Meningkatkan Kemampuan Mencocokkan Angka melalui Permainan Tutup Botol

Oleh : Yuliati, S.Pd.AUD
Guru TK ABA 01 Comal, Kabupaten Pemalang

ANAK usia dini merupakan masa anak yang akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Pertumbuhan dari segi fisik dan perkembangan dari segi mental. Lingkup perkembangan yang dikembangkan oleh Taman Kanak-kanak (TK) ABA, perencanaan pembelajaran dilakukan dengan membuat program semester (PROSEM), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan (RPPM), dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH). Secara teknis, guru melaksanakan RPPH tersebut dalam aktivitas sehari-hari, di mana berbagai kegiatan disesuaikan dengan kondisi dan situasi saat hari pembelajaran berbasis tematik.

Selamat Idulfitri 2024

Berdasarkan hasil observasi, peneliti di TK ABA 01 Comal ternyata kemampuan mencocokkan angka anak belum berkembang dengan baik. Dapat dilihat dengan kegiatan yang dilakukan oleh guru masih didominasi dengan hanya menggunakan beberapa indikator yang kurang bervariasi. Misalnya temuan bahwa anak hanya diberi kegiatan menggambar bebas dengan media yang monoton, seperti dominasi menggunakan pensil dan krayon. Mayoritas anak hanya diberi kegiatan menggunting, serta aktivitas merekat dan melipat. Masalah yang lain yang ditemukan yaitu keterbatasan media sebagai sumber bahan eksplorasi anak, yang masih sebatas pada sumber bahan kertas. Keterbatasan sumber bahan membuat anak kurang mendapatkan pengalaman dengan menggunakan bahan lain yang dapat merangsang perkembangan anak. Berdasarkan latar belakang tersebut, perlu adanya sebuah kegiatan yang dirancang efektif untuk meningkatkan kognitif anak. Salah satunya dengan bermain mencocokkan angka melalui permainan tutup botol.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Bermain mencocokkan angka melalui permainan tutup botol yaitu bermain menggunakan tutup botol dengan cara yang menyenangkan. Tutup botol merupakan media sederhana yang mudah di temukan di lingkungan tempat tinggal anak. Tutup botol yang biasanya terbuang menjadi barang bekas, peneliti coba memanfaatkannya untuk media pembelajaran edukatif yang menyenangkan serta menarik bagi anak, dengan cara dimodifikasi menggunakan cat yang berwarna-warni. Dengan kegiatan yang inovatif, akan menambah pengalaman anak dalam menemukan pengalaman baru yang bermakna dan berbeda dari biasanya, tidak hanya sekedar terbatas pada sumber bahan kertas, dan anak akan mengenal media tutup botol sebagai bahan untuk meningkatkan kognitifnya. Selain itu, mencocokkan angka melalui permainan tutup botol mempunyai kelebihan yaitu dapat mengenal angka, dapat mencocokkan angka, dapat membedakan angka, dan memberikan pengalaman kognitif lainnya.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Adapun cara yang pertama adalah tutup botol diberi warna dengan variasi warna yang menarik. Kedua tutup botol diberi angka 1-10, untuk jumlah tutup botoh kurang lebih tiga kali lipat dari angka yang ditentukan, dengan tujuan agar siswa lebih teliti dan jeli. Ketiga membuat kartu angka dari kertas origami yang ditulisi angka. Keempat guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok diberi tutup botol yang sudah diberi angka. Kelima memberikan soal dengan menunjukkan kartu angka yang selanjutnya perwakilan kelompok maju untuk memberikan tutup botol untuk mencocokkan angka. Untuk anak yang salah, anggota kelompoknya bisa membantu untuk memberikan tutup botol yang benar. Metode ini sangat membantu meningkatkan pengembangan kognitif anak. Terlihat anak serius dan antusias. Dengan teknik itu, siswa mampu membedakan angka dan mencocokkan angka dengan benar dan cepat.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan media bermain yang menarik, akan membuat minat belajar anak semakin tinggi. Hal ini dibuktikan dalam kegiatan bermain tutup botol di TK ABA 01 Comal tercapai hasil sesuai dengan angka kriteria ketuntasan minimal dan anak merasa tertantang untuk menyelesaikan setiap aktivitas belajarnya, serta selalu ingin mencoba dan mengulangi. (*)