Metode Inside Outside Circle Tingkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa pada Keseimbangan Ekosistem

Oleh: Elis Nurbani Bintang, S.Pt
Guru SMP Negeri 7 Pemalang, Kabupaten Pemalang

BERPIKIR kritis adalah kemampuan menganalisis atau menelaah suatu ide atau gagasan setelah memahami suatu ide atau gagasan. Berpikir kritis juga merupakan keterampilan tingkat tinggi dan berperan dalam perkembangan moral, perkembangan sosial, perkembangan mental, perkembangan kognitif, dan perkembangan sains. Berpikir kritis telah menjadi salah satu kompetensi dari tujuan pendidikan dan seyogyanya dikembangkan sejak dini melalui pembelajaran terutama pembelajaran sains.

Selamat Idulfitri 2024

Kondisi siswa kelas VII SMP Negeri 7 Pemalang mengalami beberapa kendala dalam proses pembelajaran. Yaitu, pertama dalam proses belajar di sekolah saat ini menggunakan gaya belajar guru yang selalu mendrill siswa untuk menghafal berbagai konsep tanpa disertai pemahaman. Kedua, bahan ajar yang diberikan di sekolah terasa lepas dengan permasalahan pokok yang timbul di masyarakat, terutama keseimbangan ekosistem alam yang dekat dengan kondisi masyarakat saat ini. Ketiga, siswa tidak dibiasakan untuk belajar berpikir kritis, peka terhadap lingkungan, kreatif, dan memahami teknologi sederhana yang hadir di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, perlu diupayakan pembelajaran IPA di lingkungan SMP Negeri 7 Pemalang, agar mencapai budaya berpikir kritis terhadap kondisi siswa belajar.

Untuk meningkatkan pemahaman konsep IPA pada materi Keseimbangan Ekosistem, siswa perlu menggunakan strategi atau model pembelajaran yang menarik. Misalnya seperti model pembelajaran Inside Outside Circle. Di mana model pembelajaran Inside Outside Circle adalah model pembelajaran dengan sistem lingkaran kecil dan lingkaran besar yang diawali dengan pembentukan kelompok besar dalam kelas, yang terdiri dari kelompok lingkaran dalam dan kelompok lingkaran luar.

Model pembelajaran Inside Outside Circle adalah model pembelajaran dengan sistem lingkaran kecil dan lingkaran besar yang diawali dengan pembentukan kelompok besar dalam kelas yang terdiri dari kelompok lingkaran dalam dan kelompok lingkaran luar (Rusman, 2013:21). Adapun langkah-langkah model pembelajaran Inside Outside Circle adalah sebagai berikut: 1) Guru membagi siswa menjadi kelompok yang terdiri dari 3-4 orang; 2) Tiap-tiap kelompok mendapat tugas mencari informasi berdasarkan pembagian tugas dari guru; 3) Setiap kelompok belajar mandiri, mencari informasi berdasarkan tugas yang diberikan; 4) Setelah selesai, seluruh siswa berkumpul membaur (tidak berdasarkan kelompok); 5) Separuh kelas lalu berdiri membentuk lingkaran kecil dan menghadap keluar; 6) Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran di luar lingkaran pertama, menghadap ke dalam; 7) Dua siswa yang berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbagi informasi. Pertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan; 8) Kemudian siswa berada di lingkaran kecil diam di tempat, sementara siswa yang berada di lingkaran besar bergeser satu atau dua langkah searah jarum jam; 9) Sekarang giliran siswa berada di lingkaran besar berbagi informasi. Demikian seterusnya, sampai seluruh siswa selesai berbagi informasi; 10) Pergerakan baru dihentikan jika anggota kelompok lingkaran dalam dan luar sebagai pasangan asal bertemu kembali; dan 11) Guru memberikan evaluasi atau latihan soal mandiri.

Menurut Wati (2014:2) bahwa keunggulan model pembelajaran ini adalah adanya struktur yang jelas dan memungkinkan siswa untuk berbagi informasi dengan pasangan yang berbeda secara singkat dan teratur. Setelah pembelajaran ini diterapkan, guru merasa adanya manfaat antara lain siswa lebih banyak eksplorasi terhadap lingkungan ekosistem dimasyarakat. Penerapan model Inside Outside Circle ini juga memberikan siswa lebih semangat dan aktif dalam belajar IPA di kelas. (*)