Edukasi Budaya Lingkungan untuk Hidup Berkelanjutan

  • Bagikan
Yayasan KEHATI bersama pemerintah Kabupaten Donggala mengajak pelajar sekolah dasar (SD) melakukan penanaman mangrove di Pantai Donggala, Sulawesi Tengah dalam peringatan hari mangrove sedunia pada Selasa, 26/7/2022. (ANTARA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng– Indonesia mengalami perkembangan populasi generasi muda dan akan menghadapi era Bonus Demografi pada dekade ini. Jika masa ini bisa dimanfaatkan dengan baik, bukan tidak mungkin jika Indonesia akan mencapai kemajuan yang luar biasa dalam hal sumber daya serta kemajuan bangsanya.

Mengingat kesempatan yang begitu besar tersebut, Direktur Kemitraan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jo Kumala Dewi mencatat pentingnya untuk menyiapkan generasi penerus yang sehingga mampi menjadi pionir kepedulian lingkungan hidup di masa yang akan datang.

Menurutnya, mengedukasi tentang budaya lingkungan terhadap generasi penerus bukanlah hal yang mudah. Perlu adanya proses serta kesabaran karena hasilnya tidak bisa dilihat secara langsung. Sehingga upaya peningkatan kualitas generasi penerus menjadi penting untuk dilakukan.

Jo mengatakan, menumbuhkan rasa cinta pada alam serta memahami esensi alam merupakan salah satu bagian dari proses edukasi budaya lingkungan. Sehingga di sini, pemaknaan edukasi tidak bisa jika hanya dipersempit sebatas pelajaran di bangku sekolah saja.

“Kalau saya selalu menerapkan 3M sedini mungkin, dimulai dari sekarang, dari hal kecil dan mulai dari diri kita sendiri,” ucapnya.

Baca juga:  Persiapkan Siswa dengan Budaya Prokes sebelum PTM

Langkah-langkah kecil tersebut dapat dimulai dengan mengajarkan menanam pohon di area rumah atau sekolahan, membuang sampah pada tempatnya, mengurangi menggunakan barang-barang berbahan dasar plastik, serta mengajarkan untuk mendaur ulang barang-barang yang sudah tidak terpakai namun bisa dialihfungsikan.

Untuk menjawab tantangan perkembangan permasalahan lingkungan melalui edukasi budaya lingkungan, Jo bersama KLHK telah membuat program Adiwiyata, yaitu dengan memberikan penghargaan pada sekolah-sekolah yang peduli terhadap lingkungan serta melakukan eduksi budaya lingkungan.

“Karena anak-anak yang terdidik inilah yang menjadi sasaran empuk dan sasaran yang tepat untuk diberikan pemahaman dalam mengubah perilaku,” tuturnya.

Menurut data yang didapatkan Jo dari tahun 2016 hingga tahun 2021, KLHK tercatat telah memberikan penghargaan Adiwiyata pada kurang lebih 4.700 sekolah di seluruh provinsi yang ada di Indonesia.

Meskipun begitu, Jo menilai bahwa jumlah tersebut masih terbilang rendah. Terutama jika mengingat persebaran sekolah yang ada di Indonesia mencapai puluhan ribu.

Namun ia tetap berharap dengan adanya edukasi budaya lingkungan, di masa yang akan datang generasi penerus bisa menjadi pemimpin yang memiliki kepedulian terhadap lingkungannya.

(ara/mg2)

  • Bagikan