Memotivasi Siswa Belajar IPA dengan Media Puzzle

Oleh: Zumaroh, S.Pd
Guru SDN 01 Ketapang, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang

PEMBELAJARAN Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di sekolah dasar telah diupayakan berbagai metode atau pendekatan yang diharapkan dapat mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran. Pendekatan yang digunakan ialah pendekatan fakta, konsep dan keterampilan proses. Menurut Soebiyanto, salah bsatu kewajiban guru ialah mengajarkan proses inkuiri dengan pencarian kebenaran, informasi atau pengetahuan.

Selamat Idulfitri 2024

Tujuan belajar untuk siswa ialah mencapai perkembangan optimal yang meliputi aspek  kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan demikian, tujuan pembelajaran  ditujukan supaya siswa dapat mencapai perkembangan yang optimal.

Pembelajaran akan berhasil apabila gurunya profesional, dan anak  didiknya memiliki motivasi belajar yang tinggi. Sebagai motivator, guru  harus mampu membangkitkan motivasi belajar pada diri anak supaya  bergairah dan aktif dalam belajar.

Motivasi dapat efektif bila dilakukan dengan memperhatikan  kebutuhan anak didik. Penganekaragaman cara belajar, memberikan  penguatan dan sebagainya, juga dapat memberikan motivasi pada anak didik  untuk lebih bergairah dalam belajar. Peranan guru sebagai motivator sangat  penting dalam interaksi edukatif. Hal ini karena menyangkut esensi pekerjaan mendidik yang membutuhkan kemahiran sosial, menyangkut performance dalam personalisasi dan sosialisasi diri.

Salah satu yang juga penting vdalam proses transfer pembelajaran ialah penggunaan media. Dengan  menggunakan media, pembelajaran tidak hanya berfokus pada guru (teacher center), tetapi juga dapat berfokus kepada siswa itu sendiri. Melalui media  pembelajaran, guru dapat menyajikan bahan pelajaran yang bersifat abstrak  menjadi konkret, dan mudah dipahami.

 

Dalam pembelajaran IPA, penggunaan media buku saja tentu akan sangat menjenuhkan. Sehingga perlu adanya inovasi dalam media pembelajaran. Salah satunya adalah dengan menggunakan puzzle. Media puzzle merupakan media sederhana yang  dimainkan dengan bongkar pasang. Dalam hal ini, media puzzle yang  penulis maksud adalah mainan yang terbuat dari papan yang bisa untuk bongkar pasang.

Puzzle dapat berupa jigsaw atau bentuk tiga dimensi, menganut azas potongan homogen atau acak. Biasanya berupa kepingan besar atau kecil atau gabungan keduanya. Bisa juga berupa gambar yang dipecah atau komponen yang digabungkan ataupun disusun pada  landasan/bingkai tertentu atau harus dirakit menjadi bentuk tertentu seperti woodcraft.

Puzzle bisa menjadi media yang mengedukatif para siswa dalam mempelajari materi pembelajaran, terutama dalam proses belajar IPA. Dengan media ini, materi IPA yang cenderung rumit dan susah dipahami, dapat diajarkan dengan cara yang menyenangkan.

Adapun langkah-langkah penggunaan media puzzle dalam pembelajaran adalah sebagai berikut. Pertama, siswa bersama guru melakukan tanta jawab terkait media puzzle yang digunakan. Kemudian guru membongkar puzzle yang telah disusun dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyusunnya kembali.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk membetuk daya pikir, daya ingat, serta kemampuan memahami dan mengolah ide dalam bentuk yang aplikatif. Dalam pembelajaran ini pula diharapkan siswa mampu berani untuk menunjukkan inisiatifnya dan berani mengambil keputusan serta menentukan tindakan.

Setiap media pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan. Meskipun demikian guru hendaknya mampu meminimalisir  kekurangan media pembelajaran yang digunakan berdasarkan  pertimbangan yang disesuaikan dengan materi pembelajaran. Guru semaksimal mungkin mengguakan media yang paling efektif untuk digunakan. Begitu juga dengan puzzle, harus disesuaikan dengan materi  pembelajaran terkait. (*)