Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran

Oleh: Sri Istati, S.Pd.SD
Guru SDN 03 Kebagusan, Kec. Ampelgading, Kab. Pemalang

PENINGKATAN kualitas pembelajaran dilakukan supaya terwujud model pembelajaran bahasa yang menarik, karena pembelajaran bahasa dapat dipadukan dengan pembelajaran bidang studi lain. Namun, siswa sekolah dasar (SD) merasa pembelajaran bahasa Indonesia membosankan. Oleh sebab itu, diperlukan kompetensi dan kreativitas pengajar dalam memilih atau menentukan materi yang sesuai untuk setiap pelajaran, agar kualitas lulusan sesuai dengan standar kompetensi lulusan yang ditetapkan. Sebagai guru yang harus mempunyai sejuta cara dan metode, maka untuk mengatasi kebosanan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia dilakukan dengan menerapkan ‘Model Pembelajaran Kreatif dan Produktif’

Selamat Idulfitri 2024

Berdasarkan penelitian Sakdiah (2001: 32), disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya apresiasi sastra di SD membosankan. Hal itu disebabkan guru tidak menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi, dan tidak memadukan empat aspek keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) dalam setiap kegiatan pembelajaran apresiasi sastra. Sejalan dengan tujuan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (2007: 3.18), yakni strategi untuk memperbaiki mutu pendidikan melalui berbagai upaya, antara lain memperkenalkan model-model pembelajaran baru dan inovatif.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Kreatif dan Produktif yaitu: 1) Orientasi. Pendidik mengkomunikasikan tujuan, materi, waktu, langkah, hasil akhir yang diharapkan dari siswa; 2) Eksplorasi. Pada tahap ini, siswa melakukan eksplorasi terhadap masalah/konsep yang akan dikaji; 3) Interpretasi. Hasil eksplorasi diinterpretasikan melalui kegiatan analisis, diskusi, tanya jawab; 4) Re-Kreasi. Pada tahap re-kreasi, siswa ditugaskan untuk menghasilkan sesuatu yang mencerminkan pemahamannya terhadap konsep/topik/masalah yang dikaji menurut kreasinya masing-masing. Evaluasi dilakukan selama proses pembelajaran dan akhir pembelajaran. Hasil dapat dideskripsikan dalam pembahasan

Nilai-nilai yang dikemas dalam cerita pada dasarnya mengandung nilai-nilai yang mencerminkan kehidupan kelompok masyarakat yang diceritakan atau asal cerita. Kehidupan yang dimaksud tentang hubungan sesama, aturan, kebiasaan, perilaku, ataupun mata pencaharian masyarakat yang diceritakan. Contoh dalam cerita “Pak Beluk” menggambarkan tokoh yang lebih suka menyendiri daripada berkeluarga, karena tidak mau menjadi beban atau dirugikan pasangannya. Nilai-nilai dalam cerita umumnya bersifat universal, artinya walaupun nilai-nilai itu menggambarkan masa lalu, tapi masih relevan dengan situasi saat ini.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Kemampuan bercerita siswa yang kurang terampil dikarenakan mereka tidak memiliki perbendaharaan cerita. Oleh sebab itu, kebiasaan membaca (membaca cerita) perlu dibudayakan agar wawasan tentang cerita rakyat mereka memadai. Kemampuan bercerita siswa secara umum belum memadai dan kurang memiliki keberanian untuk meng-explore kemampuannya. Permasalahan utama dapat dikemukakan adalah keberanian bercerita kurang mendukung untuk berekspresi di depan teman sekelas. Untuk memunculkan keberanian berkomunikasi, dapat dilakukan dengan menumbuhkan kepercayaan untuk berbicara di berbagai tempat dan untuk berbagai situasi. Ketika seseorang berbicara, pendengar diharapkan jangan memberi respons negatif. Apa pun yang disampaikan pembicara, pendengar harus menghargai dengan cara tetap mendengar dengan serius.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Kemampuan mengubah cerita dalam bentuk drama, puisi, atau gambar seri. Kegiatan menggambar tidak jauh berbeda dengan kegiatan mengekspresikan cerita secara verbal maupun non verbal. Kegiatan ini sangat dipengaruhi faktor bawaan dan lingkungan, jadi dapat dikatakan tidak semua orang memiliki keterampilan ini. Kenyataan ini dapat dilihat pada ketidakberhasilan siswa pada umumnya membuat re-kreasi gambar berseri dari cerita rakyat. Keterampilan mengubah suatu bentuk ke dalam bentuk lain memerlukan kompetensi yang optimal. Sebagai contoh, dapat dikemukakan mengubah cerita ke dalam bentuk gambar seri tanpa bakat menggambar siswa akan gagal mewakilkan cerita dalam bentuk gambar. Namun untuk mengubah ke dalam bentuk puisi maupun drama, kemampuan siswa dapat dikatakan tidak mengalami kendala. Siswa juga tidak mengalami kesulitan untuk melakukan skenario yang mereka buat berdasarkan cerita. (*)