Menginspirasi Prestasi Sekolah dengan Tagline Terintegrasi Budaya Sekolah

Oleh: Farid Suwaryo, S.Pd.
Kepala SDN 2 Kasilib, Kec. Wanadadi, Kab. Banjarnegara

MENGHADAPI abad 21, tuntutan terhadap peningkatan kualitas pendidikan semakin kuat. Hal ini dikarenakan adanya tuntutan antara lain kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, persaingan global yang semakin ketat, dan kesadaran masyarakat akan pendidikan yang berkualitas semakin tinggi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi akhir-akhir ini telah membawa dampak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, sehingga permasalahan dapat dipecahkan dengan mengupayakan penguasaan serta peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selamat Idulfitri 2024

Untuk meningkatkan layanan SDN 2 Kasilib, Kec. Wanadadi, Banjarnegara yang berorientasi pada mutu dan efisiensi, perlu adanya perubahan budaya mutu yang harus direncanakan oleh elemen penyelenggara pendidikan khususnya kepala sekolah, guru dan stakeholder pendidikan yang mencakup empat elemen, yaitu nilai (value), norma, ideologi, dan teknologi.

Beberapa langkah inovasi yang dikembangkan melibatkan stakeholder pendidikan dan bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan. Guna mewujudkan budaya mutu di SDN 2 Kasilib, tim pengembang sekolah dan tim penjamin mutu pendidikan sekolah harus bekerja ekstra keras, dimulai dari analisis terhadap Evaluasi Diri Sekolah, penetapan program-program yang lebih berorientasi pada kebutuhan masyarakat selanjutnya dengan segera tertuang melalui Rencana Kerja Jangka Menengah atau Rencana Kerja Sekolah dalam empat tahun ke depan.

Berdasarkan analisis masalah di SDN 2 Kasilib, diperoleh data bahwa pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter dan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) belum dilaksanakan secara optimal. Di mana pada implementasi penguatan pendidikan karakter (PPK), belum dilaksanakan dengan mempergunakan tiga basis pendekatan utama PPK, yaitu pendidikan karakter berbasis kelas, pendidikan karakter berbasis budaya sekolah, dan pendidikan karakter berbasis masyarakat

Sebagai salah satu desain induk penumbuhan budi pekerti, GLS perlu melibatkan para pemangku kepentingan secara terprogram dengan satu tujuan agar peserta didik, terutama di tingkat pendidikan dasar, menjadi insan berbudaya literasi. Untuk itu, langkah-langkah konkret dan terpadu mengimplementasikan GLS di SDN 2 Kasilib. Melalui pengembangan budaya sekolah yang dilakukan secara dinamis serta berpijak pada nilai, norma, serta filosofi yang disepakati oleh segenap stakeholder, pendidikan di sekolah akan mampu menumbuhkembangkan sekolah menjadi pusat pengembangan dan pendewasaan peserta didik.

Pemahaman terhadap nilai budaya sekolah di SDN 2 Kasilib diharapkan mampu meningkatkan kinerja guru dan seluruh karyawan, serta meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah melalui program-program yang digulirkan, guna mewujudkan sekolah standar nasional sesuai dengan standar pelayanan minimal (SPM). Adapun Nilai Inti yang dapat dikembangkan di SDN 2 Kasilib adalah berupa Slogan “WE ARE THE BEST” yang secara harfiah menyatakan bahwa kami menjadi yang terbaik. Slogan ini terdiri dari 12 huruf yang merupakan akronim dari : W= Wirausaha, E= Efektif, A= Adaftif, R= Relasi, E= Empiris, T= Toleransi, H = Healty, E= Effisiensi, B= Bekerja Keras, E= Excellent Services, S= Sinergitas, dan T= Trust.

Menurut Nana Sudjana (2000, di Muhammad Nurdin (2003: 7), pemahaman tentang prestasi adalah sebuah keberhasilan yang dicapai oleh seorang siswa setelah mengikuti program instruksi dalam waktu tertentu kurang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Melalui sistem pembinaan yang terpadu dan berkelanjutan, seluruh program SDN 2 Kasilib memberikan penguatan kelembagaan. Peningkatan mutu sekolah melalui intervensi budaya berpengaruh pada perubahan budaya guru. Perubahan tersebut secara lebih lanjut mempengaruhi perubahan proses belajar-mengajar sehingga berdampak pada hasil belajar siswa. (*)