Tingkatkan Kreativitas Pembelajaran IPA Bermakna dengan Pendekatan STEM

Oleh: Titis Prihatiningsih, S.Pd.SD
Guru SD Negeri 2 Wanakarsa, Kec. Wanadadi, Kab. Banjarnegara

DI masa yang akan datang, peserta didik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan bekal kepada peserta didik, agar dapat bertahan hidup dalam perubahan-perubahan tersebut melalui sebuah pembelajaran yang banyak mengeksplorasi berbagai keterampilan sosial.

Selamat Idulfitri 2024

Keterampilan sosial merupakan aspek yang diperlukan oleh masyarakat global yang semakin demokratis. Pembelajaran yang berhasil dan berdaya guna juga ditandai dengan tingginya kegiatan dan partisipasi siswa dalam lingkungan belajar. Partisipasi siswa yang tinggi dalam belajar dapat dicapai dengan penggunaan metode pembelajaran yang tepat dan efektif, yakni metode yang dapat menumbuhkembangkan dan meningkatkan aktivitas dan kreativitas belajar siswa secara signifikan. Hal ini didasari oleh asumsi, bahwa ketepatan guru dalam memilih model dan metode pembelajaran akan berpengaruh terhadap keberhasilan belajar, karena model dan metode pembelajaran yang digunakan oleh guru akan berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran yang dilakukannya.

Keterampilan belajar pada abad 21 telah banyak dikembangkan, salah satunya adalah kemampuan berkomunikasi. Pembelajaran IPA dan matematika di sekolah dasar pada umumnya hanya bersifat teoritis, belum aplikatif. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, banyak permasalahan yang diselesaikan dengan cara IPA dan matematika. Sehingga pembelajaran IPA dan matematika harus berbasis masalah dan siswa belajar untuk mengomunikasikan, baik itu secara tertulis ataupun secara lisan. Hal ini menyebabkan tingkat ketercapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran IPA dan matematika di sekolah masih tergolong kecil. Untuk lebih meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah khususnya dalam peningkatan matematika, salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut dengan Science Technology Engineering and Mathematics (STEM). Pembelajaran dengan pendekatan STEM dapat melatih siswa dalam pemecahan suatu masalah dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi.

Terdapat berbagai macam manfaat pembelajaran berbasis STEM. Bagi Siswa, STEM dapat memberikan latihan menyelesaikan sebuah masalah sehari-hari dengan pembelajaran bermakna (meaningful learning) agar tidak mudah terlupakan, memberikan pengalaman secara langsung bagi siswa, serta meningkatkan kemampuan berkomunikasi siswa. Sedangkan bagi guru, STEM dapat memberikan sumbangan pemikiran tentang pentingnya implementasi pembelajaran sains yang menuntut pergeseran metode penilaian, dari penilaian konvensional bertumpu pada ujian ke arah penilaian otentik yang menekankan penilaian kinerja dan produk, sehingga diminati siswa yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Sintaks pembelajaran berbasis STEM selama kegiatan pembelajaran, yaitu tahap mengidentifikasi masalah, tahap bertukar pikiran, tahap mendesain, tahap membangun, tahap evaluasi dan desain ulang, serta tahap berbagi solusi. Keenam tahap tersebut merupakan kunci utama dalam meningkatkan kemampuan komunikasi siswa. Tahap-tahap pembelajaran dalam pembelajaran berbasis STEM menggambarkan bahwa paradigma pembelajaran sudah mulai bergeser dari pembelajaran yang berpusat pada guru ke pembelajaran yang berpusat pada siswa. Walaupun dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis STEM ini bersifat baru bagi guru, tapi ternyata guru mampu melaksanakannya sesuai langkah yang sesuai dengan sintaks dari metode tersebut.

Pembelajaran berbasis STEM bagi guru merupakan suatu pembelajaran yang menuntut aktivitas dan keterlibatan mental siswa untuk memahami dan memecahkan suatu permasalahan pembelajaran melalui sebuah proyek yang harus diselesaikan. Di tingkat siswa, pembelajaran itu harus benar-benar menantang. Mereka perlu diajak untuk berpikir, benar-benar ditantang dan mereka mendapatkan dukungan dari para guru mereka. Siswa perlu didorong untuk terlibat dalam proyek, kegiatan memecahkan masalah dan kegiatan berpikir kritis. Guru yang menjalankan pendidikan STEM perlu berpikir mengenai fleksibilitas dalam pembelajaran

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi input bagi sekolah dam melaksanakan pembinaan dan pengembangan para guru untuk meningkatkan efektivitas dan kreativitas pembelajaran di dalam kelas. (*)