Komisi E: Karakter Anak Perlu Ditempa di Sekolah dan Keluarga

DISKUSI: Anggota Komisi E DPRD Jateng Yudi Indras (pegang mic) bersama narasumber lain dalam acara ‘Ngobrol Bareng Dewan (Ngode)’ yang diselenggarakan di Kota Semarang, belum lama ini. (HUMAS/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Pembangunan karakter anak bangsa masih menjadi subjek pembahasan yang menarik. Hal itu mengingat memasuki tahun pembelajaran 2022/2023, sekolah sudah menerapkan pembelajaran tatap muka dan jam pembelajaran seperti sediakala.

Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah Yudi Indras Wiendarto mengatakan, pembentukan karakter anak di sekolah perlu dibangun untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi kondisi sosial di sekolah. Terlebih mereka selama ini melakukan pembelajaran secara daring selama kurang lebih 2 tahun akibat pandemi Covid-19. Tak hanya itu, pendidikan karakter ini dapat dibentuk dari lingkup yang terkecil yaitu keluarga.

Selamat Idulfitri 2024

Hal tersebut disampaikan Yudi dalam acara ‘Ngobrol Bareng Dewan (Ngode)’ yang diselenggarakan di Kota Semarang, belum lama ini. Hadir pula dalam kesempatan tersebut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng Uswatun Hasanah, Kepala Bidang Pemeriksaan Laporan Ombudsman RI Jawa Tengah Sabarudin Hulu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Tengah (DP3AKB) Retno Sudewi, serta perwakilan Ketua OSIS SMA 5 Kota Semarang.

Baca juga:  DPRD Jateng Ajak Generasi Muda Tingkatkan Pengetahuan & Kapasitas Politik

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng Uswatun Hasanah berpendapat bahwa sebenarnya anak sudah mempunyai karakter sejak lahir dan karakter tersebut dapat diperkuat dengan pendidikan, lingkungan, dan kegiatan yang dilakukan.

“Mengenai penguatan karakter, sebenarnya setiap anak lahir sudah mempunyai karakter. Namun di satuan pendidikan perlu ada pendidikan karakter, sehingga setelah lulus anak-anak dapat hidup lebih baik. Hal lain yang dapat mengembangkan karakter yaitu dengan pembelajaran project learning. Dengan begini anak-anak dapat berkolaborasi dan berkumpul dengan anak lain dengan berbagai karakter, sehingga mereka juga dapat mempelajari bagaimana menghadapi seseorang dengan karakter tertentu, hal tersebut juga memicu anak-anak untuk dapat lebih mengeksplorasi kemampuan diri,” paparnya.

Baca juga:  Pascabanjir, SDN Tambakrejo 01 Bersih-bersih Kelas

Sabarudin Hulu, Kepala Bidang Pemeriksaan Laporan Ombudsman RI Jawa Tengah menimpali hal tersebut dengan mengungkapkan bahwa pendidikan karakter yang berkualitas juga memerlukan usaha dan standar tertentu. Standar yang dimaksud Sabarudin yaitu bagaimana kualitas guru dalam memberikan pendidikan karakter.

“Pendidikan karakter yang berkualitas juga memerlukan usahan dan juga standar tertentu dalam pelaksanaannya. Standar dalam hal ini yaitu bagaimana kualitas guru dalam memberikan pendidikan karakter tersebut. Dengan memberikan contoh yang baik secara langsung dan kehidupan sehari-hari menurut saya hal tersebut menjadi standar yang baik dalam memberikan pendidikan karakter,” jelasnya.

Baca juga:  Pemkot Semarang Gelar Tebus Paket Suka-suka bagi Warga Terdampak Banjir

Retno Sudewi, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Tengah (DP3AKB) berharap pelaksanaan pendidikan karakter kepada anak-anak di Jawa Tengah dapat lebih digencarkan. Karna hal ini juga dapat mendukung program “Jo Kawin Bocah” milik DP3AKB Jateng dimana anak-anak dicegah untuk nikah di bawah umur 19 tahun karena memiliki dampak yang kurang baik. (hms-anf/gih)