300 Kasus Stunting Sembuh

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam (LU’LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng –  Kasus stunting kini menjadi perhatian penuh oleh pemerintah di beberapa wilayah tidak terkecuali Kota Semarang. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang pada Juli 2022, angka stunting di Kota Semarang mengalami penurunan, yang awalnya mencapai 1.500, saat ini tersisa sekitar 1.200 anak.

”Alhamdulillah data kita di bulan juli itu terjadi penurunan yang tadinya ada di 1500 atau presentasenya 1,5, sekarang ada di 1200, kurang lebih di presentase 1,3%. Kami terus berusaha anggaran yang di opd sudah kita lakukan penanganan di awal tahun,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam belum lama ini.

Stunting merupakan suatu kondisi dimana anak gagal tumbuh akibat kekurangan gizi di seribu hari pertama kehidupannya. Secara umum, stunting disebabkan karena kurangnya akses terhadap makanan bergizi, namun, tidak menutup kemungkinan adanya faktor lain yang menyebabkan stunting.

Hakam mengungkap, apa saja yang menjadi penyebab stunting di Kota Semarang, di antaranya adalah pendapatan orang tua yang masih rendah yang menyebabkan kesulitan akses untuk membeli makanan bergizi, kurangnya perhatian orang tua terhadap keseharian anak, kelainan genetic dan pernikahan dini.

Baca juga:  Unwahas Siap Cetak Tenaga Kerja Berkualitas

“Pernikahan dini sama pernikahan siri itu juga sekarang menjadi sesuatu yang menarik. Karena apa itu menjadi pencetus juga. Karena dua-duanya itu, antara pernikahan dini dan pernikahan siri ini pada saat hamil itu biasanya ditutup-tutupi, nggak mau pergi ke Puskesmas atau ke Faskes untuk periksa ANC (Antenatal Care),” ungkapnya.

Melanjutkan upaya menurunkan angka stunting, Pemerintah Kota Semarang berusaha mengoptimalkan strategi melalui Sibening (Semua Ikut Bergerak Bersama Tangani Stunting). Hakam mengaku, pihaknya turut mengemukakan dukungannya dalam menurunkan angka stunting melalui Sibening.

“Nah ini dilanjutkan dengan program Sibening, Semua Ikut Bergerak Bersama Tangani Stunting. Jadi misalnya ada orang tua asuh, ada CSR, ada donatur, memberikan bantuannya. Itu nanti diserahkan ke teman-teman ataukah RT/RW atau Dasawisma. Nah nanti teman-teman di Puskesmas, memantau ngasih menu, pagi apa, makan siang dapat apa, sore dapatnya apa,” terangnya.

Baca juga:  USM Karate Championship Resmi Dibuka

Hakam menjelaskan, melalui Sibening memfasilitasi orang tua asuh untuk memberikan bantuan berupa makanan bergizi tiga kali sehari kepada anak-anak yang termasuk dalam kategori stunting. Adapun Puskesmas akan membantu memantau kandungan gizi dalam setiap makanan yang diberikan kepada anak penyandang stunting.

Di samping berfokus pada anak penyandang stunting, Hakam juga menekankan pentingnya memberikan perhatian khusus kepada calon stunting. Khususnya ibu hamil yang KEK (Kekurangan Energi Kronis) dan Anemia.

“Karena ini, kita kan juga harus mengantisipasi ni, calon stunting. Bumil yang KEK dan anemia itu juga harus jadi perhatian juga. Kalau bumil KEK dan anemia itu dibiarkan, itu pasti akan menambah stunting baru. Yang ini sudah lulus, tapi ada tambahan baru. Nah ini yang harus kita cegah bersama-sama,” ujarnya.

Disisi lain, Camat Semarang Utara Margo Haryadi mendukung adanya program edukasi dari pemerintah kota terkait kasus stunting. Pasalnya, di wilayahnya kasus stunting berada di angka tertinggi di Kota Semarang. “Sejauh ini rata-rata anak yang terkena stunting kebanyakan umur 2 tahun,” katanya.

Baca juga:  Diskominfo Kota Semarang Imbau Masyarakat Waspadai Hack

Margo merinci, dari sembilan kelurahan di Kecamatan Semarang Utara, ada dua kelurahan yang mempunyai kasus tertinggi, yaitu Kelurahan Bandarharjo dan Kelurahan Tanjung Mas.

“Total di Semarang Utara ada 211 kasus stunting. Kelurahan yang punya kasus tertinggi ada di Kelurahan Bandarharjo, yakni sebanyak 75 sedangkan Tanjung Mas sebanyak 87 kasus. Kemudian, Kelurahan Bulu Lor ada 2 kasus, Dadapsari 16, Kuningan 23, Panggung Kidul 5, Purwosari 3, Plombokan 0 dan Panggung Lor 0,” rincinya.

Kemudian, terkait dengan langkah agar angka stunting di Semarang Utara cepat turun, pihaknya menyebut telah memberikan fasilitas edukasi di dua puskesmas Semarang Utara. Tak hanya memberikan edukasi, ia pun memiliki progam Bapak Asuh untuk memberikan makanan bergizi kebeberapa anak yang menderita stunting. (luk/gih)