Demak  

Kasus DBD Terbanyak Tahun 2015

LAYANAN: Suasana Puskesmas Mranggen 3 Kabupaten Demak saat melayani pasien, kemarin (17/7). (Muhammad Fajar Syafiq Aufa/ Joglo Jateng)

DEMAK, Joglo Jateng – Jumlah penderita Demam Berdarah Dangue (DBD) di Kabupaten Demak dari tahun 2014 sampai 2022 mengalami naik turun.  Hal itu berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan (Dinkes) daerah setempat.

Tri Handayani selaku sub Kordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes menuturkan, kasus DBD tahun 2022 di daerah ini meningkat dibanding 2021. Hal itu dikarenakan pihaknya fokus dalam menanggulangi Covid-19.

“Semua konsentrasi ke covid kemarin itu, dengan itu kita terlena. Karena pada saat covid, kita juga di suruh diam di rumah, dibatasi semua. Dengan itu kami tidak bisa memberikan sosialisasi kepada masyarakat terkait DBD,” ungkapnya Rabu (20/7).

Baca juga:  13 Pangkalan LPG di Karanganyar Terdampak Banjir, Penyaluran Terhenti

Menurutnya, dalam menangani kasus DBD yang meningkat ini, pihaknya sudah melakukan sosialisasi bersama. Selain itu juga telah melakukan tindakan fogging

“Kita sosialisasikan terus, lewat radio. Pokoknya semua lini kita libatkan. Untuk tindakan langsungnya, kita juga lewat penyemprotan fogging, kalau memang itu sesuai kriteria,” paparnya.

Oleh sebab itu, ia berpesan kepada masyarakat harus sering melakukan 3M. Karena itu yang paling efektif dalam mencegah DBD. Menurutnya, jangan mengharapkan untuk terus dilakukan penyemprotan fogging karena disisi lain juga berbahaya

“Kepada masyarakat untuk tidak fogging minded. Karena selain tidak efektif dan itu juga ada bahan penyampurnya seperti solar dan itu kalau terhirup malah berbahaya apalagi untuk ibu hamil, anak-anak bahkan untuk bayi. Fogging hanya mematikan nyamuk yang dewasa saja. Untuk jentik dan telur nyamuk tidak. Dengan itu masyarakat harus berperan juga dalam pemberantasan sarang nyamuk dengan tindakan 3 M. Yakni mengubur barang bekas, menutup tandon yang ada airnya dan menguras air yang sudah lama,” bebernya.(cr10/ziz)