Pentingnya Pendidikan Karakter untuk Siswa SD Kelas IV

Oleh: Atiek Supiyati, S.Pd.SD
Guru SDN 2 Plantaran, Kec. Kaliwungu Selatan, Kab. Kendal

MEMASUKI era yang serba modern, banyak anak yang mulai melupakan apa itu sopan santun dan karakter dalam kehidupan sehari-hari. Mereka akan bersikap semau mereka, dan akan marah jika dilarang. Hal ini tentu tidak lepas dari pengaruh orang tua, guru, dan lingkungan sekitar. Orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka, sehingga membebankan pola asuh mereka pada guru. Begitu pun guru yang sibuk dengan setumpuk tugas dan administrasi, sehingga dalam mengajarkan suatu materi hanya berfokus pada pencapaian hasil kognitif siswa. Padahal mengajar bukan sekedar menyampaikan materi saja, tapi juga mendidik, yaitu memberikan pendidikan karakter bagi siswa. Sehingga siswa tidak hanya cerdas secara kognitif saja, tetapi cerdas secara emosional. Terlebih untuk siswa sekolah dasar (SD) kelas IV yang merupakan peralihan dari masa anak-anak menuju masa remaja yang sarat akan kebebasan, mulai mengenal lawan jenis, dan belum bisa berpikir secara jernih dalam menghadapi setiap masalah yang datang. Mereka tentu butuh banyak bimbingan dan pendidikan karakter yang dapat menjadi benteng mereka dalam bersikap dan bertutur.

Selamat Idulfitri 2024

Menurut UU No.20 tahun 2003, pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan, yang diperlukan dirinya, masyarakat, dan negara. Pengertian karakter menurut Hasanah (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 2010: 232) merupakan standar-standar batin yang terimplementasi dalam berbagai bentuk kualitas diri. Karakter diri dilandasi nilai-nilai serta cara berpikir berdasarkan nilai-nilai tersebut dan terwujud di dalam perilaku. Nurul Zuhriyah (2008, 19) mengatakan bahwa pendidikan karakter sama dengan pendidikan budi pekerti. Di mana tujuan budi pekerti adalah untuk mengembangkan watak atau tabiat siswa, dengan cara menghayati nilai-nilai keyakinan masyarakat sebagai kekuatan moral hidupnya melalui kejujuran, dapat dipercaya, dan kerja sama yang menekankan ranah efektif, tanpa meninggalkan ranah kognitif dan ranah psikomotorik.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Sedangkan mengenai karakteristik dari anak SD kelas IV, Syaiful Bahri Djamarah (2008: 123) menyatakan bahwa masa usia sekolah adalah masa matang untuk sekolah. Disebut masa sekolah karena anak sudah menamatkan taman kanak-kanak, sebagai lembaga persiapan bersekolah yang sebenarnya. Disebut masa matang untuk belajar karena anak sudah berusaha untuk mencapai sesuatu, tetapi perkembangan aktivitas bermain yang hanya bertujuan untuk mendapatkan kesenangan pada waktu melakukan aktivitas itu sendiri. Kelas VI digolongkan dalam kelas tinggi di Sekolah Dasar. Hal tersebut didukung oleh pendapat Rita Eka Izzaty (2008: 116), masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar berlangsung antara usia 9-13 tahun, biasanya mereka duduk dikelas 4, 5 atau 6.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Siswa pada fase kelas tinggi mempunyai 5 sifat khas, yaitu: 1) Perhatiannya tertuju kepada kehidupan praktis sehari-hari; 2) ingin tahu, ingin belajar, dan realistis; 3) timbul minat kepada pelajaran-pelajaran khusus; 4) anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya disekolah; 5) anak-anak suka membentuk kelompok sebaya atau peer group untuk bermain bersama, mereka membuat peraturan sendiri dalam kelompoknya. Nandang Budiman (2006: 44-45) menggolongkan anak berusia 10 hingga 12 tahun ke dalam perkembangan kognitif periode operasional konkret yang bercirikan anak mempunyai pemikiran yang reversible dapat dipahami dalam dua arah, mulai mengonservasi pemikiran tertentu, adaptasi gambaran yang menyeluruh, melihat suatu objek dari berbagai sudut pandang, mampu melakukan seriasi kekekalan, dan berpikir kausalitas penyebab terjadi suatu kejadian

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Dengan demikian, pada masa-masa menuju remaja inilah anak perlu dibimbing dan dididik serta diberikan bekal yang cukup sehingga dapat menghadapi globalisasi dengan baik dan bijak dan tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan. Inilah pentingnya pendidikan karakter yang perlu diterapkan guru dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Karena bagaimanapun juga, guru juga ikut andil bertanggungjawab terhadap pendidikan anak- anak di sekolah, meskipun pendidikan di keluarga juga tidak kalah penting. (*)