Metode Card Sort sebagai Optimalisasi Menghafal Huruf Hijaiyyah

Oleh: Siti Maryam, S.Pd.I
Guru SDN 03 Pedurungan, Kec. Taman, Kab. Pemalang

PENDIDIKAN Agama Islam (PAI) dalam pembelajaran di sekolah berupa pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama, serta menjadikannya sebagai way of the life (jalan kehidupan). Pendidikan Agama Islam sebagai bagian dari Kurikulum 2013 memiliki peran yang sangat penting terkait dengan pendidikan karakter sebagai tujuannya.

Selamat Idulfitri 2024

PAI menghimpun kompetensi pengetahuan, sistem nilai dan kompetensi keterampilan yang diaktualisasikan dalam sikap atau watak Islami. Pendidikan Islam menjadi jembatan dalam menata karakter individu dan sosial yang dapat menyebabkan seseorang tunduk serta taat kepada Islam. Kemuidan menerapkannya secara sempurna di dalam kehidupan individu dan masyarakat (Abdurahman, 2009).

Ruang lingkup pendidikan Agama Islam juga identik dengan aspek-aspek pengajaran yang terkandung di dalamnya. Dimana nantinya, aspek ini mampu memadukan materi dengan hal-hal yang aplikatif. Jika dilihat dari segi pembahasannya, maka ruang lingkup pendidikan Agama Islam yang umum dilaksanakan di sekolah adalah pengajaran Keimanan, pengajaran Akhlak, pengajaran Ibadah, pengajaran Fiqih, pengajaran Al-Qur’an dan Sejarah Islam.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Sebagai media refleksi umat Islam, harus diakui bahwa dunia pendidikan Islam masih diselimuti berbagai masalah yang belum terselesaikan dari masa ke masa. Salah satunya yaitu bagaimana cara atau strategi yang baik untuk menerapkan pembelajaran materi agar dapat dipahami secara baik oleh siswa.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, proses pembelajaran di sekolah SD Negeri 03 Pedurungan menunjukkan hasil belajar siswa yang kurang aktif dan seringkali membosankan. Misalnya, pada kasus siswa dalam belajar mengenai materi mengenal tanda baca dan huruf hijaiyah di kelas 2, yang merupakan kegiatan hafalan dan keterampilan membaca.

Kemampuan membaca huruf hijaiyah menjadi penting karena sebagai medium untuk mampu membaca huruf-huruf Al-Qur’an sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar (Setianingsih, 2016:8). Metode yang masih digunakan yaitu dengan metode ceramah dan penugasan dengan menggunakan buku cetak dan LKS. Sehingga siswa kurang termotivasi dalam belajar.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Selain itu, juga terdapat permasalahan dimana siswa tidak masuk kelas, siswa mengerjakan tugas dengan kurang teliti (tergesa-gesa), siswa kurang fokus dalam belajar, serta banyak siswa yang mengantuk, ngobrol sendiri, sehingga suasana belajar terkesan kaku. Hal ini membuat pembelajaran menjadi tidak kondusif dan siswa menjadi pasif. Selain itu, keterbatasan media yang digunakan guru juga membuat siswa merasa bosan dan cenderung cuek.

Metode yang dirasa cocok untuk siswa kelas 2 yang memiliki karakter suka bermain ialah dengan sarana benda-benda, contohnya kartu berkarakter. Pembelajaran dengan menggunakan metode card sort mengarah pada strategi pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Metode card sort adalah kegiatan kolaboratif yang biasa digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik, klarifiksi, fakta tentang obyek atau me-review ilmu yang telah diberikan sebelumnya. Gerakan fisik yang dominan dalam metode ini dapat membantu menggairahkan siswa yang kelelahan dengan proses pembelajaran.

Metode card sort memiliki kelebihan, dimana dapat membantu menggairahkan siswa yang merasa penat terhadap pelajaran yang telah diberikan, serta dapat membina siswa untuk bekerjasama dan mengembangkan sikap saling menghargai pendapat. Pelaksanaannya sangat sederhana dan siswa mudah dalam mengelompokkan kata yang sama, sehingga mudah dalam memahami materi pelajaran.

Dengan penerapan metode card sort dalam pembelajaran, siswa mampu menghafal tanda baca dan membaca huruf hijaiyah dengan mudah dan menyenangkan. Sehingga siswa termotivasi untuk meningkatkan pengetahuan, berani berinteraksi dengan teman belajar, dan meningkatkan percaya diri serta hasil belajar siswa. (*)