Efektivitas Kepemimpinan Kepala Sekolah melalui MAS

Oleh: Dra. Eny Sulistiyawati, M.Pd
Kepala SMA Negeri 1 Geyer, Kabupaten Grobogan

KEPALA Satuan Pendidikan mempunyai beban kerja sesuai Permendikbud 15 tahun 2018 pasal 9 terkait pelaksanaan tugas manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan supervisi kepada guru dan tenaga kependidikan, maka setiap kepala sekolah berupaya meningkatkan profesionalitasnya dalam melaksanakan tugasnya pada pembinaan karier, peningkatan kompetensi, maupun penjaminan mutu. (Kemdikbud 2018). Dalam rangka memberikan layanan penjaminan mutu, maka tuntutan kinerja yang baik dan teladan dari guru dan tenaga kependidikan (GTK) menjadi sebuah harapan untuk mewujudkan keberhasilan program sekolah.

Selamat Idulfitri 2024

Fakta di SMA Negeri 1 Geyer, Kab. Grobogan ada kemudahan dalam akses komunikasi, informasi, mode, dan tata pergaulan yang mudah dan menjangkau hampir di semua peserta didik layaknya di kota lainnya. Dibalik kemudahan akses informasi dan sarana dukung ini, berdasarkan observasi, analisis keseharian, dan wawancara dengan pihak stakeholder sekolah didapat masukan antara lain belum optimalnya karakter religius seperti salat duha dan zuhur berjamaah, kedisiplinan, budaya baca/literasi, budaya 6S (Salam, Senyum, Sapa, Sopan, Santun, dan Salaman). Demikian juga masalah 5 Tertib (Waktu, Belajar, Mengajar, Administrasi, Lingkungan) masih sekedarnya saja, juga muatan kewirausahaan belum masuk dalam pembelajaran. Masalah lainnya adalah target mutu sekolah yang belum jelas, kelas potensial belum terbentuk juga partisipasi guru dalam PKB yang masih rendah.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Dengan melihat kondisi di atas, maka penulis berinisiatif memberikan salah satu solusi dengan penerapan Manajemen Among Sekolah (MAS). Penerapan MAS ini didasari oleh sistem among milik Ki Hajar Dewantara, bahwa seorang kepala sekolah dan guru dalam perilaku haruslah Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani. Manajemen Among adalah manajemen ‘perilaku’ stakeholder sekolah yang sangat diperlukan agar pola komunikasi dan koordinasi berjalan lancar menuju layanan pendidikan yang bermutu. Sehingga prestasi dan kinerja meningkat dan berimbas pada peningkatan prestasi peserta didik, sekaligus kontrol untuk penguatan karakter agar selaras dengan tata pergaulan peserta didik generasi milenial. Sistem among sebagai model konseptual merupakan suatu sistem pendidikan sekaligus pembelajaran baik teknis maupun filosofis lengkap dan komprehensif.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Nilai luhur sistem among dipandang masih sangat relevan dengan kondisi kepemimpinan kepala sekolah pada sistem pendidikan nasional saat ini (Djoko Marihandono, dkk 2017). Manajemen sekolah dengan sistem among akan menciptakan manajemen perilaku asah, asih, asuh yang harmonis antara kepala sekolah dengan guru dan tenaga kependidikan, utamanya dengan memperkuat komunikasi yang baik, seperti Ing Ngarso Sung Tulodho, artinya sebagai kepala sekolah jika sedang di depan harus dapat menjadi panutan, memberi contoh dan teladan yang baik. Kemudian Ing Madyo Mangun Karso yang berarti sebagai kepala sekolah ketika berada di tengah harus peka dan dapat membangun bersama, bertindak sebagai pelopor mencetuskan ide-ide kreatif terkait dengan program sekolah yang dibutuhkan misal untuk peningkatan mutu pembelajaran, peningkatan karier, dengan IHT/workshop bermuatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) seperti pengembangan kewirausahaan, pengembangan model pembelajaran, penulisan karya tulis ilmiah (KTI). Terkahir adalah Tut Wuri Handayani, artinya sebagai kepala sekolah ketika sedang berada di belakang harus dapat mendorong dan memberi motivasi kepada stakeholder sekolah.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Sesuai dengan kiprahnya dalam bidang pendidikan, guru diharapkan bekerja secara profesional dan mampu mengembangkan profesinya . Guru diberi keleluasaan mengembangkan potensi dirinya dengan berkarya, berkreasi, dan berinovasi untuk menciptakan pembelajaran yang efektif. Demikian pula dengan tenaga kependidikan atau pegawai tata usaha (TU) adalah tenaga yang membantu dan mendukung stakeholder sekolah berperan sebagai administrator yaitu menyediakan, melayani, dan membantu administrasi sekolah. Jadi kinerja guru dan tenaga kependidikan adalah hal terkait tugas rutin keseharian yang melekat sesuai tanggung jawabnya dalam melayani kepentingan peserta didik dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan program sekolah. Dan inilah menjadi peran efektif kepala sekolah dalam mengatur manajemen penjaminan mutu di sekolah. (*)