Gus Yasin Minta Alumni Pondok Pesantren Tidak Enggan Mengajar Agama di Level Terendah

  • Bagikan
PAPARAN: Wakil Gubernur Jawa Tengah KH Taj Yasin Maimoen dan Ketua RMI PWNU Jateng KH Nur Machin Chudlori saat mengisi Halaqoh Paguyuban Mutakhorijin di Gunungpati Semarang pada Senin, 15/08/22. (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Alumni pondok pesantren diminta Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen bisa aktif mengajar agama Islam di tengah masyarakat. Dirinya menyayangkan apabila dijumpai lulusan pondok pesantren yang enggan memberikan ilmu agamanya di masyarakat, karena merasa mengajar di level yang rendah.

“Kalau di masyarakat kita baru belajarnya alif ba ta (huruf hijaiyyah), ya diajar saja. Mungkin nantinya yang diajar mau meneruskan ke pondok pesantren. Setelah empat-lima tahun pulang (selesai belajar di pondok), pasti kembali ke guru awalnya,” kata Wagub saat hadir dalam Halaqoh yang diselenggarakan Paguyuban Mutakhorijin di Gunungpati Semarang, Senin (15/08).

Memberikan ilmu agama di level terendah, lanjut Wagub, termasuk hal yang mulia. Para kyai besar pun, dulu pasti pernah mengajar muridnya dari tahapan mengenalkan huruf hijaiyyah. Ditandaskannya, mendapatkan ilmu perlu melalui sebuah proses. Tidak ada orang yang memiliki banyak ilmu, tanpa melewati proses level terendah.

“Kalau para kyai harus mengajar dari level terendah lagi, nanti guru di pondok tidak ada. Sehingga, perlu dibagi,” ujarnya.

Para alumni yang enggan mengajar agama di level terendah, menurut Wagub perlu belajar dari Jamaludin Muhammad bin Abdulloh bin Malik. Ia merupakan ulama kenamaan yang menyusun kitab Alfiyah Ibnu Malik.

Baca juga:  20 Daerah Level 3, Taj Yasin Maimoen Meminta Santri Dukung Vaksinasi

Jamaludin Muhammad bin Abdulloh bin Malik pernah mengajar kitab Alfiyah hingga selesai, tetapi tidak ada yang mendengarkan. Tidak hanya sekali, tetapi beberapa kali. Namun kondisi itu jauh berbeda dengan sekarang. Kitab Alfiyah, saat ini banyak diajarkan di pondok pesantren.

Sementara itu, Ketua RMI PWNU Jateng KH Nur Machin Chudlori menyampaikan bahwa silaturrahmi alumni santri sangat penting. Sebab, dengan begitu ruhul jihad akan kuat.

“Ingat-ingat kalau kita itu alumni pesantren,” ujarnya.

Menurut Gus Machin, sapaan akrabnya, alumni pesantren itu tidak hanya membawa ilmu. Tapi tindakan dan ucapan harus dibawa dari kiainya. Tak hanya itu, alumni juga harus mengabdikan dirinya di masyarakat, salah satunya dengan mengajar.

Barakatuhu bil khidmah. khidmah ke masyarakat bisa juga di madrasah-madrasah diniyah,” tuturnya.

Ia mengatakan bahwa Madin harus mengedepankan akhlak, bukan hanya pelajaran akhlak. Karena itu, alumni juga didorong ikut membimbing anak-anak Madin agar suka ngaji.

Lebih lanjut Gus Machin menyampaikan, khidmah kepada masyarakat merupakan khidmah kepada almamater sebagai wujud terima kasih. Adapun soal ekonomi, ia menyarankan agar alumni mempunyai sifat tawakkal.

“Jadi urusan Allah. kiai kita menjamin. Makanya tawakkal yang serius,” ujarnya. (hms/gih/mg2)

  • Bagikan