PMK Merebak, Penjualan Kambing Menurun

  • Bagikan
PANTAU: Seorang pembeli saat melihat hewan kurban yang akan di belinya di Jalan gajah Mada, Batang, Rabu (6/7). (HUMAS / JOGLO JATENG)

BATANG, Joglo Jateng – Merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak, ternyata berpengaruh pada penjualan kambing yang menurun. Hal itu terjadi di sentra penjualan kambing di sepanjang Jalan Gajah Mada, Bogoran, Batang, serta masih terdapat puluhan kambing yang tersedia untuk dijual.

Salah satu pedagang kambing kurban, Heri mengatakan, penjualan tahun ini sedikit mengalami penurunan dibanding tahun lalu. Omsetnya pun turun sampai 70 persen. Tahun ini ia hanya menyiapkan 18 ekor kambing, sedangkan tahun lalu sampai 70 ekor.

“Dari 18 ekor baru laku terjual 5 ekor dan mayoritas pembelinya warga Batang dan sekitarnya,” terangnya di Jalan Gajah Mada, Bogoran, Kabupaten Batang, Rabu (6/7).

Ia menjelaskan, meski di masa PMK, namun harga jual rata-rata mengalami kenaikan hingga Rp500 ribu. “Yang jantan ukuran besar sekarang harga jualnya Rp4 juta, dan ukuran sedang Rp3 juta,” jelasnya.

Lanjutnya, meski PMK sedang mengancam hewan ternak, namun ia bersama belasan pedagang hewan kurban Bogoran lainnya, tetap optimistis bahwa aka nada yang membutuhkan kambing untuk ibadah kurban.

Baca juga:  Jumlah Pemotongan Hewan Dibatasi

“Kami sudah tahu ada PMK, yang penting semuanya berhati-hati, jangan asal memilih hewan kurban. Beli di peternak atau kandang, yang sudah pasti tidak terpapar PMK,” tegasnya.

Ia menuturkan, perawatan untuk kambing tak serepot sapi. Cukup diberi makan dan minum tanpa jamu.

Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dislutkanak Batang, Syam Manohara menjelaskan, agar warga yang ingin berkurban membeli langsung di kandang atau peternak. Agar hewan yang dibeli dapat dipastikan sehat. “Ya sebenarnya pedagang boleh buka lapak di pinggir jalan, tapi khusus untuk kambing,” pungkasnya.

Ia menjelaskan, pihaknya tetap akan melakukan pemantauan ke kandang penyedia hewan kurban pada H-3 Idul Adha. Demi kebaikan semua pihak baik pembeli maupun penjual hewan kurban.

“Walaupun akan dibeli konsumen lokal, perlu juga menyertakan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) untuk memberi kepastian konsumen. Bahwa ternak yang akan dibeli benar-benar terbebas dari PMK. Bagi pedagang yang membuka lapak, segera lapor ke Dislutkannak, jadi hewan yang dijual itu pasti sehat,” imbuhnya. (hms/all)

  • Bagikan