Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match pada Materi Mengenal Nama-nama Malaikat dan Tugasnya

Oleh: Zumaroh, S.Pd.I
Guru PAI SDN Karangrejo 1, Kec. Wonosalam, Kab. Demak

DALAM proses pembelajaran, terjadi interaksi antara guru dan siswa. Jika ada anggapan bahwa siswa dalam proses pembelajaran adalah sebagai obyek dalam menerima materi yang keberadaannya kurang dilibatkan, maka artinya kurang tepat. Seharusnya dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya sebagai obyek melainkan sebagai subyek, siswa harus aktif, kreatif dalam berinteraksi untuk mencapai tujuan dari pembelajaran yang telah ditentukan.

Selamat Idulfitri 2024

Gagne (2013: 55) menyatakan bahwa instruction is a seat of event that effect in such a way that learning is a facilitated. Oleh karena itu, menurut Gagne, mengajar atau teaching merupakan bagian dari pembelajaran (instruction), di mana peran guru lebih ditekankan pada cara merancang atau mengaransemen berbagai sumber serta fasilitas yang tersedia, untuk kemudian dimanfaatkan siswa dalam mempelajari sesuatu.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan oleh pendidik agar proses perolehan ilmu dapat terjadi. Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menjelaskan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa, guru, dan sumber belajar pada satu lingkungan belajar. Sehubungan dengan hal tersebut, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang mengamanatkan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa untuk berperan secara aktif.

Penggunaan model pembelajaran yang tepat untuk materi yang akan disampaikan, dapat memberi motivasi pada diri siswa pada saat menerima materi pelajaran. Siswa dengan sendirinya akan termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran secara aktif. Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah penulis yaitu SD Negeri Karangrejo 1, materi mengenal nama-nama malaikat dan tugasnya, untuk memotivasi siswa agar mengikuti proses pembelajaran secara aktif, maka dipilihlah model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match.

Menurut Suprijono, model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match adalah suatu model pembelajaran yang dilakukan dengan mencari pasangan melalui kartu-kartu. Di mana kartu tersebut berisi kartu pertanyaan dan kartu yang berisi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Langkah-langkah strategi Make a Match dimulai dengan mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Menurut Rusman (2011), ada beberapa langkah penerapan pembelajaran kooperatif strategi Make a Match, antara lain: (a) guru menyiapkan beberapa kartu yang berisikan beberapa konsep/topik yang cocok sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban; (b) guru membagikan kartu setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban; (c) guru meminta setiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang; (d) guru menyuruh siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya; (e) guru memberikan poin kepada siswa yang dapat mencocokkan kartu sebelum batas waktu yang ditentukan; (f) guru memberikan sanksi yang telah disepakati bersama jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya setelah batas waktu yang ditentukan; (g) setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa tidak mendapatkan kartu yang sama dengan sebelumnya; dan (h) guru bersama-sama siswa menyimpulkan pelajaran pada akhir pertemuan.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match, siswa lebih dapat meningkatkan aktivitas belajarnya. Pembelajaran berlangsung aktif dan menyenangkan, meningkatkan pemahaman murid terhadap materi yang dipelajari, dapat meningkatkan motivasi untuk belajar. (*)