Belajar PPKn Asyik dengan Role Playing

Oleh: Sofiyah, S.Pd
Guru SDN 02 Asemdoyong, Kec. Taman, Kab. Pemalang

PENERAPAN pembelajaran di sekolah ke dalam kehidupan sehari-hari, terkadang tidak semudah yang dibayangkan oleh guru. Guru memberikan materi, menjelaskan, lalu siswa secara mandiri menerapkan pengetahuan yang didapat. Hal tersebut nyatanya sulit dilakukan oleh siswa, terutama siswa kelas 1 sampai 3 atau kelas rendah. Perubahan sistem pembelajaran klasikal dengan tatap muka menjadi sistem belajar dari rumah dengan metode daring, kemudian setelah 3 semester kembali menerapkan kelas tatap muka, menjadi tantangan tersendiri untuk guru dan siswa. Kompetensi membaca, menulis, dan berhitung yang seharusnya tuntas di kelas sebelumnya (kelas 1), tidak berhasil 100%.

Selamat Idulfitri 2024

Mengawali pembelajaran di awal tahun ajaran, pada muatan pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), materi yang diberikan adalah menerapkan hidup rukun di rumah dan sekolah. Guru menerapkan model pembelajaran Role Playing yang dilaksanakan di dalam kelas dengan membentuk kelompok kecil yang terdiri dari 3-4 siswa. Melalui model ini, guru berharap siswa dapat memahami tentang hidup rukun yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, hasil belajar juga diharapkan dapat meningkat secara signifikan pada kompetensi membaca, menulis, dan berhitung di kelas 2 SDN 02 Asemdoyong, Taman, Pemalang pada tahun ajaran 2022/2023.

Menurut Wahab (2009), bermain peran atau Role Playing adalah berakting sesuai dengan peran yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk tujuan-tujuan tertentu. Bermain peran dapat menciptakan situasi belajar yang berdasarkan pada pengalaman dan menekankan dimensi tempat dan waktu sebagai bagian dari materi pelajaran. Role Playing dapat menimbulkan pengalaman belajar, seperti kemampuan kerja sama, komunikatif, dan menginterpretasikan suatu kejadian. Dengan bermain peran, siswa mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antar manusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para siswa dapat mengeksplorasi perasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan strategi pemecahan masalah.

Praktik pembelajaran yang diterapkan oleh penulis tidak dilakukan di dalam kelas, melainkan di luar kelas dalam kelompok kecil. Pertama-tama, guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 3-4 siswa. Setiap kelompok mewakili keberagaman yang ada di lingkungan rumah atau sekolah, misal agama, suku bangsa, atau pekerjaan. Kemudian guru membacakan aturan dalam permainan Role Playing. Permainan dimulai setelah memberi aba-aba dan menentukan alokasi waktunya. Jika kelompok 1 telah selesai bermain peran, dilanjutkan dengan kelompok berikutnya sampai selesai, hingga semua kelompok bermain. Di akhir pembelajaran, guru melakukan evaluasi.

Role Playing memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan bermain peran antara lain: 1) dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa; 2) membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan; dan 3) siswa dapat terjun langsung untuk memerankan sesuatu yang akan dibahas dalam proses belajar. Sedangkan kelemahannya yaitu: 1) memerlukan waktu yang relatif panjang; 2) memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun siswa; 3) kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk memerankan suatu adegan tertentu; dan 4) apabila pelaksanaan Role Playing mengalami kegagalan, bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi tujuan pembelajaran juga tidak tercapai.

Semua metode pembelajaran pastilah memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, kelemahan tersebut setidaknya dapat diminimalisir dengan menonjolkan kelebihannya, dan terbukti dalam penerapannya Role Playing dalam pembelajaran belajar hidup rukun. Di kelas 2 SDN 02 Asemdoyong, dapat meningkatkan hasil belajar dan pengalaman yang berkesan bagi siswa. (*)