Tingkatkan Belajar PAI Siswa SD dengan Kooperatif Learning Jigsaw

Oleh: Junaenah, S.Pd.I.
Guru SDN 01 Ketapang, Kec.Ulujami, Kab. Pemalang

PENDIDIKAN Agama Islam (PAI) sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah yang mempunyai peranan strategis dan signifikan dalam pembentukan akhlak dan pribadi siswa. PAI secara umum dapat dipahami sebagai upaya untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman siswa tentang agama Islam. Sehingga menjadi pribadi muslim yang beriman dan bertakwa, serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

Pembelajaran PAI dan Budi Pekerti selama ini berfokus pada guru, sehingga pembelajaran tidak bermakna bagi peserta didik. Guru mengajar selalu menggunakan metode konvensional. Hal ini dapat diperbaiki dengan menerapkan karakteristik pendekatan kooperatif tipe jigsaw.

Pembelajaran kooperatif menekankan pada aspek sosial, yaitu terciptanya aktivitas interaksi antar anggota kelompok sehingga dapat menimbulkan interaksi antara sesama peserta didik yang saling ketergantungan. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong peserta didik aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal.

Jigsaw juga didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab peserta didik terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Dalam pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw, peserta didik lebih ditekankan untuk mengkontruksi sendiri ilmu yang dipelajarinya menjadi pengetahuan yang akan bermakna dan tersimpan dalam ingatannya untuk periode waktu yang lama.

Oleh karena itu, pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sangat tepat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran di kelas untuk meningkatkan minat dan perhatian peserta didik dalam pembelajaran yang pada akhirnya akan meningkatkan prestasi peserta didik di sekolah.

Seorang guru yang profesional dituntut untuk dapat menampilkan keahliannya sebagai guru di depan kelas. Komponen yang harus dikuasai adalah menggunakan bermacam-macam model pembelajaran yang bervariasi serta dapat menarik minat belajar siswa.

Hal ini tidak berarti bahwa metode ceramah tidak baik, melainkan pada suatu saat siswa akan menjadi bosan apabila hanya guru sendiri yang berbicara. Sedangkan para siswa hanya duduk, diam dan mendengarkan. Kebosanan dalam mendengarkan uraian guru dapat mematikan semangat belajar siswa. Oleh karena itu, guru perlu menguasai model pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan produktif.

Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada siswa adalah model pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Dalam pelaksanaanya, pembelajaran koopratif tipe Jigsaw memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan metode Jigsaw adalah dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain. Siswa dapat menguasai pelajaran yang disampaikan, dalam proses belajar mengajar siswa juga dapat saling ketergantungan positif, setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain.

Adapun kekurangannya adalah membutuhkan waktu yang lama. Siswa yang pandai cenderung tidak mau disatukan dengan temannya yang kurang pandai, dan yang kurang pandai akan merasa minder apabila digabungkan dengan temannya yang pandai. Walaupun lama-kelamaan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya.

Beberapa alasan lain yang menyebabkan model jigsaw perlu diterapkan sebagai model pembelajaran yaitu tidak adanya persaingan antar siswa atau kelompok. Mereka bekerjasama untuk menyelesaikan masalah dalam mengatasi cara pikir yang berbeda. Siswa dalam kelompok bertanggung jawab atas penguasaan materi belajar yang ditugaskan padanya, lalu mengajarkan bagian tersebut pada anggota yang lain.

Sebagai aspek kesuksean dalam proses belajar mengajar, juga perlu adanya motivasi yang dapat memacu semangat belajar siswa. Asumsi ini sejalan dengan pendapat Sardiman yang mengatakan bahwa seseorang itu akan mendapat hasil yang diinginkan dalam belajar bila dalam dirinya terdapat keinginan untuk belajar. Sebaliknya, apabila motivasi dalam belajar siswa rendah, makan hasil yang didapatkan pun akan tidak maksimal. Untuk itu, perlu adanya komunikasi yang seimbang antara guru dan murid dalam mengonsepkan cara belajar yang sesuai dengan kebutuhan. (*)