Model Think Talk Write dengan Brainwriting untuk Tingkatkan Keterampilan Berpikir Reflektif

Oleh: Rina Puji Hastuti, S.Pd,SD
Guru SDN 14 Pelutan, Kec. Pemalang, Kab. Pemalang

PENDIDIKAN mencakup 3 hal, yakni mendidik, mengajar, dan melatih (Hangestiningsih, 2015). Ketiga kegiatan tersebut bertujuan untuk mentransfer nilai-nilai. Dalam pelaksanaannya, harus saling berjalan secara beriringan dan berkelanjutan yang sesuai dengan perkembangan dan lingkungan yang ada di sekitar. Sebagai pendidik akan menghadapi segala sesuatu mengenai perkembangan fisik, pikiran, keterampilan, sosial, perasaan dan sebagainya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pendidik harus dilakukan secara terus-menerus demi tercapainya tujuan pendidikan nasional agar mampu mempersiapkan sumber daya manusia yang dapat bersaing di era globalisasi.

Selamat Idulfitri 2024

Seorang pendidik diharapkan dapat mengembangkan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, nilai, dan sikap peserta didik. Model pembelajaran tematik akan mengembangkan kemampuan belajar dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sekaligus. Melalui pendekatan tematik, diharapkan akan muncul keterpaduan antar pengalaman sehari-hari dengan pengalaman yang dipelajari peserta didik. Pembelajaran tematik ini menggunakan pembelajaran yang memadukan beberapa mata pelajaran sekaligus, salah satunya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

IPA memiliki peran penting sebagai salah satu mata pelajaran pokok di sekolah dasar, karena peserta didik diberi kesempatan memupuk rasa ingin tahu secara ilmiah. IPA tidak selalu tentang kumpulan fakta, konsep, prinsip, dan teori saja tetapi juga mengenai cara kerja, cara berpikir, dan cara memecahkan masalah. Proses belajar IPA dapat mengembangkan ide atau kreativitas untuk memecahkan suatu masalah. Untuk melaksanakan hal tersebut, pendidik perlu memperbaiki gaya mengajar, agar peserta didik terbiasa dan bisa mengatasi suatu permasalahan yang diberikan.

Pada kenyataannya, yang terjadi di lapangan adalah kurangnya tingkat keterampilan berpikir reflektif pada saat mengikuti proses pembelajaran, khususnya pembelajaran IPA. Peserta didik masih kurang dalam berpikir reflektif atau berpikir secara luas saat menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Keterampilan berpikir reflektif pada proses pembelajaran juga kurang melibatkan interaksi dan aktivitas mental peserta didik dengan pendidik. Pendidik lebih berperan aktif dalam memberikan informasi kepada peserta didik, yang seharusnya di pembelajaran tematik ini peserta didik lebih berperan aktif.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Salah satu alternatif pada proses pembelajaran yang berpotensi dalam keterampilan berpikir reflektif peserta didik adalah model pembelajaran Think Talk Write (TTW) karena model pembelajaran ini memiliki tahapan think atau berpikir, di mana peserta didik membaca dan membuat catatan kecil tentang ide-ide yang terdapat dalam teks bacaan dan hal-hal yang belum dipahami. Tahap selanjutnya talk atau berbicara, pada tahap ini peserta didik bertukar pikiran atau pendapat dengan teman kelompoknya tentang apa yang belum dimengerti maupun apa yang dimengerti. Kemudian tahapan terakhir yaitu write atau menulis, pada tahap ini peserta didik menuliskan apa yang diperolehnya dari kegiatan tahap pertama dan kedua memadukan model pembelajaran TTW melalui penerapan metode brainwriting.

Brainwriting merupakan suatu metode yang diterapkan dalam kelompok untuk bertukar pikiran, menuntut anggota kelompok untuk berbagi ide, dan mengembangkan ide-ide secara tertulis. TTW merupakan model pembelajaran yang didasarkan pada pemahaman bahwa belajar adalah sebuah perilaku sosial. Model ini pada dasarnya dibangun melalui berpikir, berbicara, dan menulis. Alur kemajuan model pembelajaran TTW dimulai dari keterlibatan peserta didik dalam berpikir atau berdialog dengan dirinya sendiri setelah proses membaca. Selanjutnya, berbicara dan membagi ide (sharing) dengan temannya sebelum menulis.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Model ini merupakan model yang dapat melatih kemampuan berpikir dan berbicara peserta didik. Sedangkan metode brainwriting adalah metode yang mampu membantu peserta didik menciptakan berbagai ide lebih banyak, mengurangi konflik antar anggota saat menyampaikan pendapat, membantu peserta didik yang memiliki kepercayaan diri rendah, meminimalkan kecemasan dan ketakutan, serta mampu dikolaborasikan dengan teknik kreativitas lainnya. Sementara itu, keterampilan berpikir reflektif adalah proses berpikir ke arah yang lebih luas, menuntut peserta didik untuk mampu menganalisis suatu masalah, menemukan penyelesaian masalah, serta memberikan ide-ide baru yang dapat memberikan gambaran baru atas pemecahan suatu masalah. (*)