Problem Based Learning Efektif Pahami Belajar PPKn

Oleh: Suswanto, S.Pd.
Guru PPKn SMPN 7 Pemalang

PERMASALAHAN yang sering muncul dalam pembelajaran adalah lemahnya peserta didik dalam menggunakan kemampuan mengolah konsep yang dimiliki untuk berfikir dalam menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata. Peserta didik mengalami kesulitan untuk menghubungkan informasi dan pengetahuan yang sudah diberikan guru dengan masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan ini terjadi karena masih banyak guru yang belum mampu menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Selamat Idulfitri 2024

Dalam rangka meningkatkan kemampuan berfikir siswa, diperlukan suatu model pembelajaran yang mendorong komunikasi dua arah dengan siswanya. Termasuk membuka wawasan berfikir yang beragam dari seluruh siswa sehingga dapat mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Guru di era pembelajaran seperti sekarang ini, dituntut mampu menggunakan model pembelajaran yang berkaitan erat dengan cara memecahkan masalah.

Tanpa disadari, permasalahan yang kita dapatkan banyak yang berhubungan dengan  mata pelajaran PPKn. Salah satunya dalam pelaksanaan pemilu masih ditemukan adanya praktek money politic. Padahal peserta didik diajarkan azas dalam pemilu diantaranya harus jujur dan adil.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Peserta didik diajarkan materi Harmoni Keberagaman Masyarakat Indonesia. Sayangnya, masih banyak peserta didik yang sering terlibat konflik yang terjadi di masyarakat. Baik konflik agama, suku maupun konflik politik. Banyaknya permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang terkait dengan materi PPKn maka dipandang perlu pembelajaran dengan penggunaan model Problem Based Learning (PBL) dalam pelajaran PPKn.

Problem Based Learning (Pembelajaran berbasis masalah ) adalah model pembelajaran yang dirancang agar peserta didik mampu memecahkan masalah dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam kelompok. Proses pembelajaran yang mengunakan masalah dalam kehidupan nyata peserta didik, menjadi titik awal dalam proses pembelajaran. Dalam PBL peserta didik dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengatahuan dan pengalaman yang telah mereka miliki sebelumnya (prior knowledge) untuk membentuk pengatahuan dan pengalaman baru.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Selainj itu, PBL juga bertujuan untuk membekali peserta didik dalam mengambil keputusan dan tindakan. Pertanyaan yang dimunculkan peserta didik, formulasi yang tercipta serta kemampuan dalam menyusun konsep tentang permasalahan yang diciptakan peserta didik, juga bisa menjadi modal untuk pembelajaran. Tujuan pembelajaran akan dapat tercapai bila kegiatan pembelajaran berfokus pada masalah yang otentik dan relevan dengan kehidupan peserta didik.

Langkah-langkah model pembelajaran PBL ialah, merumuskan masalah, menganalisis masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, pengujian hipotesis dan merumuskan simpulan. Langkah-langkah tersebut harus dipahami benar oleh peserta didik agar model PBL dapat berjalan dengan baik dan efektif.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Adapun PBL memiliki kelebihan-kelebihan. Diantaranya, peserta didik mampu membangun dan menemukan pengetahuan baru, memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah dalam situasi nyata, meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan peserta didik lain dalam kegiatan kelompok,  berpikir dan bertindak kreatif, memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis, mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan, menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.

Sebagai guru yang professional, kita harus memikirkan model apa yang cocok serta tahu kelebihan model yang dipilih agar pembelajaran nanti tetap berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Meskipun siswa dituntut lebih banyak belajar mandiri dalam model PBL, guru tetap memiliki peran yang sangat penting.

Guru dituntut menjadi fasilitator sekaligus tutor sehingga mampu mendesain model pembelajaran semenarik mungkin. Selama pembelajaran berlangsung guru memantau aktivitas belajar siswa, baik berupa aktivitas fisik maupun aktivitas berfikirnya. (*)