Peran Substansi Kepala Sekolah untuk Meningkatkan Kinerja Guru Berkelanjutan

Oleh: Yogi Santosa, S.Pd.SD
Kepala SDN 2 Wanakarsa, Kec. Wanadadi, Kab. Banjarnegara

ERA globalisasi menuntut perubahan dalam segala bidang, seperti bidang ekonomi, politik, dan pendidikan. Khusus dalam bidang pendidikan, untuk menghadapi tantangan tersebut, pemerintah Indonesia terus berusaha meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia agar tercipta Sumber Daya Manusia yang siap bersaing dengan negara lain. Salah satu usaha yang dilakukan pemerintah adalah dengan meningkatkan kompetensi tenaga pendidik. Dengan meningkatnya kompetensi tenaga pendidik, diharapkan akan mampu meningkatkan kompetensi lulusan peserta didik.

Selamat Idulfitri 2024

Kepala sekolah sendiri adalah pemimpin pendidikan pada tingkat sekolah. Kepemimpinan pendidikan memerlukan perhatian utama, karena melalui kepemimpinan yang baik, diharapkan lahir tenaga-tenaga yang berkualitas dalam berbagai bidang, baik sebagai pemikir maupun pekerja. Jika tugas tanggung jawab ini dilaksanakan, maka kinerja guru dapat dengan baik dilaksanakan oleh guru.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam pembentukan sikap dasar peserta didik. Karena itu, perlu diciptakan iklim lingkungan pendidikan yang menyenangkan dan tertib di sekolah. Terciptanya kondisi semacam itu sangat tergantung kepada kemampuan kepala sekolah dalam menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Kepala sekolah yang memenuhi kriteria dan persyaratan suatu jabatan berarti berwenang atas jabatan atau tugas yang diberikan atau memenuhi persyaratan kompetensi.

Kompetensi adalah seperangkat kemampuan untuk melakukan jabatan, dan bukan semata-mata pengetahuan saja. Kompetensi menuntut kemampuan kognitif, kondisi afektif, nilai-nilai, dan keterampilan tertentu yang khas dan spesifik berkaitan dengan karakteristik jabatan atau tugas yang dilaksanakan. Dalam hal ini, keberhasilan kepala sekolah dalam memimpin sekolah akan tampak dalam apa yang dikerjakannya. Dengan demikian, kompetensi kepala sekolah adalah pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan seorang kepala sekolah dalam kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten yang memungkinkannya menjadi kompeten atau berkemampuan dalam mengambil keputusan tentang penyediaan, pemanfaatan dan peningkatan potensi sumber daya yang ada untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya.

Organisasi kerja sama adalah tujuan akhir dan setiap program pemberdayaan. Kepala Sekolah dapat dikatakan berhasil dari seberapa mampu ia menciptakan kerja sama di dalam organisasi pendidikan. Keberhasilan kepala sekolah dalam mendisiplinkan guru merupakan suatu keadaan yang tergabung dalam suatu organisasi pendidikan tunduk dan taat pada peraturan yang ada serta melaksanakan dengan senang hati. Guru yang menuruti semua peraturan karena takut akan dihukum mencerminkan disiplin negatif. Sebaliknya, kepatuhan guru pada peraturan karena sadar akan fungsi peraturan tersebut untuk mencapai keberhasilan adalah mencerminkan disiplin yang positif.

Kepala sekolah juga dituntut untuk mampu memotivasi guru. Terkait cara menumbuhkan motivasi kerja di lingkungan sekolah, menurut Magin (Depdiknas: 2008) terdapat 14 (empat belas) cara menumbuhkan motivasi kerja, yakni: (1) Tentukan tujuan bersama dengan jelas; (2) Perjelas keahlian dan tanggung jawab anggota; (3) Sediakan waktu untuk menentukan cara bekerja sama, (4) Hindari masalah yang bias diprediksi; (5) Gunakan konstitusi atau aturan tim yang telah disepakati bersama; (6) Ajarkan rekan baru satu tim; (7) Selalu bekerja sama; (8) Wujudkan gagasan menjadi kenyataan; (9) Aturlah perbedaan secara aktif (10) Perangi virus konflik; (11) Saling percaya; (12) Saling memberi penghargaan; (13) Evaluasilah tim secara teratur; (14) jangan menyerah.

Untuk mengetahui keberhasilan kinerja, perlu dilakukan evaluasi atau penilaian kinerja dengan berpedoman pada parameter dan indikator yang ditetapkan yang diukur secara efektif dan efisien seperti produktivitasnya, efektivitas menggunakan waktu, dana yang dipakai, serta bahan yang tidak terpakai. Sedangkan evaluasi kerja melalui perilaku dilakukan dengan cara membandingkan dan mengukur perilaku seseorang dengan teman sekerja atau mengamati tindakan seseorang dalam menjalankan perintah atau tugas yang diberikan, dan cara mengkomunikasikan tugas dan pekerjaan dengan orang lain. Penilaian kinerja individu sangat bermanfaat bagi dinamika pertumbuhan organisasi pendidikan secara keseluruhan. Melalui penilaian tersebut, maka dapat diketahui bagaimana kondisi guru dan aspek kinerja. (*)