Optimalkan Kemampuan Menghafal Asmaul Husna melalui Metode Kaisa

Oleh: Juhroh, S,Pd.I
Guru PAI SDN 05 Jebed, Kec. Taman, Kab. Pemalang

SUATU pembelajaran di dalam pendidikan secara kultural umumnya berada dalam lingkup peran, fungsi, dan tujuan utama yang tidak berbeda. Pendidikan bermaksud mengangkat dan menegaskan martabat manusia melalui pengetahuan yang dimilikinya, terutama dalam rangka membentuk transfer of knowledge dan transfer of values (Hasbullah, 2004). Pada konteks ini, secara jelas menjadi tujuan jangkauan pendidikan Islam, karena pendidikan Islam merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional, sekalipun dalam kehidupan bangsa Indonesia tampak sekali terbedakan eksistensinya secara struktural. Sebagai pendidikan yang berlabel agama, maka pendidikan Islam memiliki transmisi spiritual yang lebih nyata dalam proses pengajarannya dibandingkan dengan pendidikan umum. Sebagaimana tertera dalam UU RI No. 20 tahun 2003 BAB 2 Pasal 3 yang berbunyi: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Selamat Idulfitri 2024

Berdasarkan uraian tersebut, dapat diartikan bahwa output yang diharapkan dari pendidikan di Indonesia adalah manusia yang jelas karakternya dan unggul pula wawasan keilmuannya. Selama proses belajar-mengajar siswa kelas V SD Negeri 5 Jebed, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang sangat diperlukan kondisi dan lingkungan yang kooperatif. Dengan aktivitas yang lebih menyenangkan dan tidak membosankan akan membimbing siswa lebih aktif dalam proses penyerapan materi dan pemrosesan informasi. Untuk itu, aktivitas siswa kelas V perlu ditingkatkan melalui latihan-latihan atau kegiatan menghafal yang menyenangkan serta pembelajaran kooperatif lebih menekankan interaksi antar guru dan siswa (Surawan, 2020). Hal ini membuka upaya guru untuk mengembangkan metode belajar siswa di dalam kelas yang mampu menarik perhatian siswa.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Materi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang sebagian besar menghafal nama-nama, hadis, ayat Al-Quran diberikan secara konvensional. Permasalahan pembelajaran ini dirasa membosankan dan cenderung memberatkan siswa yang kesulitan dalam daya ingatnya. Sehingga sebagai guru pengampu PAI, penulis memilih metode Kaisa yang sesuai diterapkan dalam pembelajaran menghafal Asmaul Husna pada anak. Metode ini memadukan antara melafalkan dengan benar, gerakan, dan arti. Sehingga dalam satu kegiatan sudah mengombinasikan beberapa aspek kecerdasan. Dengan gerakan anak menjadi antusias untuk mempelajari dan menghafal Asmaul Husna, setiap gerakan juga disesuaikan dengan arti yang dibacakan.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Metode ini sesuai untuk anak karena rentang konsentrasi anak masih relatif pendek, dengan gerakan anak tidak harus duduk diam mendengarkan, tetapi sambil bergerak sesuai dengan arti kalimat atau kata yang dibacakan. Hal ini juga menambah perbendaharaan kata dan gerak anak. Ada beberapa kecerdasan yang diasah dalam metode Kaisa, mulai dari kecerdasan linguistik, kecerdasan kinestetik, kecerdasan audio visual, dan kecerdasan interpersonal (Salamah, 2018). Di samping itu, menghafal Asmaul Husna merupakan suatu kegiatan yang biasa dilakukan oleh siswa beserta guru dilingkungan SD Negeri 5 Jebed yang juga merupakan salah satu kompetensi dasar mata pelajaran PAI di tingkat sekolah dasar.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Menurut Koesno (2020), Asmaul Husna merupakan nama-nama baik yang dimiliki Allah Subhanahuwata’ala. Pembelajaran metode Kaisa dalam menghafal Asmaul Husna dirasa sangat sesuai diterapkan pada anak. Dapat dilihat dari penerapan metode ini, siswa lebih mudah dalam menghafal dengan mengombinasikan gerakan, pelafalan, dan arti tiap kata yang dibacakan. Proses pembelajaran yang menyenangkan dan menarik dapat mengoptimalkan otak kanan dan otak kiri yang menghubungkan beberapa kecerdasan. Diharapkan metode tersebut dapat membawa siswa mencintai menghafal, dan memahami Al-Quran dalam kehidupannya. (*)