Metode Pemberian Balikan untuk Tingkatkan Motivasi Belajar Matematika

Oleh: Suwarti, S.Pd.
Guru SDN 02 Tambakrejo, Kec. Tambakrejo, Kab. Pemalang

PADA abad 21 ini, kita perlu menelaah kembali praktik-praktik pembelajaran di sekolah. Peranan yang harus dimainkan oleh dunia pendidikan dalam mempersiapkan anak didik untuk berpartisipasi secara utuh dalam kehidupan bermasyarakat di abad 21, akan sangat berbeda dengan peranan tradisional yang selama ini dipegang oleh sekolah-sekolah.

Selamat Idulfitri 2024

Ada persepsi umum yang sudah berakar dalam dunia pendidikan dan juga sudah menjadi harapan masyarakat. Persepsi umum ini menganggap bahwa sudah merupakan tugas guru untuk mengajar dan menyodori siswa dengan muatan informasi dan pengetahuan. Guru perlu bersikap atau setidaknya dipandang oleh siswa sebagai yang maha tahu dan menjadi sumber informasi.

Lebih celaka lagi, siswa belajar dalam situasi yang membebani dan menakutkan karena dibayangi oleh tuntutan-tuntutan mengejar nilai-nilai tes dan ujian yang tinggi. Dalam upaya peningkatan kualitas sekolah, tenaga kependidikan yang meliputi, tenaga pendidik, pengelola satuan pendidikan, penilik, pengawas, peneliti, teknis sumber belajar, sangat diharapkan berperan sebagaimana mestinya dan sebagai tenaga kependidikan yang berkualitas.

Tenaga pendidik/guru yang berkualitas adalah tenaga pendidik/guru yang sanggup dan terampil dalam melaksanakan tugasnya. Tugas utama guru adalah bertanggung jawab membantu anak didik dalam hal belajar. Dalam proses belajar mengajar, gurulah yang menyampaikan pelajaran, memecahkan masalah-masalah yang terjadi dalam kelas, membuat evaluasi belajar siswa, baik sebelum, sedang maupun sesudah pelajaran berlangsung (Febrianto, dkk, 2020).

Untuk memainkan peranan dan melaksanakan tugas-tugas itu, seorang guru diharapkan memiliki kemampuan profesional yang tinggi. Dalam mengenal siswa-siswanya dengan baik, guru perlu memiliki kemampuan untuk melakukan diagnosis serta mengenal dengan baik cara-cara yang paling efektif. Terutama untuk membantu siswa tumbuh sesuai dengan potensinya masing-masing. Setiap akan mengajar, guru perlu membuat persiapan mengajar dalam rangka melaksanakan sebagian dari rencana bulanan dan rencana tahunan.

Persiapan tersebut meliputi tujuan mengajar, pokok yang akan diajarkan, metode mengajar, bahan pelajaran, alat peraga dan teknik evaluasi yang digunakan. Karena itu, setiap guru harus memahami benar tentang tujuan mengajar. Secara khusus memilih dan menentukan metode mengajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Sementara itu, teknologi pembelajaran adalah salah satu dari aspek tersebut yang cenderung diabaikan oleh beberapa pelaku pendidikan, terutama bagi mereka yang menganggap bahwa sumber daya manusia pendidikan, sarana dan prasarana pendidikanlah yang terpenting. Padahal kalau dikaji lebih lanjut, setiap pembelajaran pada semua tingkat pendidikan baik formal maupun non formal, haruslah berpusat pada kebutuhan perkembangan anak sebagai calon individu yang unik, sebagai makhluk sosial, dan sebagai calon manusia seutuhnya.

Hal tersebut dapat dicapai apabila dalam aktivitas belajar mengajar, guru senantiasa memanfaatkan teknologi pembelajaran yang mengacu pada pemberian dan penyampaian materi yang mudah diserap peserta didik atau siswa. Khususnya dalam pembelajaran matematika, agar siswa dapat memahami materi yang disampaikan guru dengan baik, guru bisa memodifikasi pembelajaran dengan metode balikan.

Guru dapat membuka pelajaran dengan menyampaikan kata kunci, tujuan yang ingin dicapai. Baru kemudian memaparkan isi dan diakhiri dengan memberikan soal-soal kepada siswa. Untuk melaksanakan pembelajaran dengan metode pemberian balikan, memerlukan persiapan yang cukup matang.

Guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan pembelajaran dengan metode pemberian balikan dalam proses belajar mengajr sehingga diperoleh hasil yang optimal. Guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai macam metode pembelajaran walau dalam taraf yang sederhana. Dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru dan memperoleh konsep dan keterampilan. Sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. (*)