Mengenal Tokoh Wayang Asyik dengan Flash Card

Oleh: Istianah, S.Pd. SD
Guru SDN 01 Cangak, Kec. Bodeh, Kab. Pemalang

PELAJARAN Bahasa Jawa yang merupakan muatan lokal provinsi, tidak bisa dikesampingkan dari muatan pelajaran lain yang merupakan muatan pelajaran pokok. Meskipun Bahasa Jawa merupakan bahasa sehari-hari yang digunakan siswa, tetapi pada praktik pembelajaran muatan pelajaran ini sebagian siswa mengalami kesulitan. Di antara muatan yang lain, Bahasa Jawa memiliki nilai rata-rata kelas paling rendah di kelas 4 SDN 01 Cangak, Kecamatan Bodeh, kabupaten Pemalang, terutama ada kompetensi mengenal tokoh wayang. Banyak siswa yang tidak bisa membedakan tokoh wayang yang satu dengan tokoh wayang yang lain, meskipun anak sudah diperkenalkan sejak kelas 2. Untuk meningkatkan hasil belajar melalui pemahaman tokoh wayang, guru menggunakan media flash card.

Selamat Idulfitri 2024

Menurut Susilana dan Riyana (2009: 94), flash card merupakan media pembelajaran dalam bentuk kartu bergambar yang berukuran 25 x 30 cm. Gambar-gambar yang dibuat menggunakan tangan atau foto atau memanfaatkan gambar atau foto yang sudah ada yang ditempelkan pada lembar-lembar flash card. Gambar-gambar yang ada pada flash card merupakan rangkaian pesan yang disajikan dengan keterangan setiap gambar yang di cantumkan pada bagian belakang kartu. Media ini dibuat sendiri oleh guru dengan memanfaatkan bahan yang ada, berupa kertas karton yang ditempel gambar tokoh wayang pada bagian depan, dan nama tokoh di bagian belakang. Kertas tersebut dibuat dari berbagai macam warna untuk menarik antusiasme siswa.

Flash Card dipilih dalam menyajikan materi mengenal wayang karena guru melihat ada beberapa kelebihan yang dimiliki, antara lain: 1) Mudah dibawa dan tidak memerlukan tempat atau wadah yang besar. Guru dapat meletakkan media ini di mana saja tanpa kesulitan dan memakan tempat; 2) Praktis. Media flash card terbuat dari bahan yang mudah didapatkan di sekitar dan tidak mahal; 3) Gampang diingat. Siswa mudah mengingat tokoh-tokoh wayang tersebut karena bisa sering dilihat, meskipun di luar jam pelajaran muatan tersebut; dan 4) Menyenangkan. Karena bentuknya yang seperti kartu mainan anak-anak. Selain mempunyai kelebihan, flash card juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain: 1) Gambar hanya menekankan persepsi indra mata; 2) Gambar benda yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan pembelajaran; dan 3) Ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar.

Langkah pembelajaran dengan media flash card yaitu: 1) Kartu-kartu yang sudah disusun di pegang setinggi dada dan menghadap ke depan siswa; 2) Siswa mencabut satu persatu kartu tersebut setelah guru selesai menerangkan; 3) Siswa memberikan kartu-kartu tersebut kepada siswa yang duduk di dekat guru. Siswa diminta untuk mengamati kartu tersebut satu persatu, lalu teruskan kepada siswa yang lain sampai semua siswa kebagian untuk melihat kartu tersebut; 4) Jika sajian dengan cara permainan, kartu-kartu tersebut diletakkan di dalam sebuah kotak secara acak dan tidak perlu disusun, setelah itu guru menyiapkan siswa yang akan berlomba, misalnya carilah gambar tokoh pandawa, maka siswa berlari menghampiri kotak tersebut untuk mengambil kartu yang bergambar wayang yang dimaksud setelah sebelumnya disebutkan ciri-cirinya.

Praktik pembelajaran dengan flash card dapat dilakukan dalam kelompok kecil, tetapi tidak harus di dalam ruangan. Kegiatan ini dapat dilakukan di ruangan terbuka. Guru dapat mempraktikkan dengan siswa sambil bermain. Baik metode maupun media, pada penerapannya di dalam pembelajaran, pasti memiliki kelemahan di samping kelebihannya. Namun, sebagai guru, kita harus memaksimalkan kelebihan yang dimiliki untuk meminimalisir kelemahannya. Bagaimanapun, pengalaman belajar dengan praktik langsung dan bermain, akan memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan. Dengan demikian, tujuan pembelajaran akan mudah tercapai dan hasil belajar siswa meningkat. (*)