Perlu Pembenahan di Dunia Pendidikan

  • Bagikan
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (ISTIMEWA/JOGLO JOGJA )

SEMARANG, Joglo Jateng – Pandemi Covid-19 memberi pembelajaran penting pada sektor pendidikan. Salah satunya terkait learning loss yang menjadi titik persoalan timbulnya kekhawatiran akan tergerusnya karakter peserta didik. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu adanya pembenahan pada periode pemulihan dari pandemi.

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menjelaskan, perubahan pola pembelajaran menjadi faktor yang turut mempengaruhi perilaku para siswa. Pada pola tersebut, terdapat tiga tugas yang telah ditekankan. Yakni meliputi perumusan kurikulum adaptif, kompetensi guru dan infrastruktur pembelajaran khususnya jaringan internet.

Menurutnya, pembelajaran yang selama ini menggunakan kurikulum yang menekankan pada kompetensi siswa di ruang kelas harus berubah. Penggunaan kurikulum itu dengan pola pembelajaran jarak jauh yang didampingi orang tua.

“Akibatnya, para guru kewalahan memikirkan pola belajar yang efektif. Sehingga solusi pemberian tugas pada naradidik dengan tanggung jawab diberikan kepada orang tua,” ungkapnya melalui keterangan tertulis yang diterima di Semarang, Rabu (17/8).

Dengan berbagai dampak pandemi yang dihadapi orang tua, lanjutnya, kegiatan belajar jadi terabaikan. Seperti, sebagian dilaksanakan dengan baik, beberapa memilih ‘pasrah’ pada situasi. Alhasil, pola belajar hanya berorientasi pada penyelesaian tugas. Tidak menyentuh seluruh diri anak sebagaimana pembelajaran di dalam kelas.

Oleh karenanya, Rerie, sapaannya mengatakan, pembenahan perlu dilakukan dalam periode pemulihan dari pandemi. Yakni pembaruan filosofi pendidikan nasional. Dari filosofi pendidikan, kurikulum disiapkan dengan mempertimbangkan situasi normal maupun situasi luar biasa.

“Kompetensi guru perlu ditingkatkan. Supaya mampu merumuskan materi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan naradidik dan peremajaan infrastruktur sebagai sarana pendukung pembelajaran,” paparnya.

Baca juga:  Percepatan Vaksinasi Terukur Tingkatkan Imunitas

Pendidik, lanjutnya, perlu meletakkan pemahaman tentang sekolah sebagai entitas pembelajaran yang mengasah kemampuan kognisi, emosi, sosio-spiritual dan motorik siswa. “Belajar mesti menjadi kegiatan yang menyenangkan dengan berpijak pada nilai-nilai kebudayaan dan kebangsaan,” jelas Rerie.

Dunia berubah, pola pembelajaran berubah begitupun pola asuh orang tua dan pola didik guru mesti berubah. Maraknya kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungan pendidikan menunjukkan ketimpangan pola didik para guru terhadap naradidik.

Selama ini, Rerie menuturkan, dunia pendidikan hanya berkutat dengan pola belajar. Padahal, diperlukan juga untuk memastikan keamanan dan kenyamanan pelajar (student safety). Kemudian pendidikan lanjutan bagi para guru, pola pergaulan naradidik (student engagement), dan ruang virtual (virtual spaces) baik guru maupun pelajar.

Lebih jauh, menurutnya, faktor-faktor ini mesti diperhatikan secara menyeluruh oleh seluruh elemen pendukung pembelajaran. Baik pemerintah, sekolah, orang tua, dan pelajar.

Selain itu, tambahnya, pemerintah bertugas merumuskan kurikulum pembelajaran yang benar-benar menghadirkan pola belajar yang inklusif, komprehensif dan efektif. Yaitu menciptakan ruang yang memungkinkan guru dan pelajar saling menghargai.

Kini, lanjutnya, hadirnya UU TPKS menjadi perisai untuk melindungi perempuan dan anak dari kekerasan yang mungkin terjadi. “Pada prinsipnya, sekolah mesti menjadi rumah yang aman dan nyaman tempat naradidik belajar, bermain, berbagi dan bertumbuh bersama. Tugas kita mewujudkannya demi masa depan yang gemilang,” ujarnya. (ziz/gih)

  • Bagikan