Literasi Digital Tingkatkan Minat Baca Siswa

Oleh: Dedy Setiawan, S.Pd. SD
Guru SDN 01 Jrakah, Kec. Taman, Kab. Pemalang

MINAT baca masyarakat Indonesia terutama pelajar pada semua jenjang pendidikan, disadari atau tidak, masih tergolong sangat rendah. Permasalahan terbesar pada pembelajaran bahasa Indonesia di kelas VI SDN 01 Jrakah, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang adalah masih rendahnya minat baca siswa. Hal ini dibuktikan pada saat pembelajaran berlangsung ataupun ketika dilaksanakan penilaian harian, penilaian tengah semester, atau penilaian akhir semester, pada muatan Bahasa Indonesia, tingkat ketuntasan belajarnya masih sangat rendah.

Selamat Idulfitri 2024

Dari proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, penulis menyimpulkan bahwa penyebab rendahnya hasil belajar itu karena sebagian besar siswa enggan membaca terlebih dahulu soal Bahasa Indonesia yang sebagian besar menyajikan teks bacaan. Banyak siswa menjawab pertanyaan berdasarkan teks bacaan secara asal-asalan atau hanya membaca sekilas dan tidak memahami isinya. Sehingga pesan yang terkandung dalam bacaan tidak bisa ditangkap dengan baik. Kondisi seperti ini mendorong guru untuk mencari alternatif pembelajaran yang bisa menggugah minat siswa untuk belajar membaca, yaitu dengan memanfaatkan literasi digital.

Literasi digital merupakan pengetahuan dan kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital, seperti alat komunikasi, jaringan internet, dan lain sebagainya. Kecakapan ini mencakup kemampuan untuk menemukan, mengerjakan, mengevaluasi, menggunakan, membuat serta memanfaatkannya dengan bijak, cerdas, cermat, dan tepat sesuai kegunaannya, Devri Suherdi (2021). Ada 4 prinsip dasar dalam Literasi Digital menurut Yudha Pradana (2021), yaitu: 1) pemahaman, artinya masyarakat memiliki kemampuan untuk memahami informasi yang diberikan media, baik secara implisit ataupun eksplisit; 2) saling ketergantungan, artinya antara media yang satu dengan lainnya saling bergantung dan berhubungan. Media yang ada harus saling berdampingan serta melengkapi satu sama lain; 3) aktor sosial, artinya media saling berbagi pesan atau informasi kepada masyarakat, karena keberhasilan jangka panjang media ditentukan oleh pembagi dan penerima informasi; 4) kurasi, artinya masyarakat memiliki kemampuan untuk mengakses, memahami, dan menyimpan informasi untuk dibaca di lain hari.

Literasi digital memiliki beberapa manfaat bagi siswa, antara lain: 1) kegiatan mencari dan memahami informasi dapat menambah wawasan individu. Secara tidak langsung, siswa diharuskan membaca dan dari membaca itu siswa memperoleh informasi dan wawasan baru; 2) meningkatkan kemampuan individu untuk lebih kritis dalam berpikir serta memahami informasi; 3) menambah penguasaan ‘kosa kata’ individu dari berbagai informasi yang dibaca; 4) meningkatkan kemampuan verbal individu; 5) menambah kemampuan individu dalam membaca, merangkai kalimat, serta menulis informasi.

Contoh penerapan literasi digital di sekolah antara lain: a) anjuran membaca melalui aplikasi digital; b) guru dan siswa berkomunikasi menggunakan media sosial; c) belajar menulis melalui aplikasi digital; d) mengirim tugas sekolah lewat e-mail atau grup WhatsApp; dan e) pencarian sumber belajar melalui internet.

Penggunaan literasi digital dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya mengikuti tren perkembangan zaman, tetapi dipraktikkan langsung dalam pembelajaran. Buktinya, penilaian oleh guru dilakukan setelah siswa mengirim tugas lewat grup WhatsApp. Jadi, guru dapat mengetahui siswa yang memenuhi tugas dan siswa yang tidak memenuhi tugasnya tidak ada nilai dan diberi catatan tersendiri. Pada akhir pekan, nilai siswa di-share melalui grup belajar dan siswa dapat melihat nilainya, sehingga hal ini mendorong siswa yang belum aktif dan berusaha memperbaiki hasil belajarnya. Akhirnya, siswa yang mendapat nilai rendah atau tidak tercantum namanya dalam daftar, akan memperbaiki dan mengirim tugasnya. (*)