Tingkatkan Keterampilan Sains IPA Siswa Sekolah Dasar dengan Pembelajaran OEL

Oleh: Indah Khikmawati, S.Pd.
Guru SDN 02 Tambakrejo, Kec. Pemalang, Kab. Pemalang

PENDIDIKAN di Sekolah Dasar (SD) merupakan proses awal pembentukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik, salah satunya melalui pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Pembelajaran IPA di SD menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Masalah yang dihadapi pendidik dalam mata pelajaran IPA adalah pembelajaran masih bersifat teacher centered dan belum secara khusus melatih keterampilan proses dalam belajar IPA. Guru hanya memberikan informasi tentang konsep materi pelajaran IPA, sedangkan siswa hanya menerima informasi yang diberikan guru secara pasif. Siswa tidak diajarkan bagaimana proses mendapatkan konsep IPA yang sebenarnya.

Selamat Idulfitri 2024

Beberapa hal di atas menjadi bukti bahwa pembelajaran belum optimal. Pembelajaran pada umumnya masih didominasi oleh guru. Guru adalah satu-satunya sumber ilmu, sehingga siswa cenderung pasif dan hanya mendengarkan apa yang disampaikan guru, akibatnya siswa tidak mengembangkan kemampuannya untuk menggali segala fenomena alam di bidang IPA. Kegiatan percobaan umumnya jarang dilakukan, apalagi keterlibatan dalam merancang percobaan. Akibatnya, kegiatan diskusi antar kelompok, interaksi antar siswa, serta sosialisasi antar siswa cenderung kurang. Pelaksanaan pembelajaran membuat siswa bosan dan kurang menarik karena kurang keterlibatan fisik dan psikis siswa.

Pembelajaran teacher centered tidak memberi ruang lebih bagi siswa untuk membangun pengetahuan melalui proses belajar mandiri dengan bimbingan guru. Perubahan paradigma pembelajaran dari teacher centered ke student centered memberi ruang lebih bagi siswa untuk menemukan dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Dengan melihat kekurangan-kekurangan di atas, perlu dicari cara pemecahannya agar keterampilan proses siswa dapat terlatih. Salah satu alternatif solusi agar pembelajaran berjalan dengan menyenangkan dan siswa tidak merasa bosan dikelas saat mengikuti pelajaran yaitu dengan menggunakan model pembelajaran.

Salah satu model pembelajaran yang relevan dengan kurikulum 2013 adalah model pembelajaran open-ended berbasis keterampilan proses. Pembelajaran dengan model open-ended tidak hanya memberikan masalah-masalah terbuka kepada siswa untuk diselesaikan, tetapi juga harus menjamin keterbukaan aktivitas siswa dalam proses pembelajarannya. Model open-ended adalah model pembelajaran yang melibatkan siswa memecahkan masalah-masalah terbuka sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan yang baru, difokuskan pada aspek proses untuk menemukan strategi-strategi atau metode-metode untuk menemukan solusi-solusi dari masalah. Masalah yang menuntut pemahaman konsep siswa adalah masalah yang bersifat terbuka. Jenis masalah ini dapat mengembangkan berbagai aspek kemampuan siswa. Pembelajaran dengan open-ended problem akan membuat kegiatan pembelajaran menjadi lebih bersifat student oriented.

Model pembelajaran Open Ended Learning (OEL) atau masalah terbuka adalah suatu model pembelajaran yang memanfaatkan permasalahan yang diformulasikan sedemikian rupa, sehingga memberikan peluang munculnya berbagai macam jawaban dengan berbagai strategi atau cara masing-masing Model pembelajaran OEL ini melatih dan menumbuhkan orisinalitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dituntut untuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban. Selanjutnya, siswa juga diminta untuk menjelaskan proses pencapaian jawaban tersebut. Dengan demikian, model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentuk pola pikir, keterpaduan, keterbukaan, dan ragam berpikir. Kelebihan model OEL yaitu: (1) siswa berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran dan sering mengekspresikan idenya; (2) siswa memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan secara komprehensif; (3) siswa dengan kemampuan rendah dapat merespons permasalahan dengan cara mereka sendiri; (4) siswa secara intrinsik termotivasi untuk memberikan bukti atau penjelasan; serta (5) siswa memiliki pengalaman banyak untuk menemukan sesuatu dalam menjawab permasalahan. Sedangkan kekurangan pembelajaran OEL yaitu: (1) membuat dan menyiapkan masalah yang bermakna bagi peserta didik bukanlah pekerjaan yang mudah; (2) mengemukakan masalah yang langsung dapat dipahami peserta didik sangat sulit, sehingga banyak yang mengalami kesulitan bagaimana merespons permasalahan yang diberikan; (3) peserta didik dengan kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau mencemaskan jawaban mereka; (4) terdapat kemungkinan sebagian peserta didik merasa bahwa kegiatan belajar menjadi tidak menyenangkan karena kesulitan yang dihadapi. (*)