Cooperative Script untuk Memudahkan Siswa Belajar Sejarah

Oleh: Dedi Setiawan, S.Pd. SD
Guru SDN 05 Pedurungan, Kec. Taman, Kab. Pemalang

KEGIATAN belajar mengajar dengan alokasi waktu yang terbatas menjadi tantangan tersendiri bagi guru, terutama guru SD. Di dalam keterbatasan, guru tetap berkewajiban mentransfer ilmu kepada peserta didik sesuai amanat Undang-undang. Dengan kata lain, keterbatasan waktu tidak bisa menjadi alasan bagi pendidik untuk tidak menuntaskan sejumlah kompetensi. Justru, guru dituntut untuk mencari solusi agar siswa dapat menuntaskan sejumlah kompetensi bahkan melampaui KKM.

Selamat Idulfitri 2024

Di kelas tinggi, beberapa guru menggunakan model pembelajaran kooperatif untuk muatan pelajaran dan kompetensi dasar tertentu. Tidak terkecuali guru kelas VI SD Negeri 05 Pedurungan, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang. Pada muatan pelajaran IPS, kompetensi memahami sejarah kerajaan Hindu, Buddha, dan Islam di Indonesia, guru menggunakan model pembelajaran Cooperative Script.

Taniredja, Faridli dan Harmianto (2011: 101) mengatakan bahwa Skrip Kooperatif merupakan model belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari. Pada praktik pembelajaran di kelas, guru menggunakan langkah-langkah untuk menerapkan Cooperative Scripts sebagai berikut, guru membagi siswa menjadi beberapa pasangan, guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Materi yang dibagikan kepada setiap siswa merupakan materi yang terdapat pada buku siswa atau buku pendamping yang relevan tentang sejarah kerajaan Hindu, Buddha, dan Islam di Indonesia kepada anak. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa  yang berperan sebagai pendengar. Selanjutnya, pembicara membacakan ringkasannnya selengkap mungkin dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya.

Sementara itu, para pendengar menyimak/mengoreksi/melengkapi ide-ide pokok yang kurang lengkap, membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya. Kemudian para peserta didik dapat bertukar peran, yang semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Kemudian lakukan seperti proses di awal. Terakhir, merumuskan simpulan bersama-sama siswa dan guru.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Pada pembelajaran Cooperative Script terjadi kesepakatan antara siswa tentang aturan-aturan dalam berkolaborasi. Masalah yang dipecahkan bersama akan disimpulkan bersama. Peran guru hanya sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa untuk mencapai tujuan belajar.

Model pembelajaran Cooperative Script baik digunakan dalam pembelajaran untuk menumbuhkan ide-ide atau gagasan baru, daya berfikir kritis serta mengembangkan jiwa keberanian dalam menyampaikan hal-hal baru yang diyakininya benar. Beberapa kelebihan dari model pembelajaran Cooperative Script sebagai berikut: melatih pendengaran, ketelitian/kecermatan, setiap siswa mendapat peran, melatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Sementara kelemahan dari model pembelajaran ini yaitu, hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu, hanya dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang tersebut). Sedangkan tujuan dari model pembelajaran kooperatif tipe script adalah siswa dapat belajar mandiri dari suatu tugas, dan dapat mengajarkannya pada peserta lain (pasangannya).

Terlepas dari kelemahan yang dimiliki, Cooperative Script terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada kompetensi memahami sejarah kerajaan Hindu, Buddha, dan Islam di Indonesia. Selain itu, secara bertahap siswa terlatih untuk belajar mandiri dalam kelompok kecilnya. Dalam hal ini, penulis menyarankan agar model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Script dapat diterapkan oleh guru lain pada mutan pelajaran yang sama atau pada muatan pelajaran lainnya. (*)