Efektivitas TPS dalam Pembelajaran IPS

Oleh: Marhamah, S.Pd.
Guru SDN Lowa, Kec. Comal, Kab. Pemalang

SALAH satu muatan pelajaran yang dianggap membosankan bagi sebagian besar siswa adalah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Mindset tersebut terbentuk dengan sendirinya dan guru tidak bisa menyalahkan siswa, karena memang pada faktanya dalam muatan IPS banyak materi yang berupa hafalan. Bagi siswa yang memiliki kemampuan atau daya ingat yang kurang baik, tentu hal ini merupakan suatu hambatan. Banyak alternatif metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam menyajikan materi dalam muatan IPS. Pada kompetensi dasar Menganalisis Posisi dan Peran Indonesia di Lingkup ASEAN, guru kelas VI SDN Lowa, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share.

Selamat Idulfitri 2024

Think pair share (TPS) ini awal mulanya dikenalkan oleh Frank Lyman dan bertujuan agar diskusi mempunyai berbagai macam variasi yang tidak monoton dan bisa berkembang menjadi lebih kreatif. Lebih ringkasnya adalah agar siswa tidak bosan ketika diskusi berlangsung. Model pembelajaran TPS adalah salah satu model (tipe) pembelajaran yang memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi kepada orang lain. Model pembelajaran ini memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. Keunggulan teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa (Lie: 2004).

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Ada tiga tahapan dalam atau karakteristik dalam pembelajaran TPS. Seperti namanya yang terdiri tiga kata, yakni think atau berpikir secara mandiri, pair atau berpasangan, dan share  atau berbagi dalam segala hal, termasuk pengetahuan ke satu individu atau grup belajar.

Pertama adalah think. Pada sesi ini, guru menyampaikan sebuah pertanyaan atau materi ke seluruh siswa di kelas. Siswa mempunyai kesempatan 3 hingga 5 menit untuk bisa menyiapkan jawaban secara individu. Kekuatan pada sesi ini adalah siswa bisa mempunyai waktu untuk berpikir untuk menentukan jawaban secara mandiri.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Kemudian yang kedua adalah pair. Guru akan menginstruksikan kepada siswa untuk membuat grup belajar yang terdiri dari dua pasangan bebas, tapi lebih diutamakan teman satu bangku. Selanjutnya siswa akan melakukan diskusi dengan pasangan mengenai pertanyaan atau materi yang telah disampaikan guru. Pada proses diskusi, pasti akan terjadi penyatuan opini dan pendapat tentang pikiran mereka mengenai pertanyaan. Proses ini berjalan dalam waktu 6 hingga 8 menit.

Terakhir adalah share. Saat sesi ini, guru menginstruksikan siswa untuk mempresentasikan/membagikan hasil diskusi grup mengenai pertanyaan atau materi kepada teman satu kelas. Membagikan pikiran atau hasil tugas tersebut dilakukan di kelas agar setiap siswa bisa tahu dan akan terjadi sintesis. Tugas guru di sini adalah membimbing setiap jawaban yang dirasa kurang tepat. Sesi ini adalah langkah tuntas dari sesi di atas, karena sesi ini bisa membuat setiap grup belajar bisa lebih memahami setiap pendapat dari sebuah materi. Ini juga bisa mendorong lebih menguasai setiap apa yang dikatakan guru ketika meluruskan jawaban yang kurang tepat.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Model pembelajaran ini dipilih karena memiliki beberapa kelebihan antara lain: 1) memberi waktu lebih banyak pada siswa untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain; 2) kelompok lebih mudah dan cepat dibentuk; 3) siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok; 4) siswa memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa, sehingga ide yang ada menyebar; 5) memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan, karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan.

Selain kelebihan, TPS juga memiliki beberapa kelemahan. Namun, jika guru mampu memaksimalkan kelebihan yang dimiliki, model TPS ini dapat diterapkan secara maksimal dan siswa dapat mencapai ketuntasan belajar. (*)