Dongkrak Hasil Belajar dengan TTW

Oleh: David Indrianto, S.Pd
Guru SD Negeri Bango 1, Kec. Demak, Kab. Demak

SECARA umum, pengertian hasil belajar yaitu perubahan perilaku dan kemampuan secara keseluruhan yang dimiliki oleh siswa setelah melalui proses belajar. Hasil belajar dapat berupa kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor yang disebabkan oleh pengalaman. Setelah melalui suatu proses belajar, maka siswa memperoleh hasil yang mempunyai peranan sangat penting dalam proses pembelajaran. Hasil belajar biasanya digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa dapat memahami, serta mengerti materi yang telah disampaikan.

Selamat Idulfitri 2024

Keadaan di kelas 4 SD Negeri Bango 1, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak pada hasil pembelajaran tentang sifat-sifat bunyi masih rendah. Sebagian besar siswa mendapatkan nilai di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM). Hal ini tentu saja membuat prihatin dan menjadi perhatian khusus bagi saya sebagai guru. Sehingga penulis berpikir untuk menciptakan suatu inovasi pembelajaran yang dapat mendongkrak hasil belajar siswa, salah satunya adalah dengan menerapkan metode pembelajaran Think Talk Write (TTW).

Metode pembelajaran TTW dikembangkan oleh Huinker dan Laughlin yang dibangun melalui berpikir, berbicara dan menulis. Porter (1992:179) menyatakan bahwa TTW adalah metode pembelajaran di mana siswa diberikan kesempatan untuk memulai belajar dengan memahami permasalahan terlebih dahulu, kemudian terlibat secara aktif dalam diskusi kelompok, dan akhirnya menuliskan dengan bahasa sendiri hasil belajar yang diperolehnya. Dalam pembelajaran TTW, siswa akan belajar dituntut membangun pemikiran, merefleksi, dan mengorganisasi ide, kemudian menguji ide tersebut sebelum siswa diharapkan untuk menulis. Alur model pembelajaran TTW dimulai dari keterlibatan siswa dalam berpikir atau berdialog reflektif dengan dirinya sendiri, yang selanjutnya berbicara dan berbagi ide dengan temannya sebelum siswa menulis. Melalui penerapan metode pembelajaran ini, diharapkan siswa dapat meningkatkan hasil belajar.

Menurut Huda (2015:228), langkah pembelajaran dalam menggunakan metode pembelajaran TTW yaitu guru membagikan teks bacaan berupa lembar aktivitas siswa yang memuat permasalahan dan petunjuk pelaksanaan. Siswa membaca teks dan membuat catatan hasil bacaan secara individual (think). Siswa berinteraksi dengan teman satu grup untuk membahas isi catatan (talk). Guru berperan sebagai mediator lingkungan belajar. Siswa mengonstruksi sendiri pengetahuan yang didapatkan dari hasil diskusi (write). Guru meminta perwakilan dari salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Guru bersama siswa membuat kesimpulan dari permasalahan yang diberikan.

Manfaat dari metode pembelajaran TTW antara lain membantu siswa dalam mengonstruksi pengetahuannya sendiri. Siswa dapat mengomunikasikan atau mendiskusikan pemikirannya dengan temannya. Melatih siswa untuk menuliskan hasil diskusinya ke bentuk tulisan secara sistematis dan membantu siswa untuk mengkomunikasikan ide-idenya dalam bentuk tulisan. Kelebihan metode pembelajaran TTW yaitu mengembangkan pemecahan yang bermakna dalam rangka memahami materi ajar. Dengan memberikan soal, dapat mengembangkan ketrampilan berpikir kritis dan kreatif siswa. Dengan berinteraksi dan berdiskusi dengan kelompok, akan melibatkan siswa secara aktif untuk belajar. Membiasakan siswa berpikir dan berkomunikasi dengan teman, guru, dan bahkan dengan diri mereka sendiri. Sedangkan untuk kekurangannya, yaitu ketika siswa bekerja dalam kelompok itu mudah kehilangan kemampuan dan kepercayaan, karena didominasi siswa yang mampu. Guru harus menyiapkan semua media dengan matang agar dalam menerapkan metode TTW tidak mengalami kesulitan. Karena metode pembelajaran TTW adalah metode pembelajaran baru di sekolah sehingga siswa belum terbiasa.

Secara keseluruhan, penerapan metode pembelajaran TTW pada pembelajaran IPA di Kelas 4 SD Negeri Bango 1, Kec. Demak, Kab. Demak dengan materi sifat-sifat bunyi dirasa sangat efektif dan menyenangkan. Melalui penerapan metode TTW, didapatkan fakta bahwa aktivitas guru dan aktivitas siswa meningkat. Siswa juga lebih senang dan asyik dalam mengikuti pembelajaran IPA, serta mendorong siswa untuk aktif terlibat selama proses pembelajaran. Dengan meningkatnya aktivitas guru dan siswa maka berpengaruh terhadap hasil belajar IPA khususnya materi sifat-sifat bunyi. (*)