Mudah Pahami Sumpah Pemuda dengan Think Talk Write

Oleh: Sri Budiyanti
Guru Kelas SD Negeri Balerejo 2, Kecamatan Dempet Kabupaten Demak

PPKn di tingkat persekolahan bertujuan untuk mempersiapkan para siswa sebagai warga Negara yang cerdas dan baik. Warga Negara yang dimaksud adalah warga Negara yang menguasai pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai yang dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Harapan dalam pendidikan kewarganegaraan ini agar menyadari bahwa perjuangan untuk memajukan bangsa Indonesia harus dilakukan dengan mempergunakan organisasi modern, baik pendidikan, perjuangan politik, perjuangan ekonomi, maupun perjuangan sosial budaya.

Selamat Idulfitri 2024

Satu fenomena yang merupakan sejarah yang sangat penting dalam proses penguatan konsep wawasan kebangsaan Indonesia terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928 yang dikenal dengan peristiwa Sumpah Pemuda.

Observasi di Kelas V SD Negeri Balerejo 2 Kecamatan Dempet Kabupaten Demak menunjukkan kenyataan bahwa dalam proses pembelajaran PPKn siswa masih nampak belum terlibat dalam proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dalam materi sumpah pemuda. Strategi yang digunakan monoton, sehingga siswa yang tidak aktif dan kurang termotifasi oleh guru mengakibatkan tidak tertarik dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan. Di samping itu juga prestasi hasil belajarnya yang kurang optimal. Selain itu juga melihat hasil tes pada akhir proses pembelajaran masih rendah. Maka diperlukan upaya untuk meningkatkan siswa dalam memahami materi sumpah pemuda. Salah satunya dengan strategi think talk write.

Strategi Think Talk Write adalah suatu model pembelajaran untuk melatih keterampilan siswa mengomunikasikan hasil pemikirannya. Stategi pembelajaran yang diperkenalkan oleh Huinker dan Laughlin ini pada dasarnya dibangun melalui berpikir, berbicara, dan menulis.

Alur kemajuan strategi TTW dimulai dari keterlibatan siswa dalam berfikir dan berdiaog dengan dirinya sendiri setelah proses membaca. Selanjutnya, berbicara dan membagi ide (sharing) dengan temannya sebelum menulis. Suasana seperti ini lebih efektif jika dilakukan dengan kelompok heterogen dengan 3-5 siswa. Dalam kelompok ini, siswa diminta membaca, membuat catatan kecil, menjealskan, mendengarkan, dan membagi ide bersama teman kemudian mengungkapkannya melalui tulisan. Aktivitas berfikir (think) dapat di dilihat dari proses membaca suatu teks bacaan, suatu materi pelajaran kemudian membuat catatan apa yang telah dibaca. Dalam tahap ini, siswa secara individu memikirkan kemungkinan jawaban (strategi penyelesaian), membuat catatan apa yang telah dibaca, baik itu yang berupa apa yang diketahuinya, maupun langkah-langkah penyelesaian dalam bahasanya sendiri. Setelah tahap “think” selesai dilanjutkan dengan tahap selanjutnya “talk” yaitu, berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata dan bahasa yang mereka pahami. Diskusi pada fase talk ini merupakan sarana untuk mengungkapkan dan merefleksikan pemikiran siswa. Pada tahap talk, tugas guru adalah sebagai fasilitator dan motivator. Sebagai fasilitator, guru senantiasa harus memberi arahan dan bimbingan kepada kelompok yang mengalami kesulitan. Dan sebagai motivator, guru senantiasa memberi dorongan kepada siswa yang merasa kurang percaya diri terhadap hasil pekerjaannya atau kelompok siswa yang mendapatkan jalan buntu menemukan suatu jawaban. Guru juga harus bisa memotivasi yang dalam kegiatan diskusi kurang aktif atau malah sangat pasif. Guru harus memberikan semangat kepada siswa siswa yang bersangkutan bahwa kegiatan diskusi yang sedang berlangsung adalah penting untuk dijalani, supaya mereka dapat memahamai sendiri. Fase “write”, yaitu menuliskan hasil diskusi atau pada lembar kerja yang disediakan (LKS). Aktifitas menulis berarti mengkonstuksi ide, karena setelah berdiskusi antarteman dan kemudian mengungkapkannya melalui tulisan. Aktifitas menulis akan membantu siswa dalam membuat hubungan dan juga memungkinkan guru melihat pengembangan konsep siswa. Tahap terakhir dari stategi ini adalah persentasi. Hal ini dimaksudkan agar siwa dapat membagi pendapat dalam ruang lingkup yang besar, yaitu dengan teman satu kelas.Persentasi ini disampaikan oleh salah satu perwakilan kelompok yang dilakukan di depan kelas.

Langkah-Langkah Strategi Think Talk Write yaitu: 1)Guru membagikan LKS yang memuat soal yang harus dikerjakan oleh siswa serta petunjuk pelaksanaannya. 2)Siswa membaca masalah yang ada dalam LKS dan membuat catatan kecil secara individu tentang apa yang ia ketahui dan tidak ketahui dalam masalah tersebut. 3)Guru membagi siswa dalam kelompok kecil (3-5 siswa). 4)Siswa berinteraksi dan berkalobarasi dengan teman atau grup untuk membahas isi catatan dari hasil ctatan (talk). 5)Dari hasil diskusi, siswa secara individu merumuskan pengetahuan berupa jawaban atau soal (berisi landasan dan keterkaitan konsep, metode, dan solusi). 6)Perwakilan kelompok menyajikan hasil diskusi kelompok, sedangkan kelompok lain diminta memberikan tanggapan. 7)Kegiatan akhir pembelajaran adalah membuat refleksi dan kesimpulan atas materi yang telah dipelajari.

Dengan menggunakan model think talk write siswa kelas V di SD Negeri Balerejo 2 Kecamatan Dempet Kabupaten Demak dapat menunjukan kemampuannya dalam belajar. Hal ini dikarenakan dalam strategi TTW mengharuskan untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting, yang dapat melatih keterampilan menulis siswa terutama dalam mencatat materi yang diberikan yaitu pada pokok bahasan sumpah pemuda, dengan menggunakan strategi Think Talk Write ini pula akhirnya dapat menumbuhkan rasa kreatif dan percaya diri pada diri siswa kelas V di SD Negeri Balerejo 2 Kecamatan Dempet Kabupaten Demak. (*)