Menentukan FPB dan KPK melalui Teknik Penubinan

Oleh: Suherlin, S.Pd.SD
SD Negeri 02 Banjardawa, Kec. Taman, Kab. Pemalang

MATEMATIKA merupakan pengetahuan yang universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia (BSNP, 2006). Matematika juga sebagai mata pelajaran yang penting yang harus dipelajari, matematika diberikan mulai dari pendidikan dasar sampai pada perguruan tinggi. Namun banyak siswa menganggap bahwa matematika merupakan pelajaran yang kurang menyenangkan. Hal tersebut haruslah menjadi bahan refleksi dalam melakukan pembelajaran. Penyajian materi yang dianggap terlalu membosankan perlu dilakukannya antisipasi dengan mencari suatu solusi alternatif dalam pembelajaran matematika. Sehingga pembelajaran dapat disajikan secara inovatif, menarik, diminati, dan mampu memotivasi siswa, serta nantinya diharapkan juga bisa meningkatkan prestasi belajar siswa.

Selamat Idulfitri 2024

Masalah tersebut juga terjadi di SD Negeri 02 Banjardawa. Berdasarkan pengamatan penulis, diperoleh fakta bahwa prestasi belajar siswa khususnya dalam pembelajaran matematika belum memperlihatkan peningkatan yang optimal. Hal ini dikarenakan guru hanya menggunakan metode ceramah dan penugasan saja. Pada metode penugasan ini, guru hanya menyuruh siswa untuk mengerjakan soal pada Lembar Kerja Siswa (LKS) yang diperoleh dari pembelian pada distributor buku. Kebanyakan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar hanya datang, mengikuti ceramah guru, melihat guru menulis di papan tulis, lalu mengingat segala informasi yang diberikan guru.

Materi faktor persekutuan terbesar (FPB) dan kelipatan persekutuan terkecil (KPK) ini merupakan materi yang diajarkan dari tingkat SD sampai SMP, dan banyak digunakan untuk memahami konsep matematika SMA. Konsep faktor, kelipatan, KPK, dan FPB di jenjang SD dan SMP, sering kali disajikan sangat mendasar, namun tidak secara utuh. Ada beberapa cara menentukan FPB dan KPK yang dikembangkan di tingkat SD, di antaranya adalah menggunakan cara atau model pohon faktor dan juga model tabel. Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan adalah metode penubinan (drill).

Metode penubinan adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dengan jalan atau cara melatih siswa agar menguasai pembelajaran dan terampil dalam melaksanakan tugas latihan yang diberikan (Tayar dan Anwar, 1995). Metode ini hanya dipakai untuk bahan pelajaran kecekatan yang bersifat rutin dan otomatis (Zuhairini, dkk, 1983). Oleh karena itu, metode penubinan ini cocok diterapkan untuk pembelajaran matematika, karena dalam pembelajaran matematika dibutuhkan kecepatan yang bersifat rutin dan otomatis dalam menjawab soal. Pelaksanaan metode penubinan dalam pembelajaran matematika dilaksanakan dengan cara latihan yang berulang-ulang yang digunakan oleh guru untuk mengaktifkan kegiatan belajar siswa. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan metode penubinan ini adalah: 1) tujuan harus dijelaskan kepada siswa, sehingga selesai latihan mereka diharapkan dapat mengerjakan dengan tepat sesuai apa yang diharapkan; 2) tentukan dengan jelas kebiasaan yang dilatih, sehingga siswa mengetahui apa yang harus dikerjakan; 3) lama latihan harus disesuaikan dengan kemampuan siswa; 4) selingi latihan agar tidak membosankan; dan 5) perhatikan kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan siswa untuk perbaikan secara klasikal, sedangkan kesalahan perorangan dibetulkan secara perorangan pula.

Dari hasil evaluasi, dapat dibuktikan bahwa penerapan metode penubinan pada pembelajaran matematika materi FPB dan KPK di SDN 02 Banjardawa Kec. Pemalang Kab. Pemalang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VI. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata kelas yang meningkat dan siswa yang mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mencapai 93%. (*)