RME, Alternatif Belajar Volume Kubus dan Balok

FORNAS: Tampak atlet AKTI Kudus yang mampu mendapatkan medali dalam ajang Fornas VI 2021, di GOR Jakabaring Palembang, belum lama ini. (ISTIMEWA / JOGLO JATENG)

Oleh: Faridha Inayati, S.Pd
Guru Kelas SD Negeri Sambung 1, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak

AHMAD Susanto (2014:185) menyatakan bahwa Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan berargumentasi, memberikan kontribusi dalam penyelesaian masalah sehari-hari dan dalam dunia kerja. Serta memberikan dukungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu materi matematika di kelas 5 yaitu terkait volume kubus dan balok.

Selamat Idulfitri 2024

Berdasarkan pengamatan di kelas 5 SD Negeri Sambung 1 Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, siswa mendapat kesulitan dalam memahami materi bangun ruang tentang volume kubus dan balok. Nilai rata-rata klasikal masih rendah. Pembelajaran yang dilakukan hanya menggunakan metode ceramah tanya jawab dan penugasan. Pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher centered) dan belum berpusat pada siswa (student centered). Sehingga dalam proses pembelajaran siswa terlihat kurang begitu aktif dan tidak banyak terlibat langsung dalam kegiatan. Selain itu kemampuan siswa dalam pemahaman dan penguasaan konsep bangun ruang masih sangat kurang. Dari kondisi tersebut maka saya sebagai guru mencari solusi dengan menggunakan metode pembelajaran inovatif yaitu realistic mathematic education (RME).

Metode realistic mathematic education (RME) merupakan situasi ketika siswa diberi kesempatan untuk menemukan kembali ide-ide matematika. Berdasarkan situasi realistik, siswa didorong untuk untuk mengontruksi sendiri masalah realistik, karena masalah yang dikontruksi oleh siswa akan menarik siswa lain untuk memecahkannya. Proses yang berhubungan dalam berpikir dan pemecahan masalah ini dapat meningkatkan hasil mereka dalam memecahkan masalah.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Pendidikan matematika realistis atau Realistic Mathematics Education (RME) adalah sebuah pendekatan belajar matematika yang menempatkan permasalahan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga mempermudah siswa menerima materi dan memberikan pengalaman langsung dengan pengalaman mereka sendiri. Masalah-masalah realistis digunakan sebagai sumber munculnya konsep-konsep atau pengetahuan matematika formal, dimana siswa diajak bagaimana cara berpikir menyelesaikan masalah, mencari masalah, dan mengorganisasi pokok persoalan.

Menurut Hobri (2009:170-172S), langkah-langkah penerapan pembelajaran RME adalah sebagai berikut: Memahami masalah kontekstual, guru memberikan masalah kontekstual dan siswa memahami permasalahan tersebut. Menjelaskan masalah kontekstual, guru menjelaskan situasi dan kondisi soal dengan memberikan petunjuk/saran seperlunya (terbatas) terhadap bagian-bagian tertentu yang belum dipahami siswa. Penjelasan ini hanya sampai siswa mengerti maksud soal. Menyelesaikan masalah kontekstual, siswa secara individu menyelesaikan masalah kontekstual dengan cara mereka sendiri. Guru memotivasi siswa untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereka dengan memberikan pertanyaan/petunjuk/saran. Membandingkan dan mendiskusikan jawaban, guru menyediakan waktu dan kesempatan pada siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban dari soal secara berkelompok. Untuk selanjutnya dibandingkan dan didiskusikan pada diskusi kelas. Dan menyimpulkan dari diskusi, guru mengarahkan siswa menarik kesimpulan suatu prosedur atau konsep, dengan guru bertindak sebagai pembimbing.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Kelebihan pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) antara lain sebagai berikut: Karena siswa membangun sendiri pengetahuannya, maka siswa tidak mudah lupa dengan pengetahuannya. Suasana dalam proses pembelajaran menyenangkan karena menggunakan realitas kehidupan, sehingga siswa tidak cepat bosan untuk belajar matematika. Siswa merasa dihargai dan semakin terbuka karena setiap jawaban siswa ada nilainya. Memupuk kerja sama dalam kelompok. Melatih keberanian siswa karena harus menjelaskan jawabannya. Melatih siswa untuk terbiasa berpikir dan mengemukakan pendapat. Pendidikan berbudi pekerti, misalnya: saling kerja sama dan menghormati teman yang sedang berbicara. Sedangkan kekurangan pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) antara lain sebagai berikut: Karena sudah terbiasa diberi informasi terlebih dahulu maka siswa masih kesulitan menemukan sendiri jawabannya. Membutuhkan waktu yang lama bagi siswa yang memiliki kemampuan yang rendah. Siswa yang pandai kadang-kadang tidak sabar untuk menanti temannya yang belum selesai. Membutuhkan alat peraga yang sesuai dengan situasi pembelajaran saat itu. Belum ada pedoman penilaian, sehingga guru merasa kesulitan dalam evaluasi atau memberi nilai.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Dengan menggunakan dengan metode realistic mathematic education (RME), pembelajaran terlihat lebih aktif dan interaktif. Pembelajaran matematika dengan menggunakn dengan metode realistic mathematic education (RME) juga dapat meningkatkan semangat serta motivasi belajar siswa. Siswa terlibat langsung dalam pembelajaran sehingga siswa cepat mengerti pada konsep materi bangun ruang. Seperti yang telah dilaksanakan di kelas 5 SD Negeri Sambung 1 Kec. Gajah Kab. Demak. Dapat dilihat pula pada peningkatan hasil belajar secara klasikal yang semakin meningkat. Ternyata RME menjadi alternatif pembelajaran asyik matematika pada materi volume kubus dan balok. (*)