Ponpes Sahabat Mata 1 Sembelih Kurban Khusus untuk Penyandang Disabilitas

PAPARAN: Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Yusuf Chudlori saat mengisi tausiah Idul Adha di gedung Ponpes Sahabat Mata 1 di Mijen, Kota Semarang, belum lama ini. (MUHAMMAD AGUNG PRAYOGA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Ponpes Sahabat Mata 1, selenggarakan penyembelihan kurban dan pengajian Idul Adha di gedung barunya di Mijen, Kota Semarang, belum lama ini. Kurban tersebut diperuntukkan bagi masyarakat berkebutuhan khusus Kota Semarang.

Ketua Diklat dan Olahraga Sahabat Mata 1, Andhi Setiono mengatakan, agenda ini merupakan kegiatan rutin Sahabat Mata 1 untuk disalurkan kepada penyandang disabilitas. Sebab, terkadang mereka terlewat tidak mendapatkan daging kurban.

Selamat Idulfitri 2024

“Tujuannya untuk memfasilitasi teman-teman atau dalam hal ini kesejahteraan. Terlebih di desa kadang sering terlewat dalam pembagian daging. Oleh sebab itu kami membuka lebar kepada mereka yang mau menyumbangkan pada kami,” kata Andhi saat ditemui Joglo Jateng.

Baca juga:  Indeks Pembangunan Keluarga Ungguli Nasional, Jateng Jadi Tuan Rumah Harganas ke-31

Salah satu relawan Sahabat Mata 1, Ridlo mengucapkan, pembagian daging kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Lantaran kondisi masyarakat sekarang sudah minim dari virus.

“Dulu model pembagian dari Solo, sudah dipotong lalu sampai di sini (Semarang) datang dengan keadaan telah dimasak, tinggal makan,” ucap mahasiswa lulusan Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu.

Menurut Andhi, momentum ini tidak hanya dijadikan sebagai ajang pembagian kurban saja. Melainkan diwarnai dengan mempererat tali persaudaraan, sembari mendengarkan tausiyah dari Gus Yusuf Chudlori.

“Jam delapan pagi adalah waktu untuk menyembelih hewan, itulah keadaan kita bertemu jadi satu di gedung ini. Sesampainya Gus Yusuf, kami mendengar ceramah dengan khusyuk, intelektual beliau tidak diragukan” jelasnya.

Baca juga:  Pemprov Jateng Lolos Nominasi Terbaik Nasional, Berpeluang Raih PPD 2024

Momentum yang dihadiri 200 peserta dari Kota Semarang tersebut, diwarnai dengan hadirnya pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Yusuf Chudlori. Dalam tausiahnya, ia menyampaikan, bahwa menjadi tunarungu dan tunanetra juga memiliki keberuntungan, yakni dalam menghadapi tantangan zaman.

“Kita semua mengerti, bahwa asal muasal dosa iri dan dengki adalah dari adanya penglihatan dan pendengaran. Kedua hal itu membawa kita ke dimensi ghibah dan berakhir dengan penyakit hati,” tutur pria yang akrab disebut Gus Yusuf itu.

Lebih lanjut, Gus Yusuf menerangkan, meski mengalami kekurangan di suatu organ dari diri, kita,tidak boleh putus asa. Karena masih mendapat keberuntungan. “Dengan dimatikannya mata dan telinga kita oleh Allah, hal tersebut bisa meminimalisir perbuatan dosa kita, dengki dan iri,” tutupnya. (cr2/gih)