UMKM  

Sejak 1989 Jualan Serabi

SIAPKAN: Waah (kanan) bersama anaknya menjual serabi di tepi Jalan Serayu, belum lama ini. (UFAN FAUDHIL/JOGLO JATENG)

IA bernama Waah. Nenek berusia 63 tahun warga Kelurahan Kebondalem Kecamatan Pemalang ini telah berjualan serabi sejak 1989. Pada awal-awal jualan, ia menjual serabinya dengan harga 25 perak, sampai sekarang dengan harga 2000 rupiah per porsi.

Serabi miliknya berbeda dengan serabi pada umumnya. Karena biasanya adonan hanya memakai santan, namun serabi buatannya terdapat parutan kelapa yang dicampur ke dalam adonannya.

Selamat Idulfitri 2024

Saat ditemui, Waah mengungkapkan resep serabi ini didapatkan langsung dari sang mertua yang dahulu juga berjualan serabi. Dan kini dirinyalah yang meneruskan usaha tersebut. Buka mulai pukul enam pagi sampai pukul delapan, serabi miliknya laris manis diserbu pembeli.

Baca juga:  Orderan Kue Kering Izza Cake and Cookies Meningkat Dua Kali Lipat di Bulan Ramadan

“Alhamdulillah, dari dulu jualan tetap di sini tidak pindah di Jalan Serayu ini. Sudah lama pembeli banyak datang langsung atau anak saya keliling menjajakan serabi ini ke rumah-rumah,” ungkapnya, belum lama ini.

Parutan kelapa yang langsung dicampurkan ke dalam serabi itu membuat makanan tradisional ini memiliki rasa lebih gurih. Jika dimakan tekstur parutan kelapa itu terasa di mulut.

“Bedanya itu ya ada parutan kelapa, kalau di tempat lain kan hanya sekedar santannya saja, di sini kita langsung ada kelapanya. Jadi rasanya lebih gurih dan manis dengan kuah gula serta santan,” tuturnya. (fan/gih)