menyatakan diri dengan pelaku (aktor) dan tingkah laku mereka; (3) belajar melalui balikan, para pengamat menanggapi perilaku para pemain/pemegang peran yang telah ditampilkan; dan (4) belajar melalui pengkajian, penilaian dan pengulangan.

Dengan demikian role playing bertujuan untuk mengatasi hambatan siswa khususnya dalam bercerita kembali. Karena dalam pembelajaran seringkali ada beberapa anak yang dominan berbicara sehingga sering ditunjuk temannya untuk bercerita. Sebaliknya ada anak yang kurang percaya diri, bergantung pada temannya yang lebih dominan berbicara karena beranggapan bahwa dirinya tidak mampu bercerita dengan baik. Dalam situasi seperti ini, terampil berbicara perlu diterapkan pada setiap anak untuk melatih keberanian dan mengasah ingatan anak sehingga tidak bergantung dengan teman lain yang dominan berbicara. (*)