Penanaman Pendidikan Karakter pada Model Pembelajaran BCCT

Oleh: Siti Suparyati, S.Pd.
Guru TK ABA 02 Comal, Kabupaten Pemalang

PENDIDIKAN Nasional bertujuan untuk mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, serta mengembangkan peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab. Permasalahan pendidikan karakter di Indonesia, dilihat dari sudut pandang peneliti perlu adanya model pembelajaran yang mampu menanamkan pendidikan karakter pada anak usia dini. Perlunya model pembelajaran yang dapat mendorong untuk bermain di sentra-sentra kegiatan, sedangkan pendidik berfungsi sebagai perancang, pendukung, dan penilai kegiatan anak. Untuk itu, pembelajaran di Taman Kanak-kanak (TK) memilih penggunaan model pembelajaran Beyond Centers And Circle Time (BCCT) dalam menanamkan pendidikan karakter bagi anak usia dini.

Selamat Idulfitri 2024

Hasil penelitian menyebutkan bahwa pada saat ini model pembelajaran pendidikan anak usia dini masih didominasi oleh pembelajaran yang berpusat pada guru. Untuk meningkatkan efisiensi pembelajaran, pemerintah mengadopsi salah satu model pembelajaran yaitu model pembelajaran BCCT (Ruqoyah, 2016). Lebih lanjut, dijelaskan bahwa model pembelajaran BCCT adalah suatu metode atau pendekatan dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini yang merupakan perpaduan antara teori dan praktik (Sujiono, 2009).

Kegiatan pembelajaran di TK ABA 02 Comal menerapkan model pembelajaran BCCT atau sering disebut model pembelajaran sentra. Pada TK ABA 02 Comal menggunakan tujuh sentra, yang terdiri dari sentra persiapan, sentra balok, sentra main peran, sentra seni kreativitas, sentra masak, sentra bahan alam, dan sentra musik. Kegiatan pembelajaran terbagi menjadi tiga, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

Kegiatan awal merupakan rangkaian aktivitas yang menarik dan menyenangkan bagi anak, dimulai dari anak datang ke sekolah disambut guru, kemudian anak diajak guru untuk berbaris di halaman sekolah, salah seorang guru memimpin dan guru lain beserta peserta didik mengikuti gerakan motorik kasar dan bernyanyi, kegiatan ini berlangsung kurang lebih 25 menit. Setelah kegiatan awal selesai, semua murid berbaris membentuk kereta-keretan mengikuti guru untuk masuk kelas sentra.

Kegiatan inti merupakan kegiatan pembelajaran di sentra. Sebelum masuk di kegiatan inti, guru dan peserta didik duduk melingkar, guru memberikan salam kepada semua peserta didik, guru mengabsen peserta didik, guru meminta peserta didik untuk memperhatikan siapa yang tidak hadir, berdoa bersama, guru menyampaikan tema kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan sesuai dengan kehidupan sehari-hari, guru mengenalkan semua alat permainan yang telah dipersiapkan dan menceritakan permainan yang akan dilakukan oleh peserta didik, guru menyampaikan aturan main, setelah peserta didik siap bermain, guru mempersilakan peserta didik untuk main. Guru berkeliling di antara peserta didik yang bermain, yakni memberikan contoh cara bermain bagi peserta didik yang belum mampu dan memberikan pujian pada permainan yang telah dilakukan. Selain itu, guru juga mencatat hasil perkembangan peserta didik dan mengumpulkan hasil karya peserta didik selama satu semester dalam portofolio.

Kegiatan penutup merupakan kegiatan yang memberikan pengalaman dan mengingat kembali. Guru memberitahu kepada peserta didik 5 menit sebelum kegiatan berakhir, guru memberitahu saatnya membereskan semua alat main. Apabila peserta didik sudah merapikan alat main, peserta didik dan guru duduk melingkar, guru menanyakan pada setiap peserta didik tentang kegiatan main yang telah dilakukan. Hal ini dilakukan untuk melatih daya ingat peserta didik dan pengalaman mainnya. Selanjutnya guru mengajak peserta didik untuk cuci tangan, berdoa, makan siang dan pulang. Dengan menggunakan model pembelajaran sentra, pendidikan karakter dapat ditanamkan pada anak usia dini dengan tepat. (*)