Pembelajaran Naratif Eksperensial untuk Meningkatkan Karakter di Sekolah Dasar

Oleh: Siti Nursiyam, S.Pd.SD
Guru SDN 02 Pecangakan, Kec. Comal, Kab. Pemalang

PENDIDIKAN karakter dijadikan suatu penguat dalam perwujudan tujuan pendidikan nasional. Terutama untuk membantu peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi kekuatan kepribadian, spiritual keagamaan, pengendalian diri, akhlak yang mulia, kecerdasan, dan ketrampilan yang diperlukan dirinya. Realitanya, pendidikan karakter ini masih diabaikan. Saat ini, masih banyak ditemukan siswa yang kurang bisa menghargai orang lain atau temannya sendiri.

Selamat Idulfitri 2024

Kurangnya guru dalam menerapkan pendidikan karakter melalui belajar dapat mempengaruhi bagaimana para siswa berkembang. Sehingga  memberikan efek pada nilai karakter siswa terhadap cinta tanah air, serta kepedulian social yang semakin terkikis. Untuk itu perlu adanya penggunaan strategi pembelajaran naratif eksperensial.

Langkah awal penerapan pendidikan karakter adalah dengan menanamkan kesadaran bersama dalam menyamakan persepsi. Terutama terkait pentingnya pengintegrasian nilai-nilai karakter yang ada pada semua aktivitas. Sehingga nilai tersebut bisa menjadi kebiasaan oleh semua stakeholder. Menurut Evananda, Pendidikan karakter juga menjadi satu kewajiban karena pendidikan tidak hanya mengharuskan peserta didik menjadi cerdas akademik saja, melainkan juga memiliki etika yang baik, sikap santun dan menghargai.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Berdasarkan pendapat di atas, dapat digarisbawahi bahwa strategi pembelajaran meliputi kegiatan atau pemakaian teknik yang dilakukan oleh pengajar. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai ke tahap evaluasi. Selain itu juga ada program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif, untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Pembelajaran dengan Naratif Eksperensial

Karangan narasi tidak hanya bisa digunakan untuk menulis sebuah karya fiksi, tetapi juga fakta. Karangan atau tulisan narasi bisa digunakan untuk banyak tujuan, seperti sejarah, novel, berita, biografi, dan lain-lain. Dengan adanya metode naratif eksperensial akan menjadikan siswa memahami bagaimana mengutamakan pengalaman dalam belajar. Kemudian bagaimana pengalaman tersebut tertuang dalam kisah-kisah nyata atau sejarah. Sehingga siswa dapat memetik kesimpulan dari apa yang mereka baca dan nalar. Cerita kisah pengalaman para pahlawan dan leluhur akan mencerminkan karakter siswa, siswa yang membaca pasti akan memiliki karakter pada diri

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Strategi naratif experiential learning merupakan model pembelajaran yang memperhatikan atau menitikberatkan pada pengalaman yang akan dialami murid. Murid terlibat langsung dalam proses belajar dan murid mengonstruksi sendiri pengalaman-pengalaman yang didapat menjadi suatu pengetahuan. Murid akan mendapatkan pengalaman-pengalaman yang berbeda dari apa yang telah mereka pelajari, hal ini karena perbedaan dan keunikan dari gaya belajar masing-masing murid.

Strategi naratif experiential learning yang efektif akan memengaruhi cara berpikir siswa, sikap, nilai-nilai, persepsi dan perilaku siswa. Salah satunya bagaiamana belajar tentang berbuat baik pada orang tua. Seorang pelajar harus mengembangkan sebuah konsep terkait cara berbuat baiak kepada orang tua, bagaimana sikap yang baik kepada guru, dan bagaimana mewujudkan sikap baik kepada teman dalam bentuk perilaku dan karakter.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Setelah penerapan strategi eksperensial ini, diharapkan mampu menjunjung semangat nasionalisme siswa kembali terpupuk dengan kisah-kisah tokoh nasionalisme yang diambil untuk diceritakan pada siswa. Siswa menjadi tahu apa yang mereka tidak ketahui sebelumnya. Penerapan strategi naratif eksperensial memberikan dampak baik bagi siswa terutama pada karakter nasionalisme.

Pengenalan terhadap tokoh dan sejarah secara tidak langsung juga membuat system pembelajaran tidak monoton. Para siswa dapat belajar dengan menalar secara langsung apa yang dibaca dan dipahami. Sehingga system pembelajran pun tidak harus berbentuk ceramah dengan guru sebagai pusat komunikasinya. (*)