Model Inquiry dalam Pembelajaran IPA

Oleh: Dwi Fitriana
Guru Kelas SD Negeri Purborejo, Kec. Bansari Kab. Temanggung

PENDIDIKAN IPA merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar untuk mengungkap gejala-gejala alam dengan menerapkan langkah-langkah ilmiah serta untuk membentuk kepribadian atau tingkah laku peserta didik sehingga peserta didik dapat memahami proses IPA yang kemudian dapat dikembangkan di masyarakat. Pemberian pendidikan IPA di sekolah dasar bertujuan agar peserta didik paham dan menguasai konsep alam. Namun yang terjadi justru pembelajaran yang berpusat pada guru, bahkan terkadang terdapat kata, kalimat maupun sebuah istilah yang jarang didengar oleh peserta didik. Akibatnya peserta didik menjadi ngantuk, malas, tidak termotivasi, tidak semangat ketika belajar dan menganggap pelajaran IPA adalah pelajaran yang membosankan. Hal ini tentu saja menyebabkan hasil belajar peserta didik di bawah KKM.

Selamat Idulfitri 2024

Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas dan keaktifan peserta didik, sehingga ketuntasan belajar dapat tercapai. Model pembelajaran tersebut adalah model Inquiry.

Model Inquiry merupakan model pembelajaran dimana peserta didik dituntut untuk lebih aktif dalam proses penemuan, penempatan peserta didik lebih banyak belajar sendiri serta mengembangkan keaktifan dalam memecahkan masalah.

Wina Sanjaya (2006) menyatakan bahwa, tujuan model pembelajaran inquiry adalah membantu peserta didik untuk dapat mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan berfikir, dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu mereka. Tujuan model pembelajaran inquiry dalam mengembangkan kemampuan intelektual juga merupakan bagian dari proses pembentukan mental. Oleh sebab itu, dalam implementasi model pembelajaran inquiry peserta didik tidak hanya dituntut agar menguasai pelajaran, tapi juga bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimiliki.

Prosedur pembelajaran inquiry terdapat enam langkah, yaitu orientasi masalah, merumuskan masalah, membuat hipotesis, eksplorasi (mengumpulkan informasi atau data), menguji hipotesis dan membuat kesimpulan.

Kelebihan Model Pembelajaran Inquiry yaitu membantu menggunakan daya ingat peserta didik dan mentransfernya pada situasi-situasi belajar. Mendorong peserta didik untuk berfikir dan bekerja atas kemauan atau inisiatifnya sendiri. Mendorong peserta didik untuk berpikir secara inisiatif dan merumuskan hipotesisnya sendiri. Memberikan kepuasan yang bersifat intrinsik. Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang. Dapat membentuk dan mengembangkan self-concept pada diri setiap peserta didik. Memungkinkan peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar di luar sekolah, dan tidak hanya menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber belajar. Menghindarkan cara belajar tradisional (menghafal). Dapat melayani kebutuhan peserta didik yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Peserta didik dengan kemampuan belajar yang bagus tidak akan terhambat oleh peserta didik lain yang lemah dalam belajar.

Sedangkan kekurangan Model Pembelajaran Inquiry yaitu sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan peserta didik. Sulit untuk merencanakan pembelajaran karena terbentur dengan kebiasaan peserta didik dalam belajar. Terkadang dalam mengimplementasikannya, diperlukan waktu yang panjang, sehingga guru kerap kesulitan dalam menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan peserta didik dalam menguasai materi pelajaran, maka model pembelajaran inquiry akan sulit diimplementasikan. Memerlukan adanya perubahan kebiasaan cara belajar peserta didik yang menerima informasi dari guru apa adanya, menjadi belajar secara mandiri dan kelompok, dengan mencari dan mengolah informasi sendiri. Mengubah kebiasaan bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi kebiasaan yang telah dilakukan bertahun-tahun. Guru dituntut mengubah cara mengajar yang umumnya sebagai penyaji informasi, lalu menjadi fasilitator dan motivator. Hal tersebut tentunya tidak mudah dilakukan. Model pembelajaran inquiry dalam pelaksanaannya memerlukan penyediaan sumber belajar dan fasilitas yang memadai, tapi tidak selalu tersedia. Model pembelajaran inquiry tidak efisien, khususnya untuk mengajar peserta didik dalam jumlah besar, sedangkan guru terbatas.

Dengan menerapkan Model Inquiry di kelas 6, SD Negeri Purborejo Kec. Bansari Kab. Temanggung pada muatan pelajaran IPA terbukti dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik ditandai dengan dicapainya nilai sebagian besar di atas KKM. (*)