Bisnis  

Generasi ke-3 Njonja Meneer, Tetap Bertahan Lestarikan Jamu

PRODUK: Seno Budiono saat menunjukkan salah satu produk jamu dalam kemasan tinggal seduh di Makuta Jamu Kafe, belum lama ini. (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

Njonja Meneer merupakan brand besar pada masanya. Seakan tak mau nama besar itu hilang, Seno Budiono terus memperjuangkannya. Dia mendirikan Makuta Jamu Kafe.

SETELAH perusahaan jamu Njonja Meneer dinyatakan bangkrut pada tahun 2017, Seno Budiono yang merupakan generasi ketiga Njonja Meneer, tetap melestarikan jamu dengan berinovasi mendirikan kafe yang bernama Makuta Jamu Kafe. Kafe miliknya menyediakan berbagai inovasi jamu dengan tujuan untuk mempertahankan brand milik keluarga agar tidak hilang begitu saja.

Seno bercerita bahwa kafe miliknya ia dirikan sejak 2019 lalu. Tak hanya menyajikan tempat yang nyaman untuk menarik perhatian, ia dan putranya berinovasi membuat menu yang unik dengan berbahan dasar jamu. Salah satunya ice cream jamu.

“Kan sayang kalau brand Njonja Meneer hilang begitu saja, jadi akhirnya saya dan anak saya mencoba mengembangkan dengan sesuatu yang baru. Kita mulai mengembangkan dengan menyajikan sesuatu yang berbeda, yaitu ice cream jamu, kalau biasanya jamu terkenal pahit dan ga enak, kita hilangkan pendapat itu,” ungkap Seno, saat ditemui belum lama ini.

Ia mengusung konsep jamu yang dibuat lebih modern dan dimodifikasi untuk menarik kalangan muda agar dapat mencintai jamu kembali. Mengingat di Indonesia memiliki ribuan herbal dengan berbagai manfaat di dalamnya.

“Karena ini kan warisan budaya Indonesia jangan sampai dilupakan,” tegasnya.

Ice cream jamu yang dibuat pun cukup beragam, anatara lain ada rasa STMJ (susu, telur, madu, jahe), kunir asem, daun kelor, dan beras kencur. “Kalau rasanya jadinya juga unik, rasanya jamu tapi dingin dan creamy,” katanya.

Untuk menemukan resep ice cream jamu ini, Seno mengaku butuh waktu yang lama untuk menemukan rasa yang pas. Sedangkan kini, untuk membuat ice creamnya menghabiskan waktu hingga dua hari.

“Ice cream jamu ini ide anak saya. Untuk buat ice creamnya cukup lama, sampai 2 hari. Contohnya saja ice cream daun kelor, kita harus mengeringkan dahulu daunnya, kemudian kita giling agar jadi serbuk, baru habis itu kita olah jadi ice cream dengan menambahkan bahan-bahan tambahan,” jelasnya.

Tidak hanya ice cream, Makuta Jamu Kafe ini juga menyediakan menu jamu seduh, jamu instan, dan makanan ringan hingga berat. Lokasi cafe ini berada di Jalan gang Pinggir Nomor 38 Semarang. Dan buka setiap hari, Senin-Kamis pukul 09.00 sampai 21.00. Sedangkan untuk hari Jumat-Minggu pukul 07.00 hingga 21.00.

Setelah tiga tahun berjuang untuk mengembangkan kafe, kini Seno mengaku, cukup berhasil. Sebab 85 persen pengunjungnya kini didatangi oleh kalangan muda.

“Tujuan kita kan untuk terus mengembangkan brand agar tidak mati serta mengenalkan jamu ke anak muda, dan syukur sekarang tujuan kita cukup berhasil, karena 85 persen yang datang ke sini anak muda,” tutupnya. (luk/gih)